Aspal Buton, Antara Ada dan Tiada - Analisa - www.indonesiana.id
x

Gambar oleh jodeng dari Pixabay

Indŕato Sumantoro

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 12 Juli 2020

Senin, 13 Juli 2020 06:22 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Aspal Buton, Antara Ada dan Tiada

    Dibaca : 912 kali

    Mungkin generasi milenial zaman sekarang sudah tidak mengenal lagi apa itu aspal Buton. Bahkan guru-guru merekapun, mungkin masih samar-samar mengetahui apa itu aspal Buton. Untuk mengetahui apa itu sebenarnya aspal Buton, mari kita caritahu melalui Wikipedia.

    Di Wikipedia disebutkan bahwa Buton adalah sebuah pulau di Sulawesi Tenggara yang terkenal akan produksi aspalnya. Generasi milenial yang kritis tentu tidak akan mudah percaya begitu saja. Mereka pasti akan bertanya lebih jauh lagi: “Pulau Buton terkenal akan produksi aspalnya ?. Mengapa tidak ada satupun jalan Tol di Indonesia yang terbuat dari aspal Buton?”. Jadi aspal Buton ini apa? Hayo, siapa yang mau menjawab pertanyaan ini? 

    Berhubung tidak ada seorang pun yang mau menjawab pertanyaan kritis ini, maka generasi milenial panasaran, dan mereka akan berupaya untuk mencaritahu jawabannya melalui internet. Informasi apa yang akan mereka temukan di internet? Berikut ini adalah kutipan dari kumpulan berita-berita mengenai aspal Buton yang terbaru:

    Pada bulan Desember 2019, Pertamina Research Technology Center telah selesai melakukan uji gelar hasil riset aspal Buton di salah satu jalan raya provinsi di Maros, Makassar. Uji gelar dilakukan bekerja sama dengan WIKA Bitumen dan Pusat Jalan dan Jembatan (Pusjatan), Direktorat Jendral Bina Marga Pekerjaan Umum. 

    Pada tanggal 4 Pebruari 2020, Anggota DPR-RI dari Fraksi Nasdem, Fauzi H Amro MSi menyampaikan perlunya pemanfaatan aspal Buton dalam pembangunan Ibu Kota Baru di Kalimantan Timur. Menurut Fauzi, pemanfaatan aspal Buton dalam pembangunan Ibu Kota Negara Baru di Kalimantan Timur agar bisa memberikan multiplier effect kepada sektor ekonomi, pembangunan di daerah, penghematan devisa, dan penyerapan tenaga kerja. 

    Pada tanggal 10 Maret 2020, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Republik Indonesia bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara menggelar Rapat Koordinasi: “Strategi Percepatan Investasi Industri Pengolahan dan Penataan Izin Usaha Pertambangan Aspal Buton”. Diharapkan bisa ada kebijakan dalam pengelolaan aspal Buton karena begitu besarnya cadangan aspal yang dimiliki daerah ini.

    Perlu adanya langkah-langkah yang memungkinkan Kemenko Maritim dan Investasi mengusulkan agar ada instruksi Presiden tentang pemanfaatan aspal Buton untuk memenuhi seluruh kebutuhan aspal di Indonesia, dan aspal Buton dapat dijadikan sebagai isu strategis nasional. 

    Setelah berita pada bulan Maret 2020 ini, sampai sekarang tidak ada satupun berita baru lagi mengenai aspal Buton. Hal ini disebabkan karena memasuki bulan April 2020, wabah pandemi Covid-19 sudah mulai merebak. Semua orang sibuk menghadapi pandemi Covid-19, sehingga isu mengenai aspal Buton tenggelam dalam ketidakpastian. 

    Setelah membaca informasi di atas, generasi milenial semakin galau. Mereka belum menemukan jawaban yang memuaskan nalar dari pertanyaan: “Aspal Buton ini apa?”. Dari berita pertama, aspal Buton masih dilakukan uji gelar di jalan raya di Maros, Makassar.

    Berita kedua, aspal Buton diusulkan untuk digunakan di Ibu Kota Negara Baru yang akan dibangun di Kalimantan Timur. Informasi ketiga, diharapkan agar ada instruksi Presiden tentang pemanfaatan aspal Buton. Jadi kalau ketiga informasi tersebut dirangkum menjadi satu kalimat, maka dapat disimpulkan sebagai “aspal Buton adalah antara ada, dan tiada”. Apakah benar demikian ?   

    Untuk menjelaskan kepada generasi milenial mengenai apa itu aspal Buton, mungkin narasi di Wikipedia perlu dirubah penjelasannya sebagai berikut: “Buton adalah sebuah pulau di Sulawesi Tenggara yang memliki deposit aspal alam yang jumlahnya sangat besar; yaitu diperkirakan sekitar 650 juta ton. Deposit aspal alam ini pertama kali ditemukan pada tahun 1924. Tetapi mirisnya, sampai sekarang pemerintah masih belum juga mampu mengelola aspal alam ini untuk menyejahterakan rakyat Indonesia. Deposit aspal alam ini dikenal juga sebagai aspal Buton. Aspal Buton memiliki potensi yang sangat besar untuk mensubstitusi aspal minyak impor yang jumlahnya 1 juta ton per tahun, atau senilai US$ 500 juta per tahun. Aspal Buton sekarang ini diproduksi sebagai aspal Buton granular. Agar aspal Buton mampu mensubstitusi aspal minyak impor, maka aspal Buton ini harus diolah secara ekstraksi terlebih dahulu. Aspal Buton ekstraksi memiliki kualitas yang jauh lebih baik daripada aspal minyak impor”. 

    Mudah-mudahan dengan penjelasan baru di Wikipedia ini generasi Milenial akan lebih  memahami mengenai apa itu aspal Buton. Tetapi kalau paradigma “aspal Buton, adalah antara ada dan tiada” sudah tertanam di dasar alam bawah sadar mereka, maka hal ini akan sulit untuk dihilangkan.

    Apa lagi setelah mereka membaca penjelasan yang baru di Wikipedia, mereka akan semakin bingung. Maka akan timbul pertanyaan berikutnya: ”Mengapa sudah hampir 100 tahun pemerintah masih belum juga mampu mengelola aspal Buton untuk menyejahterakan rakyat Indonesia” Hayo, siapa yang mau menjawab pertanyaan kritis ini?


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.