Masih Wacana, Tapi New Normal Sudah Heboh Sekali - Viral - www.indonesiana.id
x

Blunder

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 27 Mei 2020 07:10 WIB
  • Viral
  • Berita Utama
  • Masih Wacana, Tapi New Normal Sudah Heboh Sekali

    Dibaca : 1.171 kali

    Bukan di +62 namanya, bila terhadap "sesuatu" yang belum pasti, beritanya langsung heboh dan viral, bahkan akibatkan blunder. Apalagi bila ada berita yang sudah pasti.namun, tidak membuat hati masyarakat lega, maka akan sama, berita dan pembahasannya juga akan langsung super heboh dan viral. 

    Terlebih bila berita yang berupa kebijakan/keputusan/peraturan datangnya dari pemerintahan Jokowi, yang sejak wabah corona menyerbu Indonesia, dianggap atau terbukti tidak tegas, longgar, dan mencla-mencle. 

    Kendati corona masih terus menggerus warga Indonesia, wacana new normal yang dilontarkan Jokowi, tak pelak membikin semua media massa, para ahli, akademisi, pengamat, netizen, dan masyarakat Indonesia tak henti menguliknya. 

    Sementara dalam kondisi tak new normal saja, masyarakat masih sangat sulit sadar diri dan sulit dikendalikan karena aparat dan petugas juga memang sangat bijak menangani pelanggar protokol kesehatan sesuai PSBB di lapangan. 

    Bila berita new normal yang awalnya dilontarkan oleh Jokowi, kini terlanjur heboh dan viral, bahkan dalam beberapa hari ini, artikel atau selebaran tentang new normal bertebaran di grup whatsapp dan media sosial lainnya, ternyata, hari ini muncul berita, bahwa new normal itu masih tetap sekadar wacana. 

    Belum ada kepastian, karena memang belum ada surat keputusan dari pemerintah. 

    Faktanya, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam), Mahfud MD mengatakan kebijakan tentang tatanan hidup baru atau New Normal hidup berdamai dengan pandemi Covid-19, masih sebatas wacana alias belum ada keputusan resmi dari pemerintah. 

    "Ada wacana, belum keputusan bagaimana tentang new normal ini," kata Mahfud dalam sambutannya di acara Halal bi Halal IKA UNS yang disiarkan di kanal Youtube Universitas Negeri Sebelas Maret, Selasa, 26 Mei 2020. 

    Bila, hari ini Mahfud, meluruskan fakta, mengapa selama ini, sejak Jokowi mewacanakan hadirnya kebijakan new normal, berita ini dibiarkan menggelinding di seantero +62. 

    Apakah dibiarkannya wacana new normal ditujukan sebagai sosialisasi dan penjajagan pemerintah untuk mengais respon masyarakat? Bukan pemerintah Kabinet Indonesia Maju, namanya kalau senangnya membikin heboh dan rakyat bingung. 

    Kira-kira, pernyataan Mahfud apakah hanya sebagai pesan agar masyarakat reda dari kehebohan new normal, sebab rencana new normal jelas banyak ditentang berbagai pihak karena kontradiksi dengan upaya PSBB? 

    Hingga Mahfud mengungkapkan bahwa sampai saat ini, pemerintah masih mengkaji rencana kebijakan itu. Pemerintah bersama para pakar masih menghitung secara matematis dengan berbagai jenis permodelan yang dibahas di Bappenas hingga Kantor Staf Presiden. "Semua dihitung, Jakarta kan sekarang R0-nya 0.9, tapi di sisi lain ada yang R0-nya tinggi sekali seperti di Gorontalo, di Jawa Timur." 

    Karena itu,  pemerintah tengah berpikir tentang bagaimana masyarakat tetap hidup normal dengan fakta virus Corona masih berada di tengah-tengah masyarakat. 

    Coba apa kata Mahfud tentang respon masyarakat terhadap wacana new normal? Mahfud bilang, tak masalah jika wacana kebijakan new normal menuai beragam respons dari masyarakat. "Bagaimana yang terbaik? Mari kita diskusikan. Belum ada keputusan apapun soal itu, semua masih wacana dan kontroversi masih ada. Tapi kita harus hadapi itu," kata Mahfud. 

    Wahai masyarakat Indonesia, pengguna media sosial, setop bikin heboh. Setop sebar-sebar berita yang masih wacana, setop terus-teruskan selebaran new normal. Belum ada keputusan new normal dari pemerintah. Setop bikin heboh, lah. 

    Pemerintah! "Mbok ya" bila sesuatu itu belum pasti, jangan terbudaya "bocor" dong? Olah yang matang, dan melibatkan seluruh aspek di negeri ini terutama "Suara Rakyat!"


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.