Ujian Kepemimpinan, Berkaca Pada Era SBY - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Rudi Fitrianto

Pengamat Kebijakan Publik, Politik dan Hukum
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 12 Mei 2020 07:16 WIB
  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Ujian Kepemimpinan, Berkaca Pada Era SBY

    Dibaca : 1.563 kali

    Sesungguhnya pemimpin atau kepemimpinan itu adalah persoalan kodrati setiap manusia. Kalian semua adalah pemimpin dan kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya, begitulah kira – kira sabda Nabi Muhammad saw. 

    Setiap pemimpin ada masanya, setiap pemimpin juga punya tantanganya masing–masing, adagium tersebut sering kita dengar dalam diskursus tentang kepemimpinan. Kalimat tersebut memang benar adanya. Indonesia telah membuktikan bahwa negara kita kini bisa berdiri kokoh, dan dihargai oleh bangsa–bangsa sedunia, karena hasil perjuangan dan pemikiran besar serta jasa–jasa pemimpin kita dulu dan sekarang ini.

    Berbagai prestasi pernah Indonesia raih selama perjalanan sejarahnya. Walaupun kita juga harus menyadari tugas dan tantangan untuk membawa Indonesia menjadi negara yang aman, adil, dan sejahtera terus diperjuangkan oleh para pemimpin kita dari masa ke masa.

    Pemimpin terus datang silih berganti, dengan sejarah keberhasilan, tantangan dan kesuksesanya masing - masing. Untuk menjadi seorang pemimpin di Indonesia juga tidak mudah, dengan wilayahnya yang luas dari sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote. Ditambah lagi negara kita juga multi etnis dan religius, hal itulah yang menjadi warna dan ciri khas tersendiri diantara bangsa lain di dunia. Berbagai peristiwa telah terjadi dinegara kita tercinta dan menjadi kenangan dan pembelajaran tersendiri untuk pemimpin saat ini dan masa depan agar bisa lebih baik.

    Seperti halnya dalam sekolah formal pada umumnya, kualitas kepemimpinan seorang pemimpin dapat dinilai dan diukur dengan berbagai macam cara, salah satunya ketika yang bersangkutan tengah mengalami masa-masa sulit dan tidak mudah, serta harus membawa anggota timnya beserta anak buahnya untuk dapat keluar dari masa-masa krisis tersebut dengan baik. Ada berbagai kisah menarik dalam dunia politik dan kepemimpinan yang terjadi di belahan dunia, tetapi juga tidak kalah menariknya ujian kepemimpinan bagi pemimpin di negara kita tercinta Indonesia.

    Tsunami Aceh

    Berbagai peristiwa juga berhasil Indonesia lewati dengan baik dan selamat. Sebut saja bencana tersebesar di awal abad ke 20, terjadi diujung Indonesia yang merenggut jutaan nyawa. Pada waktu itu Indonesia baru saja selesai melaksanakan perhelatan politik nasional yang mengantarkan Susilo Bambang Yudhoyono dan Muhammad Jusuf Kalla menjadi Presiden dan wakil presiden Republik Indonesia periode 2004–2009. Pada saat tanggal 26 Desember 2004 Presiden SBY dan Ibu Ani Yudhoyono tengah berada di Nabire Papua untuk memberikan bantuan kepada korban gempa bumi.

    Mendengar bencana tsunami melanda Aceh, SBY dan rombongan langsung terbang menuju ujung barat Indonesia untuk melihat langsung dampak terjangan bencana terbesar di era modern kala itu. Dalam menangani krisis hal yang sangat penting dalam diri seorang pemimpin adalah kemampuan untuk berpikir diluar kelaziman --- think outside the box. Dalam situasi seperti itu berbagai seperangkat aturan atau hukum biasanya tidak berlaku lagi dan dinomor duakan, yang utama adalah penyelamatan orang yang masih hidup dan kelangsungan hidup keluarganya, serta menyelamatkan segala sesuatu yang bisa diselamatkan untuk kehidupan masyarakat pasca bencana.

    Beberapa kebijakan pemerintah saat itu yang dijalankan dinilai kurang lazim seperti kebijakan Open Door Policy dan Open Sky Policy,  diambil oleh Pemerintah Indonesia untuk membantu pemulihan daerah Aceh dan Nias serta juga untuk membantu negara–negara lain di Samudera India yang terkena bencana serupa. Sebagai konsekuensi kebijakan baru tersebut,saat itu Aceh terbuka untuk segala kendaraan baik darat, laut, dan udara yang membawa logistik bantuan yang datang dari dalam maupun luar negeri.

    Kebijakan tersebut juga berlaku juga untuk kalangan militer maupun LSM internasional (NGO) yang bekerja dalam misi kemanusiaan darimanapun mereka berasal bisa masuk Aceh tanpa Visa.

    Hal Ini tentunya membawa berbagai macam konsekuensi dan perdebatan, semua itu dijalankan karena hasil dari kematangan berpikir pemerintah.  Berdasarkan trust yang begitu tinggi kepada mereka untuk bisa keluar masuk teritorial Indonesia dengan dasar membantu dan misi kemanusiaan, walaupun pada saat itu para pengamat dan politisi juga menentang, karena mereka menilai Aceh dalam situasi seperti itu akan menjadi mencekam jika militer dan orang asing keluar masuk tanpa ijin. Mereka takut relawan dan para miiter dari luar negeri akan membawa misi lain selain kemanusian.

    Saat itu Aceh memang dalam keadaan Darurat Sipil, karena masih adanya pertentangan antara Pemerintah Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

    Berbagai kebijakan terus dijalankan oleh pemerintah Indonesia kala itu untuk proses pembangunan kembali Aceh dan Nias, dan dengan kerja keras serta optimisme yang dilakukan oleh semua pihak, dan ridho Tuhan YME, Allah SWT, Aceh kini kembali normal dan kesepakatan damaipun terjalin antara GAM dan Pemerintah Indonesia, dengan poltical will yang kuat dari Presiden SBY untuk membangun kembali harmoni dan perdamaian yang lama dicita–citakan diserambi mekah akhirnya terwujud.

    Penanganan tsunami Aceh kala itu juga mendapatkan apresiasi oleh dunia Internasional, bahkan Presiden SBY juga mendapatkan penghargaan dari PBB yang didedikasikan untuk seluruh masyarakat Indonesia.

    Pendemi Covid – 19

    Indonesia saat ini tengah menghadapi krisis yang luar biasa akibat terjangan pendemi global, Covid–19. Virus ini muncul pertama kali menurut beberapa sumber berasal dari kota Wuhan di Tiongkok, konon pendemi ini berasal dari dalam racun kekelawar yang banyak dikonsumsi menjadi berbagai menu olahan makanan di sana, kemudian menyebar dengan begitu cepat melalui kontak langsung manusia, berpindah dari kota satu ke kota yang lain, dari negara satu ke negara yang lain.

    Puncak virus ini mencuat dan tersorot oleh media masa Indonesia sekitar bulan Maret 2020. Seperti kita ketahui bersama Covid–19 telah memakan jutaan jiwa masyarakat dunia, sampai saat ini vaksin untuk virus tersebut juga belum ditemukan. Belum ditemukanya penangkal pendemi ini bukan berarti manusia harus pesimis dan menyerah begitu saja.

    Berita terakhir yang dilansir oleh The Washington Post beberapa kepala negara bulan depan akan melaksanakan konferensi secara virtual dengan penggalangan dana untuk mendorong riset penemuan vaksin virus korona. Namun sangat disayangkan Trump selaku Presiden Amerika Serikat menolak untuk bergabung dalam momentum berharga tersebut. Beberapa Kepala Negara yang akan bergabung dalam konferensi virtual tersebut antara lain; Angela Merkel (Jerman), Emmanuel Marcon (Prancis), Boris Johnson (Inggris), Shinzo Abe (Jepang), disamping itu juga ada pemimpin Israel, Benjamin Netanyahu dan Turki, Presiden Tayyip Erdogan. 

    Pemerintah Indonesia saat ini telah mengambil berbagai kebijakan untuk menyelamatkan warga negaranya dari terjangan hebat virus korona. Dampak dari terjangan pendemi tersebut sangat dahsyat tidak hanya jiwa manusia yang terancam tetapi sosial, politik, dan ekonomi juga tergoncang.

    Presiden Jokowi sebagai Kepala Negara dan Pemerintahan juga tidak tinggal diam melihat situasi seperti sekarang ini, melalui berbagai kementrian terkait telah mengambil kebijakan untuk menolong masyarakat Indonesia yang terdampak khususnya mereka yang berekonomi lemah. Sebut saja, pemerintah telah memberikan relaksasi kridit, diskon pembayaran bagi pelanggan listrik dengan syarat tertentu, Program BLT, dan sebagainya.

    Walaupun dalam prakteknya berbagai kebijakan tersebut eksekusinya di tingkat bawah dirasakan oleh masyarakat belum sempurna, sebut saja masih banyak masyarakat miskin terdampak yang saat ini banyak yang belum mendapatkan bantuan berupa BLT atau lainnya. Faktor tersebut diakibatkan pendataan masyarakat miskin yang belumlah valid, dan pendataanya atas dasar like and dislike. Hal tersebut tentunya tidak baik apabila sebuah kebijakan dilaksankan dan disalurkan atas dasar like and dislike karena menyangkut hajat hidup masyarakat saat ini.

    Selain itu masyarakat menilai saat ini Pemerintah juga perlu memperbaiki cara komunikasi dan kordinasi, karena masih banyaknya kebijakan yang tumpang tindih,antara satu kementrian dengan kementrian yang lain, pernyataan pejabat satu dengan pejabat yang lain belum satu suara, dan belum satu komando. Sekali lagi faktor Kepemimpinan sangatah penting, tidak kalah penting adalah komunikasi antara anggota tim agar gerak laju "perahu" bisa sukses dengan baik menuju tujuan.

    Dulu kita juga ingat setelah badai tsunami 2004 terjadi, krisis ekonomi hebat juga menerjang Indonesia tahun 2008. Setelah kita sukses dalam penanganan kedua tragedi tersebut, Indonesia dihadapkan lagi oleh tantangan tahun 2012 yang tidak kalah besar, yakni gempuran virus yang tergolong baru dalam dunia Kedokteran, yakni virus flu burung. Fenomena ini juga dirasakan oleh negara–negara lain didunia, virus tersebut konon berasal dari unggas ternak yang banyak dipelihara oleh masyarakat.

    Singkat cerita Indonesia kala itu dengan cepat mengeluarkan berbagai instrumen peraturan dan menjadikan fenomena ini dinaikan statusnya menjadi bencana nasional. Hal ini tentunya agar dapat memudahkan pemerintah melakukan berbagai kebijakan strategis untuk penanganan virus flu burung, dan berkat kerja keras semua pihak dan instruksi jelas serta tegas Presiden Yudhoyono fenomena tersebut dapat diakhiri dengan baik dan penyebaran virus tersebut juga dapat dihentikan.

    Melalui tulisan ini, penulis tidak ingin membandingan antara pemimpin dan cara memimpin satu dengan yang lain, tetapi hanya ingin menyampaikan dan berbagi optimisme bahwa perjalanan sejarah bangsa telah membuktikan, negara Indonesia tetap kuat dan berdiri kokoh, dengan berbagai macam gempuran dan cobaan yang pernah dilaluinya.

    Dengan optimisme, seorang pemimpin yang dapat memimpin dan memberikan direction secara langsung untuk penanganan dalam masa–masa krisis seperti sekarang ini, kita yakin bangsa Indonesia akan segera bisa keluar dari kegelapan dan ketakutan, menuju cahaya terang di masa depan. Hal ini tentunya tidak bisa dilakukan oleh presiden seorang diri, pelu kesadaran kolektif dari masyarakat untuk bersama–sama mempunyai tekad membaja memutus mata rantai Covid-19. Tetaplah dirumah dan patuhi segala himbauan pemerintah.

    Begitupula sebaliknya, pemerintah perlu dengan cepat dan tepat mendata ulang data orang–orang yang seharusnya mendapatkan bantuan tersebut agar tersalurkan kepada yang berhak. Selain hal tersebut, pemerintah juga seharusnya segera membenahi cara kordinasi dan komunikasi antara pejabat satu dengan yang lain, agar tidak membingungkan rakyat yang saat ini perlu informasi, dan kebijakan pemerintah yang selaras dan jelas antara satu dengan yang lain. Tidak kalah penting dari faktor Pemimpin dan Kepemimpinan diatas segalanya dimasa–masa krisis  ialah Ridho dari Tuhan YME, Allah SWT. ****


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.