Wisata Ziarah atau Hanya Sekadar Rekreasi - Analisa - www.indonesiana.id
x

Sepanjang jalan menuju makam kyai raden santri yang di padati dengan aneka macam toko oleh-oleh

KHOIRUNNISA RIZKI S S

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 21 Mei 2020

Jumat, 22 Mei 2020 06:02 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Wisata Ziarah atau Hanya Sekadar Rekreasi

    Dibaca : 267 kali

    Berbicara soal liburan pastinya semua orang ingin berlibur ke sebuah destinasi yang diinginkan. Liburan terbagi menjadi aneka ragam, mulai dari yang liburan untuk berwisata alam hingga liburan yang untuk berwisata religi.   

    Wisata religi atau wisata ziarah kini semakin diminati kalangan masyarakat. Khususnya di Negara Indonesia dengan mayoritas penduduknya ialah beragama muslim. Berdasarkan penelitian,  dalam kurun waktu lima  tahun terakhir mencapai kenaikan hingga 165%  atas perjalanan wisata  yang didasarkan pada keyakinan diri atau wisata religi. Berdasarkan data Organisasi Turis Dunia (UNWTO) ada sekitar 330 juta wisatawan global atau 30 persen dari total keseluruhan wisatawan global melakukan kunjungan situs-situs religi di dunia. Baik berdasarkan motif spiritual ataupun kognitif. Motif spiritual ialah  dengan adanya tindakan melakukan ibadah atau ritual untuk mendapatkan ketenangan (spiritualitas diri). Sedangkan motif kognitif dilandasi oleh alasan untuk mendapat pengalaman saja.

    Dari banyak keanekaragaman wisata di Indonesia, ada beberapa potensi yang dapat digali, diperkuat dan di optimalkan salah satunya yaitu wisata ziarah atau wisata religi. Indonesia berpeluang meningkatkan pendapatan pariwisata lewat wisata ziarah atau wisata religi itu. Di karenakan Indonesia juga memiliki banyak tempat dengan makanan halal yang menjadi daya tarik bagi wisatawan negara-negara islam atau penduduk muslim.

    Kini wisata ziarah atau wisata religi telah menjadi tren di kalangan masyarakat. Akan tetapi tren tersebut mengalami perubahan paradigma pariwisata dari “sun, sand and sea” menjadi “serenity, sustainability and spirituality”. Hal ini terbukti dengan membanjirnya para wisatawan religi seperti  di makam-makam para ulama ataupun makam para walisongo. Namun kedatangan para wisatawan itu tak hanya dilatar belakangi oleh niat untuk pergi berziarah tetapi ada pula motivasi ingin berwisata atau hanya sekadar pengalaman wisata religi. Hal tersebut dikarenakan adanya motivasi wisatawan religi yang juga memiliki keinginan untuk melakukan aktivitas wisata non-religi seperti berjalan-jalan ke tempat wisata, berbelanja dan menikmati kuliner khas suatu Negara (Albayrak dkk, 2018:2).

    Wisata religi berkembang di masyarakat sedikit banyak memiliki wisata dalam arti “wisata hiburan”. Hal  ini bisa kita jumpai di sejumlah wisata religi yang juga tersedia wisata belanja atau wisata kuliner yang sudah akrab dengan lokasi wisata religi, salah satunya yaitu di tempat wisata religi pada  Makam Kyai Raden Santri Desa Gunungpring, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Megelang atau yang juga disebut Makam Aulia Gunungpring. Para wisatawan bisa berbelanja aneka souvenir atau oleh-oleh di pusat perbelanjaan yang ada di kiri dan kanan anak tangga menuju Makam Kyai Raden Santri tersebut.

    Sejatinya wisata ziarah dan wisata religi menurut Albayrak dkk (2018:2)  itu diidentifikasikan sebagai sebuah kegiatan wisata yang sama, tetapi menyatakan bahwa keduanya memiliki perbedaan aktivitas. Dalam melaksanakan aktivitas wisata religi, wisatawan tidak harus memiliki keterikatan secara langsung dengan agama yang mereka percayai , bahkan orang yang tidak memiliki agama sekalipun dapat melakukan wisata religi dengan mengunjungi objek wisata religi.

    Sebaliknya, wisata ziarah lebih menekankan terhadap adanya ritual keagamaan yang harus dilakukan oleh wisatawan yang melakukan ziarah ke suatu tempat yang dianggap suci. Realitas wisata religi yang ada tentu mengandung sisi positif  dan negatif, sehingga kita yang harus lebih bijak menghadapinya. Tujuan wisata religi yang sejatinya adalah mentadaburi perjuangan para ulama atau para wali dalam menyebarkan agama tentu harus jadi prioritas utama dalam sebuah perjalanan wisata religi.

    Tetapi tak ada salahnya juga jika wisata ziarah dibarengi dengan melakukan wisata hiburan atau sering disebut rekreasi, hal ini tidak dapat dipungkiri karena merupakan rasionalitas dalam berwisata.

    Dalam melakukan suatu kunjungan, wisatawan  berkunjung ke suatu destinasi wisata tidak hanya dilihat dari motivasinya saja, melainkan juga dari aktivitas wisatawan dalam melakukan wisata.  

    Adapun jenis wisatawan yang berkunjung terbagi kedalam tipe wisatawan existensial dan wisatawan recreational.Wisatawan existensial merupakan wisatawan atau pengunjung yang fokus pada kebutuhan spiritual, sehingga tindakan yang dilakukan dalam wisata ziarah berupa tindakan ziarah. Wisatawan yang mengunjungi wisata ziarah ini datang dengan kesungguhan hati yang mana dilakukan secara sukarela oleh masing-masing pengunjung. Wisatawaan Existensial dapat dijumpai secara nyata pada orang yang melakukan tindakan ziarah. Terlebih lagi juga terdapat para wisatawan ziarah yang datang dengan sendirinya hingga menginap berhari-hari.

    Sedangkan wisatawan recreational merupakan wisatawan yang datang pada sebuah wisata dengan tujuan mencari kesenangan. Perjalanan wisata yang dilakukan dapat memberikan suatu relaksasi pada pengunjung atau wisatawan yang juga sebagai usaha menghibur pada diri-sendiri atau kelompok yang melakukan destinasi wisata. Kondisi fisik dan mentalnya juga diharapkan akan pulih kembali segar setelah menjalankan serangkaian wisata yang dilaluinya.

    Kondisi yang dilakukan oleh para wisatawan tersebut mengisyaratkan bahwa kalau wisata ziarah tidak semestinya untuk berziarah, dapat dilakukan serangkaian tindakan yang lain seperti hanya bersantai-santai, duduk-duduk, atau sekedar relaksasi. Oleh sebab itu wisata ziarah tak hanya sekadar mencakup kebutuhan religi saja.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.