Anak-Anak IKJ dan Masyarakat Indonesia, Pantas Berterima Kasih Pada Ajip Rosidi - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Iya, tentu saja, kita harus berterima kasih pada Ajip Rosidi. Meskipun dia tidak populer saat ini dalam masyarakat sebagai seorang sastrawan. Kita juga harus berterima kasih pada para sastrawan dan budayawan seperti Sapadi Djoko Darmono, W.S Rendra, Goenawan Mohamad, Pramudya Ananta Toer dan lainnya. Mereka layak mendapatkan itu dan rasa hormat kita. Karena dengan keberadaan mereka, bangsa ini menjadi beadab

Ranang Aji SP

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 24 Juli 2020 16:23 WIB
  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Anak-Anak IKJ dan Masyarakat Indonesia, Pantas Berterima Kasih Pada Ajip Rosidi

    Dibaca : 1.345 kali

    Ajip Rosidi, mungkin adalah sastrawan besar yang tidak begitu populer bagi masyarakat pop masa kini, ketimbang Sapadi Djoko Darmono atau Joko Pinurbo. Masyarakat kini, mungkin sedkit gagap, atau bertanya-tanya siapa sih Ajip Rosidi, dan apa yang harus dirayakan darinya seperti halnya Sapadi Djoko Darmono (yang semoga damai di sana)?

    Saya sendiri adalah anak generasi 90-an, di mana; buku, asmara, dan pesta masih menyisakan semangatnya setelah membaca novel Cintaku Di Kampus Biru karya Ashadi Siregar. Pada masa itu, ada tiga sastrawan besar Indonesia yang menjadi panutan utama saya. Pertama Goenawan Mohamad, kedua Pramudya Ananta Toer, dan ketiga W.S Rendra. Dari ketiga sastrawan itu saya belajar menulis dan memilih jalan sastra yang sunyi. Sunyi, tentu saja karena saya selalu gagal dan malas menyelesaikan tulisan sebagai karya, seperti para loncianpwe di atas. Saya lebih sibuk dalam angan-angan dan pergaulan jalanan ketimbang berkarya.

    Pada saat itu, saya juga sudah mengenal banyak nama besar sastrawan di Indonesia, termasuk nama Ajip Rosidi. Hanya saja, saya belum menyadari betapa nama ini memilki makna ‘khusus’ bagi kebudayaan Indonesia. Saya lebih peduli dengan urusan bagaimana menjadi populer tanpa karya. Keadaan yang kemudian saya sadari sebagai keadaan diri yang terindap ‘megalomania’. Selalu ingin dipuji, meskipun tanpa karya, selain sibuk mencaci-maki siapa saja. Dan semua itu terbukti: gagal.

    Hingga kemudian, pada tahun 2000-an, saya mulai bergaul dengan salah satu anak Ajip Rosidi dalam pergaulan seniman hipis-bohemian. Ketika itu, anaknya, Nundang Rundagi, tak suka dirinya ditautkan dengan nama besar ayahnya ketika diperkenalkan. Hal yang kemudian justru membuat saya ingin mengenal lebih nama Ajip Rosidi yang sering disebut-sebut dalam lingkungan pergaulan waktu itu.

    Ketika kemudian saya membuat media digital kelas ‘embek’ bernama KoranOpini[dot]com bersama seorang teman yang kini menjadi koordinator tim jubir presiden, saya meminta izin dipertemukan dengan Ajip Rosidi untuk sebuah wawancara. Dalam perbincangan sekitar tiga jam di rumahnya di kawasan Pabelan, Mungkid, Magelang, saya mendapatkan kesan sekaligus akses jalan pikirannya. Sesuatu yang membuat pikiran saya terbuka.

    Saat itu yang kami perbincangkan, di antaranya adalah peran Yayasan Rancage yang dia dirikan untuk mengawal sastra dan budaya lokal di Indonesia. Ajip Rosidi mengatakan bahwa Yayasannya itu berjuang sendiri selama bertahun-tahun tanpa bantuan negara. Bahkan pemerintah saat itu pernah menolak memberikan bantuannya. Padahal apa yang diperjuangkan adalah demi kebudayaan dan  peradaban Indonesia sendiri. Terutama upaya melestarikan budaya lokal yang ada di Indonesia. Kemandirian Ajip Rosidi itu mengingatkan saya pada pesan Sobron Aidit, bahwa orang harus mampu mandiri. Hal itu disampaikan dalam sebuah koresponden di tahun 1999. Ajip Rosidi adalah jenis orang semacam itu. Itu kesan saya.

    Dalam obrolan itu,  saya menjadi sadar, betapa kecil dan tak berartinya saya di hadapannya. Saya seolah, seperti pepatah Cina, 'orang yang tak mampu melihat tingginya gunung Taishan di depan mata'. Semua yang saya bayangkan tentang diri saya runtuh. Saya mungkin berpikiran besar, tetapi Ajip Rosidi tidak saja berpikir besar, namun juga menjalankannya sebagai bukti kontribusinya bagi bangsa dan negara. Bukan sekadar untuk dirinya. Ia berpikir dan bertindak secara visi. 

    Saya membayangkan, seandainya Ajip Rosidi, Ramdahan KH, dan Iies Surianegara tidak memiliki gagasan membuat Institut Kesenian Jakara (IKJ), mungkin Ali Sadikin tidak akan membuat lembaga itu berdiri. Sekolah seni yang kemudian melahirkan banyak seniman dan budayawan besar Indonesia. Seniman yang kemudian memberikan sumbangan tidak saja pada peradaban, tetapi juga devisa bagi negara.

    Ajip Rosidi juga salah satu pendiri Yayasan PDS H.B Yassin di Jakarta Tahun 1977. Sebuah lembaga yang mengawal artefak sastra dan kebudayaan Indonesia. Lembaga yang memiliki arti penting bagi perjalanan kebudayaan dan peradaban bangsa Indonesia. Sesuatu yang dibutuhkan oleh seribu generasi ke depan.

    Dengan fakta seperti itu, bukankan, pantas, jika sivitas Institut Kesenian Jakarta (IKJ), negara, dan bahkan bangsa Indonesia berterima kasih padanya, juga para tokoh lainnya?  

    Iya, tentu saja, kita harus berterima kasih pada Ajip Rosidi. Meskipun dia tidak populer  dalam masyarakat kini, sebagai seorang sastrawan.  Kita sudah sepantasnya berterima kasih dengan pikiran dan apa yang sudah dibangunnya.

    Kita juga harus berterima kasih pada para sastrawan dan budayawan seperti Sapadi Djoko Darmono, W.S Rendra, Goenawan Mohamad, Pramudya Ananta Toer dan lainnya. Mereka layak mendapatkan itu, dan rasa hormat kita. Karena dengan keberadaan mereka, bangsa ini menjadi beradab.[]

     *Tulisan belepotan ini saya buat ketika Ajip Rosidi tengah terbaring sakit di Rumah Umum Tidar Magelang (24/7/20). Semoga lekas sembuh, Pak Ajip Rosidi.

    @Ranang_Aji_SP

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.