Perihal Baik dan Buruknya Perasaan Cinta - Analisa - www.indonesiana.id
x

Pinterest

Bunk Ham94 Bunk Ham94

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 Juni 2020

Jumat, 31 Juli 2020 11:28 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Perihal Baik dan Buruknya Perasaan Cinta

    Dibaca : 329 kali

    Meniti di Atas Awan

    Tidak ada manusia sesuci malaikat, apalagi saya, atau pun kamu. Lebih-lebih manusia lain. Semuanya di jalankan dengan proses, dan tujuan yang berbeda. Namun maknanya "sama". Dalam hubungan itu. Bukan di maksudkan untuk berselisih, tapi saling melengkapi, dan memahami.

     

    Sebagai manusia. Tidak ada yang berkeinginan buruk. Semuanya manusia bercita-cita jadi baik. Karena, baik, dan buruk sikapnya manusia, akan kembali pada hati yang suci untuk menerimanya. Dengan perkataan "maaf saja", sesuatu yang lekam, bisa berubah menjadi sutra.

     

    Kalau memang kata "baik" itu surga; kenapa kita harus menutupkan kata "buruk" adalah neraka". Begitulah perkataan saya.

     

    Kita ini, saya atau pun kamu, dan lebih-lebih manusia-manusia lain utamanya, mari benahi bersama-sama apa yang memang sudah terlintas buruk pada diri pribadi, dan manusia lain. Baik dan busuk kita pahami bersama. Carikan solusi bersama. Supaya tujuan kedepannya bisa lebih baik dari hari kemarin.

     

    Nasi sudah menjadi bubur itu adalah filosofi masyarakat primitif.

     

    Karena, seharusnya kita, difungsikan lebih fokus pada isinya. Bukan pada bentuknya. Sebab, nasi menjadi bubur itu bukan bentuknya yang dilihat. Tapi isi, dan kandungan yang berpotensi. Gizi, nutrisi, serta kalsium yang ada dalam kandungan makanan itu. Tidak ada yang kurang. Itu masih berfungsi sebagai protein, dan karbohidrat yang tinggi. Untuk berubah menjadi energi.

     

    Dan begitu juga dalam soal hubungan. Bukan wajah, muka, dan keelokan tubuhnya yang di perlukan. Namun isi yang di kandungnya. Karena banyak wanita-wanita cantik, mulus, body, rapi dan seksi itu. Kini menjadi bahan perbincangan publik. Mereka yang seharusnya menjaga aurat, kecantikan, dan tubuh kesuciannya. Malah semakin menjadi-jadi bayaran.

     

    Apa mungkin wanita kupu-kupu malam? Tidak. Jalaluddin Rumi saja, ketika tubuhnya jadi resah, dan penuh dengan dosa, maka yang dibangun energi cinta yang membangkitkan semangat. Bagi dia, jalan buruk itu adalah kekuatan jiwa untuk memulihkan perasaan, dan menjernihkan pikiran.

     

    Maka, tidak ada yang berbeda dengan Boy Chandra. Dalam bukunya, Senja, Hujan, dan Cerita Yang Telah Usai, yang kemudian apabila malam mendatangkan siang, maka pagi, pasti mendatangkan senja. Dari mereka semua, pasti kita tahu memiliki jiwa, perasaan, dan intuisi pikiran yang berbeda. Sama seperti kita. Dengan karena atas nama cinta bagi mereka. Sesuatu yang baik, akan berubah menjadi buruk. Sesuatu yang hitam bisa berubah menjadi putih. Atau sesuatu yang lemah, bisa berubah menjadi kuat.

     

    Tidak ada yang salah, ketika kita jatuh dengan perasaan, dan cinta. Karena yang kita pupuk adalah harapan, doa, janji, ataupun cita-cita. Karena sejatinya cinta, bisa membangkitkan. Juga bisa melumpuhkan, dan mematahkan.

     

    Terkadang saja. Kita dipertemukan oleh Tuhan dengan wanita yang salah. Karena pada akhirnya Tuhan akan pertemukan wanita yang benar. Untuk itu, jangan berhenti pada pikiran semu. Karena kecacatan berfikir akan berujung pada kedangkalan akal, dan pikiran semata. Bukan kedalam hati. Soal cinta, adalah soal perasaan, hubungan. Yang tentunya harus di rawat, dan di pelihara dengan baik.

     

    Kalau situasi dalam keadaan bermasalah, masih ada solusi pikiran yang harus diselesaikan. Bukan malah kita berkata: Penghianatan akan berujung pada penghianatan, kebaikan akan  bertemu dengan keburukan, kebahagiaan digantikan oleh  kesedihan. Serta neraka pun akan digantikan oleh surga.

     

    Itu semua, masalah yang di padatkan oleh pemahaman, dan dangkalnya suatu pikiran. Tanpa harus membuka pertimbangan besar. Tidak bisa kemudian kita tutupkan "kata maaf" dengan maksud masih menyimpan dendam. Sebab kalau kita mau jujur dalam soal perasaan. Dendam itu adalah kebencian yang menyimpan. Begitulah ujarnya Hamka.

     

    Itulah, yang saya kira, tidak mau menjadi lawan, daripada menjadi kawan. Karena lawan, yang saya kira akan berdampak menjadi musuh. Sementara kawan akan menjadi sahabat. Kita harus kembalikan kepada fitrahnya, dan sang penguasa atas segala cinta.

     

    Karena kita tahu di ujung thelos. Ada sepucuk harapan, janji, suci, dan keabadian yang hakiki. Saya, ataupun kamu hanya manusia biasa. Sebab yang saya maksud. Baik, dan buruknya suatu hubungan itu membuktikan kenormalan berpikir, dan berperasaan.

     

    Jadi tidak semestinya kita, menaruh kebodohan, dan perasaan di atas kebencian. Karena kefasikan akan menutup hati penuh dengan kebohongan.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.