Jangan Berpikir Pendek, Taati Adaptasi Kebiasaan Baru - Analisa - www.indonesiana.id
x

Sekelompok warga melintasi Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, memakai masker antisipasi wabah virus corona. Tempo/Hilman Fathurrahman W

Danar Satrio

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 24 Juli 2020

Rabu, 29 Juli 2020 06:27 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Jangan Berpikir Pendek, Taati Adaptasi Kebiasaan Baru

    Dibaca : 245 kali

    Adaptasi kebiasaan baru (AKB), terhadap Covid - 19 mulai di gulirkan oleh pemerintah baik pusat maupun daerah. Penegakan aturan tersebut telah di persiapkan, seperti pada sejumlah provinsi di Jawa Barat dan Jawa Timur. Sanksi denda senilai Rp 50-250 Ribu mulai ditetapkan kepada para pengendara yang tidak memakai masker. 

    Gagasan ini, saya pikir cukup bagus dan masuk akal melihat aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dicabut. Masyarakat mulai tidak disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan, dengan bebas mereka berjalan bahkan berkendara tanpa menggunakan masker. 

    Masyarakat berpikir pendek, aturan dicabut berarti Pandemi Korona berakhir. Padahal, Covid-19 masih terus menjangkit. Kebijakan AKB diberlakukan agar masyarakat, mampu beradaptasi dengan berbagai kebiasaan mulai dari physical distancing, penggunaan masker, pembiasaan selalu mencuci tangan menggunakan sabun. 

    Bisa dibayangkan, bila kita harus terus-terusan diam di rumah saja. Sedangkan kebutuhan harus tetap terpenuhi, jadi mau tidak mau adaptasi kebiasaan baru ini harus diikuti. 

    Selain itu, pencegahan penyebaran Covid-19 tidak bisa terpusat pada bantuan pemerintah. Seluruh kalangan, diharapkan turun tangan untuk membantu. Ya, perlu sentuhan dan kolaborasi pihak swasta dalam penyediaan fasilitas pendukung kesehatan masyarakat.

    Di sinilah edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) juga AKB gencar dikampanyekan kepada masyarakat. Bukan untuk cari muka, atau sekedar bentuk program kepedulian sosial, saya berpendapat sah saja jika kolaborasi antara pihak swasta dan pemerintah selaku penentu kebijakan saling berkoordinasi. 

    Gerakan nyata seperti donasi fasilitas cuci tangan yang diberikan oleh Unilever Indonesia melalui brand produk sabun Lifebuoy, dan pemberian pemahaman terkait AKB secara masif oleh situs Klik Dokter adalah salah satu contoh positif dimana pihak swasta mampu berbagi peran.

    Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Doni Monardo mengatakan, memasuki masa adaptasi kebiasaan baru masyarakat harus semakin sadar melindungi diri dari penyebaran virus, salah satunya melalui mencuci tangan dengan sabun.

    “Kami sangat mengapresiasi dukungan pihak swasta seperti Unilever Indonesia yang secara berkelanjutan mengambil peran mendukung upaya kami untuk terus melindungi masyarakat dari penyebaran virus,” Kata Doni.

    Dari sini, kita bisa memetik kesimpulan negara dan berbagai pihak berupaya menyusun strategi pencegahan penyebaran Covid - 19. Tinggal masyarakat yang memilih, ingat berbicara kesehatan berarti tidak tertuju pada pribadi sendiri namun kemaslahatan seluruh manusia.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.