Menuju PJJ Tatap Muka - Analisa - www.indonesiana.id
x

Dara Safira

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 Januari 2020

Jumat, 10 Juli 2020 13:36 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Menuju PJJ Tatap Muka

    Dibaca : 700 kali

    Ribut-ribut sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bakal dibuat permanen. Heboh. Menuai polemik.

    PJJ yang awalnya tercipta sebab situasi pagebluk virus Covid-19 di Indonesia. Sehingga tidak mungkin belajar tatap muka --seperti aktivitas konvensional-- diadakan. Demi keselamatan Guru dan Murid serta orang tuanya.

    Setelah sekitar 4 bulan terlaksana, Mendikbud Nadiem Makarim mewacanakan PJJ dapat saja dibuat berlanjut. Ada unsur positifnya dari pelaksanaan PJJ selama ini.

    Pertama, ada kemajuan adaptasi teknologi online dari PJJ --dari Guru dan murid. Kedua, bisa menopang kekurangan materi belajar yang belum tuntas. Ketiga, memacu kreativitas. Keempat, efisiensi pembelajaran.

    Dengan begitu dapat dipertimbangkan kolaborasi antara kegiatan belajar-mengajar tatap muka (nantinya) dengan PJJ. Begitu ucapan Nadiem Makarim. Penjelasan yang dikutip dari berbagai media nasional yang tervalidasi akurat informasinya.

    Terus kenapa sudah pada 'berisik' menolak keberlangsungan PJJ? Padahal sangat jelas tidak ada pernyataan dari 'Mas Menteri' yang kelak ingin memantapkan PJJ sebagai pengganti belajar-mengajar konvensional.

    Sangat jelas, tidak ada maksud resmi Nadiem ingin menjadikan PJJ sebagai metodologi belajar-mengajar utama, mengesampingkan tatap muka yang telah bisa dilaksanakan. Yang mengemuka cuma 'rencana' memadukan antara belajar-mengajar tatap muka dan PJJ sebagai pendukungnya.

    Itu pun baru rencana. Sedang dikaji. Masih dipertimbangkan. Semua perlu ditinjau kesiapannya. Artinya, belum mutlak jadi keputusan resmi.

    Penjelasan mudahnya, tergantung bagaimana kesiapan lingkungan pendidikan ke depannya. Dan infrastruktur penunjang belajar online.

    Hingga saat ini memang PJJ masih yang utama. Karena kondisi pagebluk melanda Indonesia. Masih sebatas itu semuanya. Belum berubah kebijakan.

    Lalu, kok sudah heboh menolak PJJ ingin jadi permanen? Kok sudah muncul opini seolah menghakimi Nadiem telah menentapkan PJJ sebagai pengganti belajar-mengajar tatap muka.

    Kenapa jadi ada pemelintiran isu dan opini begitu, yang dampaknya membodohi masyarakat.

    Ini salah kaprah. Jika dibiarkan, kasihan masyarakat --Kepala Sekolah, Guru, orang tua murid dan pelajarnya. Hal yang belum pasti, tapi sudah didoktrin kesalahan informasi terkesan Nadiem bakal memantapkan cara PJJ selamanya. Tak ada lagi belajar-mengajar tatap muka.

    Toh, memadukan belajar-mengajar tatap muka dengan PJJ adalah strategi jitu. Sehingga, wajah pendidikan kita tak melulu 'kuno'. Begitu-begitu saja modelnya.

    Kalau pun dikolaborasi belajar-mengajar tatap muka dan PJJ, Indonesia mulai menuju kemajuannya.

    Antara kemajuan teknologi mampu diadaptasi dengan kebiasaan. Teknolpgi menjadi pendukung kebiasaan cara belajar-mengajar yang lazim berlangsung.

    Sampai di sini, sudah paham kan?*


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.