Pemerintah Tidak Akan Terapkan Herd Immunity - Analisa - www.indonesiana.id
x

Peme

Alfin Riki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 April 2019

Kamis, 28 Mei 2020 18:17 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Pemerintah Tidak Akan Terapkan Herd Immunity

    Dibaca : 682 kali

    Herd immunity alias imunitas kelompok tidak akan diterapkan oleh pemerintah. Ketika Covid-19 belum bisa ditumpas 100 persen, maka untuk mengatasinya bukan dengan cara ini, melainkan dengan mengobati pasien dan mencegah penyebarannya dengan aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), stay at home. Jadi tidak akan ada relaksasi PSBB dengan alasan untuk membentuk herd immunity.

    Penyakit Covid-19 yang belum pergi dari Indonesia, makin membuat banyak orang khawatir. Mereka takut akan tertular dan juga keluarganya benar-benar dijaga agar tidak terjangkit virus Covid-19. Lalu ada selentingan herd immunity sebagai salah satu cara untuk mengatasi Covid-19. Imunitas komunal yang akan melindungi orang yang mudah sakit, sehingga tidak akan tertular virus Covid-19.

    Pemerintah menyatakan hal ini melalui Kantor Staf Presiden (KSP). Donny Gahral Adian, tenaga ahli utama di KSP membantah isu tentang rencana herd immunity untuk menangani Covid-19, karena baru sekadar wacana. Apalagi yang melontarkan isu tersebut bukanlah dari pihak kementrian kesehatan atau presiden secara langsung. Jadi jangan dipercaya begitu saja.

    Aturan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) tidak akan dilonggarkan untuk membentuk imunitas tersebut. Masyarakat diminta tertib dan tetap berdiam diri di rumah plus menjaga kesehatan, dan tidak melanggar PSBB. Bersabarlah sejenak dan ingatlah bahwa semua ini demi keselamatan kita bersama.

    Memang ada wacana untuk melonggarkan PSBB namun dengan catatan jika kurva pasien Covid-19 sudah melandai dan jumlah orang yang kena virus Covid-19 benar-benar menurun. Baru pembatasan sosial ini direlaksasi dan masyarakat bisa beraktivitas seperti biasa, meski masih harus memakai perlindungan dari masker. Namun saat ini, jumlah pasien yang terjangkit Covid-19 semakin banyak. Malah pernah mencapai 900 orang pasien baru di akhir bulan Ramadhan kemarin.

    Masyarakat juga diminta untuk tidak percaya tentang berita bahwa di bulan Juni ini sekolah, pasar, dan mall akan dibuka. Memang sudah beredar ada surat edaran yang seolah-olah dikeluarkan oleh pemerintah, bahwa di 15 juni murid-murid diperbolehkan belajar lagi di sekolah. Namun ternyata itu bukan pernyataan resmi, melainkan ulah dari oknum yang tidak bertanggungjawab.

    Jangan percaya jika membaca potongan surat edaran dan juga berita apalagi jika hanya didapatkan dari broadcast via grup WA. PSBB masih akan dijalankan dengan protokol yang ketat. Polisi juga selalu siaga dan berjaga di perbatasan kota dan juga jalan tol, untuk menghalau arus mudik. Semua ini dilakukan karena kita ingin pandemi segera berlalu.

    Untuk mengakhiri pandemi Covid-19, caranya adalah dengan menaati aturan stay at home dan ketika terpaksa ke luar rumah, wajib memakai masker dan selalu cuci tangan. Jadi, cara untuk menghadapi virus Covid-19 bukan dengan membentuk herd immunity, karena kenyataannya lebih banyak yang terjangkit Covid-19. Sementara orang yang sehat belum bisa memberikan perlindungan imunitasnya, karena ia juga berpotensi membawa virus atau malah tertular.

    Kita juga tetap bisa menaikkan imunitas dengan cara makan sayur dan buah serta minum air putih. Lakukan juga olahraga teratur agar tubuh lebih bugar. Jagalah juga kebersihan dan selalu rajin cuci tangan atau membawa hand sanitizer. Jadi ketika tubuh sehat dan kita disiplin memakai masker ketika bepergian, akan tidak mudah tertular virus Covid-19.

    PSBB tidak akan dilonggarkan dan masyarakat diminta untuk tertib dengan disiplin menjaga imunitas tubuh dan juga kebersihan, karena pasien yang kena virus Covid-19 masih banyak. Tidak ada rencana untuk strategi herd immunity untuk mengatasi Covid-19, karena orang yang sehat juga masih bisa tertular dan tidak bisa melindungi yang berpotensi sakit dengan imunitasnya. Bersabarlah untuk menaati peraturan dan berdoa semoga pandemi Covid-19 segera berlalu.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.





    Oleh: Salsabila Zulfani

    1 hari lalu

    Covid-19, Membuat Tugas Auditor Menjadi Sulit?

    Dibaca : 94 kali

    Covid 19 adalah virus yang menyerang sisem pernapasan. Virus corona dapat menyebabkan gangguan ringan pada sistem pernapasan, infeksi paru-paru berat hingga kematian. Pertama kali ditemukan di kota Wuhan, China pada akhir Desember 2019. Virus ini menular dengan cepat dan telah menyebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Hampir setiap hari ribuan bahkan ratusan korban infeksi virus corona meregang nyawa. Perekonomian negara terganggu bahkan banyak perusahaan yang harus mengurangi pegawai supaya tidak bangkrut. Dampak Covid 19 ini memang cukup banyak bagi negara terdampak. Lalu bagaimana dengan negara Indonesia?. Indonesia sudah berusaha sedemikian rupa untuk mencegah penularan virus Covid 19 ini,hingga pemerintah menerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar ( PSBB ). Bekerja dan belajar dari rumah, hal ini mungkin tidak terlalu sulit sebab teknologi yang semakin canggih di masa sekarang ini. Lalu bagaimana dengan profesi yang harus bekerja turun lapang atau outdoor? Auditor misalnya?. Auditor harus menyambangi perusahaan klien sehingga dapat dengan mudah mengamati sistem pada perusahaan klien. Mengamati bagaimana SOP atau bagan alur setiap kegiatan perusahaan, seperti penjualan, pembelian dan aliran kasnya. Bagaimana auditor harus bekerja dari jarak jauh?. Strategi bagi auditor yang harus bekerja jarak jauh meliputi perencanaan audit, pemeriksaan/pengkajian dokumen, kerja lapangan/melakukan pengamatan, wawancara terhadap pihak yang terkait, dan pertemuan penutupan. Berikut penjelasan singkatnya. Perencanaan Perencanaan audit merupakan hal yang sangat penting di setiap pengauditan. Namun hal ini akan sulit jika pihak klien ada di lokasi yang jauh ataupun sulit terjangkau ( terpencil ). Sementara tahap perencanaan audit ini harus dibahas dengan klien. Informasi yang dapat dibahas dalam tahap ini adalah ruang lingkup perusahaan serta perncanaan jadwal kapan kegiatan audit akan di mulai, tak lupa memberi informasi kepada klien mengenai keterbatasan perihal proses kegiatan audit jarak jauh ini. Serta info apa saja yang akan dibagikan dan dengan tunjangan media atau teknologi apa yang digunakan. Berdasarkan kebutuhan diatas, auditor dapat menghabiskan waktu dua kali lebih banyak guna membahas perencanaan ini. Teknologi yang dapat digunakan dalam hal ini seperti vidio conference dan powerPoint untuk menyampaikan informasi/materi atau dapat menggunakan panduan visual lainnya. Pemeriksaan/Pengkajian Dokumen Pemeriksaan/pengkajian dokumen dari jarak jauh akan memakan waktu cukup banyak serta tak luput dari keterbatasan. Dalam hal ini auditor harus mampu menerima dokumen dalam bentuk/format apapun yang paling mudah diperoleh oleh klien sehingga dapat meminimalisir beban yang ada. Pertimbangan terkait aksesibilitas sistem file digital yang digunakan klien untuk menyimpan rekaman catatan tersebut harus diberikan. Pertimbangan strategi audit yang baik dan tepat juga harus dipikirkan oleh auditor untuk pemeriksaan ataupun pengkajian dokumen, pengambilan sampel dapat menjadi alternatif terbaik. Tergantung pada jumlah rekaman catatan yang ada. Terlepas apakah auditor memeriksa semua atau sebagian dari data yang tersedia. Tidak seperti pemeriksaan/pengkajian rekaman catatan di lokasi, pemeriksaan/pengkajian dokumen dari jarak jauh biasanya tidak memungkinkan untuk memberikan pertanyaan langsung pada saat yang sama. Auditor harus mencatat ataupun menulis hal-hal yang patut dipertanyakan pada klien saat melakukan proses pemeriksaan/pengkajian dokumen, dan dapat ditanyakan saat wawancara jarak jauh. Kerja Lapangan/Pengamatan Hal ini mungkin akan menjadi hal yang cukup sulit bagi audit jarak jauh, pasalnya hal ini biasanya dilakukan dengan menyambangi perusahaan klien. Salah satu cara yang dapat digunakan adalah dengan menggunakan vidio conference ataupun livestreaming. Walaupun tidak terlepas dari kendala-kendala yang ada seperti ketersediaan Wi-Fi, lokasi kerja klien yang berada di tempat terpencil dan kebisingan yang mungkin akan mengganggu proses audit ini. Tidak banyak manfaat yang dapat diperoleh dengan melakukan observasi jarak jauh. Sebab penayangan vidio hanya pada satu titik dan auditor akan kesulitan untuk melakukan pengamatan. Alternatif lain yang dapat diambil adalah dengan foto digital yang dapat diambil dari smartphone milik klien ataupun milik perusahaan. Hal ini dapat menimalisir kendala jaringan yang tidak memungkinkan melakukan vidio conference. Dari hasil pengamatan, audit dapat membuat catatan dan menyiapkan pertanyaan. Wawancara Terhadap Pihak yang Terkait Dalam hal ini mungkin tidak jauh beda dengan wawancara langsung, hanya perlu media penghubung seperti panggilan vidio ataupun semacamnya misalnya Google Meet, Skype dan Zoom. Auditor perlu melakukan perencanaan wawancara seperti berapa lama waktu yang diperlukan dan kepada siapa saja pihak yang perlu diwawancarai. Misalnya dengan penanggung jawab kegiatan, pemegang keluar dan masuknya kas ( kasir ), bagian gudang, penerimaan barang, dan personil lain yang bertanggung jawab dalam mendukung fokus audit. Persiapan wawancara jarak jauh membutuhkan waktu tambahan bagi auditor, serta auditor harus siap dengan daftar pertanyaan dan hal-hal terkait informasi tambahan apa saja yang dibutuhkan berdasarkan pengamatan yang dilakukan sebelumnya. Keterbatasan wawancara jarak jauh ini juga dapat terjadi ketika personil yang diwawancarai merasa canggung, gugup atau tidak nyaman dengan panggilan vidio oleh sebab itu, pemilihan kata dan penempatan intonasi yang bagus dan tepat akan dapat membuat wawancara menjadi tidak tegang. Pertemuan Penutupan Pertemuan penutupan audit jarak jauh memiliki konsep yang sama dengan pertemuan penutupan secara langsung, mungkin memang memerlukan media penghubung. Penjadwalan penutupan ini harus dipertimbangkan oleh auditor, minimal dua hari setelah melakukan wawancara. Sehingga auditor dapat mengkaji kembali catatannya dan menyusun rancangan awal hasil audit. Pertemuan penutupan ini dimaksudkan untuk mrmpresentasikan rancangan awal hasil audit kepada klien, menyelesaikan pertanyaan/permasalahan serta melakukan pembahasan lebih lanjut untuk hasil final audit, yaitu opini dari auditor. Kesimpulan yang dapat di ambil ialah penggunaan teknologi secara praktis. Inovasi dan transformasi teknologi menjadi fokus bisnis serta progam audit di seluruh dunia. Saat ini adalah saat yang tepat untuk mengkomunikasikan lebih lanjut mengenai proses audit jarak jauh. Terdapat beberapa teknologi berkembang yang dapat menunjang kegiatan tersebut antara lain vidio livestreaming, Virtual Reality ( VR ), pesawat tak berawak ( drone ) dan lainnya. Namun semua teknologi pastilah diperlukan biaya tambahan yang mungkin malah mengakibatkan auditor merugi. Jadi pilihlah teknologi yang sesuai dengan bayaran yang diterima. Proses audit jarak jauh bukanlah satu-satunya solusi yang tepat untuk semua masalah. Hal ini bukan pula sebagai pengganti pelaksanaan audit secara langsung. Namun sebagai bagian dari alternatif yang dapat dilakukan di masa pandemi ini.