Kaum Muda Perintis Kemerdekaan yang (Sedikit) Terlupakan - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Presiden pertama RI, Sukarno (kiri) didampingi Wakil Presiden Mohammad Hatta, memberikan hormat saat tiba di Jalan Asia Afrika yang menjadi Historical Walk dalam penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung, 1955. Dok. Museum KAA

tuluswijanarko

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 12 Agustus 2020 08:40 WIB

  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Kaum Muda Perintis Kemerdekaan yang (Sedikit) Terlupakan

    Menjelang peringatan hari kemerdekaan Indonesia, kita akan selalu terkenang nama-nama ini: Soekarno, Moh Hatta, Sjahrir, Jenderal Soedirman, H Agus Salim, Tan Malaka dan sederat nama-nama pahlawan lain. Kita akan mengenang jasa mereka baik yang di era perintis kemerdekaan maupun era jauh sebelumnya. Namun di luar mereka, mungkin secara samar-samar kita juga pernah membaca atau mendengar kisah para pemuda yang ikut bergerak di masa kritis menjalang 17 Agustus 1945.

    Dibaca : 1.994 kali

    Menjelang peringatan hari kemerdekaan Indonesia, kita akan selalu terkenang nama-nama ini: Soekarno, Moh Hatta, Sjahrir, Jenderal Soedirman, H Agus Salim, Tan Malaka dan sederat nama-nama pahlawan lain. Kita akan mengenang jasa mereka baik yang di era perintis kemerdekaan maupun era jauh sebelumnya. 

    Namun di luar mereka, mungkin secara samar-samar kita juga pernah membaca atau mendengar kisah para pemuda yang ikut bergerak di masa kritis menjalang 17 Agustus 1945. Di Jakarta setidaknya ada yang disebut kelompok pemuda yang berhimpun di Prapatan 10 (Kusnadi Hadibroto, Aboe Bakar Loebis, dan lain-lain). Juga para pemuda yang dikenal dengan kelompok Menteng 31. 

    Ada juga kelompok Gerakan Rakyat Anti-Fasis dan elemen-elemen demokratis revolusioner lainnya. Mereka ini, antara lain Sidik Djojosukarto, Widarta, Kartopandojo, Sujoko, Sundoro, Ukon Effendi, Djokosujono, dan Armunanto. Mereka berkumpul di kediaman Armunanto. 

    Kelompok ini berusaha memblokir dan mengalihkan perhatian Jepang dari Rengasdengklok. Untuk menyongsong kemerdekaan, para pemdua melakukan pengorganisasian kader dan tenaga yang akan dikirim ke daerah-daerah. 

    Mereka semua punya saham membuat suasana makin matang, hingga Proklamasi bisa dicetuskan pafa 17 Agustus 1945. Namun, tak banyak yang mengenal lebih jauh kiprah anak-anak muda ini. Berikut beberapa diantaranya yang kisahnya dihimpun dari berbagai sumber, antara lain Tempo.id, Historia.id, kompaspedia dan Wikipedia.

    Sukarni Kartodiwirjo, Diomeli Hatta

    Bung Hatta ngomel kepada Sukarni Kartodiwirjo. “Kamu ini wong dibukakan jalan agar dikenang sejarah kok tidak mau," kata dia setengah bersungut.

    Gerutuan itu diucapkan Hatta malam hari, tanggal 16 Agustus 1945. Saat itu teks proklamasi sudah berhasil disusun. Hatta pun meminta semua yang hadir menanda tangani naskah keramat tersebut. Tapi Sukarni menolak. Dia malah minta sebaiknya hanya Soekarno-Hatta saja yang meneken atas nama bangsa Indonesia.

    Sukarni, asal Blitar (lahir 1916), adalah salah satu perintis kemerdekaan yang namanya tak bergaung besar seperti tokoh-takoh, macam Soekarno, Hatta, Sjahrir, atau Tan Malaka. Namun pemuda ini adalah bagian dari kaum revolosioner yang perannya tak kalah penting dalam membawa negeri ini ke gerbang kemerdekaan.

    Kita mengenal namanya sebagai bagian dari kelompok yang menculik Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok. Saat itu kaum muda mendesak dwi-tunggal agar segera mendeklarasikan kemerdekaan. Toh, bukan hanya itu saja peran dia.

    Sukarni menjadi revolusioner tidak ujug-ujug. Dalam sepak-terjangnya dia tak pernah kooperatif kepada penguasa kolonial. Mulai sejak merintis organisasi Persatuan Pemuda Kita, jadi Ketua Pengurus Besar Indonesia Muda, hingga memimpin asrama Mahasiswa di Menteng pada tahun-tahun genting menjelang kemerdekaan. Dia keras.

    Mirip Tan Malaka, ia pun mesti lama hidup dalam penyamaran karena menjadi buruan intel kolonial, PID. Penyamarannya terbongkar di Balikpapan, dan dia dijebloskan ke penjara.

    Proklamasi dibacakan Soekarno-Hatta, dan Sukarni mengemban tugas untuk menyiarkan peristiwa bersejarah itu ke seluruh dunia.

    Sukarni berpulang pada 7 Mei 1971, dan penerima Bintang Mahaputra ini ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada 2014.

     

    Chaerul Saleh, Pemuda Berkepala Panas

    Titik balik perjalanan politik Chaerul Saleh terjadi ketika ia memutuskan bergabung dalam Barisan Banteng yang sangat anti Jepang. Dia juga menjadi anggota Putera pimpinan Soekarno, Hatta, Ki Hajar Dewantara dan Kyai Haji Mas Mansyur. Sebelumnya, putra Minangkabau ini anggota panitia Seinendan.

    Namanya ditabalkan dalam sejaran perintisan kemerdekaan karena bersama Sukarni, Wikana, dan pemuda lainnya dari Menteng 31, menculik Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok. Mereka menuntut agar kedua tokoh ini segera membacakan Proklamasi kemerdekaan Indonesia.

    Chaerul Saleh dikenal sebagai pemuda emosional. Bung Karno menjulukinya pemuda berkepala panas. Watak kerasnya itulah yang juga membuatnya bersikap agar setelah teks Proklamasi jadi, tak perlu dibacakan di depan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) bentukan Jepang.

    “Kami tidak mau dibawa-bawa segala badan-badan yang berbau Jepang seperti Badan Persiapan, dan kami tidak suka jika jika orang-orang yang tak ada usahanya dalam hal ini ikut campur, sebab nanti mungkin Proklamasi ini mundur-mundur lagi,” kata Chairul Saleh.

    Chaerul Saleh gelar Datuk Paduko Rajo lahir di Sawahlunto, Sumatera Barat, pada 13 September 1916. Sejak kecil ia menggemari seni pencak silat. Pada masa Hindia Belanda, Chaerul menjabat sebagai Ketua Persatuan Pemuda Pelajar Indonesia (1940-1942). Perjuangannya ia lanjutkan ketika kekuasaan penjajahan beralih ke Jepang. Dan ia ikut menghantarkan negeri ini ke gerbang kemerdekaan.

    Namun, pada 1946 ia memilih jadi opoisisi dan berganung dengan Tan Malaka di Persatuan Perjuangan. Kelompok ini menuntut kemerdekaan 100%. Pada 1950, Chaerul memimpin Laskar Rakyat di Jawa Bafrat menentang hasil Konferensi Meja Bundar (KMB). Ia ditangkap dan dibuang ke Jerman.

    Sepulang dari Jerman karis politiknya justru melejit. Ia masuk pemerintahan dan beberapa kali menjadi menteri sebelum ditunjuk sebagai Wakil Perdana Menteri III mengurus perekonomian. Ia juga menjadi penyeimbang kekuatan PKI di kabinet.

    Salah satu jasanya di era ini adalah, dialah yang mencetyuskan konsep negara kepaulauan dengan batas teritorial 12 mil laut. Konsep ini di­sahkan pada 13 Desember 1957. 

    Berbagai intrik politik membuatnya harus berhadapan dengan Soebandrio dan DN Aidit. Namanya bahkan sempat masuk dalam daftar yang akan diculik oleh Gerakan 30 September. Namun belakangan dicoret Aidit.

    Era berganti, lalu Soeharto naik ke tampuk kekuasaan. Entah kenapa pemguasa baru itu menahan Chaerul Saleh tanpa proses peradilan. Ia dianggap sebagai menteri era Soekarno yang pro-komunis. Chaerul Saleh meninggal pada tanggal 8 Februari 1967 dengan status tahanan politik. 

     

    Wikana, Saling Ancam dengan Soekarno

    “Kalau Bung tidak proklamirkan kemerdekaan sekarang juga atau sekurang-kurangnya besok pagi, pemuda dan rakyat akan berontak, besok akan terjadi pertumpahan darah,” teriak Wikana kepada Soekarno.

    Bung Karno tersinggung oleh teriakan pemuda kurus berambut klimis tersebut. Dia pun menggertak balik. "Ini leherku, seretlah aku ke pojok sana, dan sudahilah nyawaku malam ini juga, jangan menunggu sampai besok!"

    Hari itu, 15 Agustus, Wikana bersama banyak tokoh sednag berkumpul di kediaman Soekarno, Jalan Pegangsaan, Jakarta. Pertemuan itu berlangsung dadakan. Para pemuda, antara lain Wikana, Chaerul Saleh, DN Aidit, dna lain-lain mendatangi Bung Karno di rumahnya dan mendesak agar segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

    Soekarno tak mau bicara sendiri menghadapi anak-anak muda itu. Dia pun memanggil Mohammad Hatta dan Achmad Soebardjo (paman BM Diah). BM Diah datang bersama Soebadjo yang baru keluar dari penjara.

    Pertemuan malam itu tak menghasilkan kesimpulan apa-apa. Kelak, percikan peristiwa itu kian menegaskan sosok Wikana sebagai pemuda revolusioner.

    Wikana, pemuda asal Sumedang ini, ikut dalam gebalau perintisan kemerdekaan Indonesia karena perjalanan aktivisme sejak remaja. Dia pernah terlibat dalam berbagai organisasi kepemudaan, seperti Angkatan Baru Indonesia dan Gerakan Rakyat Baru.

    Dia juga bergiat di  Angkatan Pemuda Indonesia (API) sampai Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo). Pada masa kekuasaan kolonial Wikana sempat dipenjara karena dituduh melakukan subversif kepada kolonal. Ia dipenjara bersama Adam Malik dan Pandu Kartawiguna.

    Saat itu dia menyebarkan pamflet Menara Merah yang ada kaitannya dengan PKI bawah tanah. Organisasi ini memang dilarang pemerintah Belanda pascapemberontakan 1926. 

    Menurut Trikoyo Ramidjo, rekan Wikana di PKI, Wikana jadi anggota partai sejak tahun 1930-an, “Cita-citanya jelas sekali untuk kemerdekaan Indonesia,” ujar dia seperti ditulis dalam Historia.id.

    Sejarah juga mencatat namanya ikut terlibat dalam penculikan Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok. Ia bersama kaum muda lainnya waktu itu mendesak agar kedua tokoh segera memproklamasikan kemerdekaan.

    Paska penculikan Wikana-lah yang membuka jalan agar para tokoh bangsa berunding di kediaman Laksamana Maeda. Ini bisa dilakukan karena koneksinya dengan Angkatan Laut Jepang. Di rumah ini mereka bisa berembug mempersiapkan Proklamasi dengan aman.

    Selain itu Wikana juga mengatur semua keperluan Pembacaan Proklamasi di rumah Bung Karno di Pegangsaan 56, Jakarta. Wikana juga membujuk kalangan militer Jepang untuk tidak mengganggu jalannya upacara pembacaan teks proklamasi.

    Di era Indonesia merdeka, Wikana sempat menjabat sebagai Menteri. Tapi hidupnya berakhir tragis saat pecah huru-hara politik 1965. Kurang dari setahun setelah peristiwa itu, sekelompok tentara tak dikenal mengambil dia dari rumahnya di Matraman, dan setelah itu nasibnya tak diketahui. Sampai sekarang…



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.