Mengukur Keikhlasan - Analisa - www.indonesiana.id
x

syarifuddin Abdullah

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 2 Juli 2020 18:47 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Mengukur Keikhlasan

    Dibaca : 655 kali

    Mengukur Ketulusan

    Persoalan tulus-ikhlas adalah rahasia, yang hanya diketahui oleh seorang hamba dan Allah swt. Saking rahasianya, ada riwayat yang menegaskan, bahkan malaikat pencatat kebaikan pun tak bisa memastikannya.

    Semua defenisi tentang ikhlas yang telah dirumuskan oleh para ulama, umumnya memiliki cacat bawaan. Karena keterbatasan kata-kalimat untuk menggambarkan keikhlasan yang sesungguhnya.

    Lantas bagaimana mengukurnya?

    Sebagai ilustrasi: ada ungkapan dalam bahasa Inggris yang mengatakan, “Beyond the call of duty”, yang kira-kira bermakna begini: berbuat sesuatu melebihi kewajiban pokok.

    Dalam Quran ada ayat yang menegaskan: “Dan mereka bertanya kepadamu (wahai Muhammad saw) tentang apa yang mereka infakkan, dan katakanlah kepada mereka: bahwa harta yang diinfakkan adalah al-fadhlu (harta yang lebih dari kebutuhan pokok)”, (QS Al-Baqarah, ayat 219).

    Hampir semua buku-buku tafsir klasik menjelaskan, makna harta lebih itu (al-fadhlu) adalah yang lebih dari kebutuhan pokok. Maksudnya, kalau Anda punya harta yang lebih dari kebutuhan pokok, maka kelebihan itulah yang diinfakkan/disedekahkan. Artinya jangan menginfakkan atau bersedekah dengan harta yang menjadi kebutuhan pokok Anda dan anggota keluarga yang menjadi tanggungan.

    Misalnya, nilai zakat penghasilan sebesar 2,5 persen terhadap harta yang telah memenuhi qourum (nishab, kadar minimal). Tapi kalau saya dengan rela membayar zakat penghasilan itu, misalnya sebesar 3 persen atau lebih, berarti saya melakukan pembayaran zakat wajib, plus kelebihan setengah persen, di atas zakat wajib. Karena ada kerelaan, maka tingkat atau kualitas ketulusannya menjadi lebih tinggi.

    Dalam soal shalat misalnya, kewajiban seorang Muslim adalah menunaikan shalat lima waktu (subuh, zhuhur, ashar, magrib, isya). Jika seorang Muslim menunaikan shalat sunnat, berarti ia menunaikan shalat lebih dari kewajibannya. Karena itu, seorang Muslim yang shalat sunnat, diasumsikan akan lebih ikhlas, dibanding hanya menunaikan shalat wajib. Atau boleh juga dipahami, ia sudah ikhlas menunaikan shalat wajib, dan semakin ikhlas/tulus ketika menunaikan shalat sunnat.

    Di akhirat kelak, setiap Muslim akan ditimbang amal baik (pahala) dan perbuatan buruknya (dosa-dosanya). Akan terjadi semacam proses trade-off (proses tukar-tambah): pahala amal baik akan menebus amal buruk. Dalam sebuah riwayat disebutkan, rata-rata setiap Muslim akan mengalami keadaan yang disebut muflis (bangkrut): karena amal baiknya sudan habis, sementara amal buruknya masih tersisa banyak. Ketika itu, ada dua mekanisme yang bisa menyelamatkan si Muslim dari posisi muflis (bangkrut) itu: pertama, syafaat Rasulullah saw. Dan kedua, rahmat Allah swt. Nah, jika ditamsilkan, rahmat Allah swt itu adalah semacam karunia kemurahan hati. Memberi lebih dari yang diminta.

    Dalam praktek kehidupan keseharian, memberi lebih dari permintaan adalah indikator keikhlasan. Dan setiap kita umumnya akan menghargai seseorang yang bekerja melebihi dari pekerjaan pokoknya, atau memberi lebih dari yang diminta. Karena pekerjaan yang melebihi pekerjaan pokok dan/atau pemberian yang melebihi dari permintaan, diasumsikan dilakukan lebih tulus, karena memenuhi kriteria “beyond the call of duty”.

    Yang pasti, seperti umumnya perilaku keagamaan, keikhlasan itu harus dilatih, ia tidak datang sekonyong-konyong. Dan salah satu cara melatihnya sekaligus mengukurnya adalah melakukan amal perbuatan yang melebihi dari kewajiban. Karena itu, di kalangan para mufassir, sering dibedakan antara mukhlis (orang yang berupaya untuk ikhlas) dan mukhlas (orang yang dikaruniai keikhlasan).

    Dan biasanya, seseorang yang mengklaim diri ikhlas justru menunjukkan ketidakikhlasannya. Atau klaim keikhlasan itu berpotensi mengurangi bobot keikhlasannya. Karena sekali lagi, keikhlasan adalah urusan pribadi yang amat rahasia antara seorang hamba dan Penciptanya.

    Syarifuddin Abdullah | Amsterdam, 02 Juli 2020/ 11 Dzulqa’dah 1441H


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.