Di Priok Kami Masih Mencari Cara Terbaik Mengubah Perilaku Masyarakat

Kamis, 3 September 2020 13:34 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Di Priok Kami Masih Mencari Cara Terbaik Mengubah Perilaku Masyarakat

Sikap masyarakat yang guyub di wilayah Tanjung Priok kerap menjadi tantangan Tim Pencerah Nusantara COVID-19 (PN COVID-19) untuk mengubah perilaku masyarakat di tengah pandemi. (Sumber gambar: Dok. Pencerah Nusantara)

 

“Orang Indonesia memiliki budaya kolektif. Berbeda sekali dengan orang Belanda yang menjunjung tinggi budaya individualis, warga di bantaran Kali menganggap tetangga sudah seperti keluarga sendiri dan menggunakan tetangga sebagai jaring pengaman mereka,” dikutip dari buku Tempat Terbaik di Dunia karya Roanne Van Voorst.      

Buku ini menceritakan antropolog yang tinggal di kawasan Bantaran Kali Ciliwung Jakarta. Dalam buku ini saya belajar bahwa penulis melakukan observasi partisipatif, yaitu teknik observasi dengan mengamati kehidupan objek penelitian. Roanne, misalnya, mengikuti si Enin salah satu warga di Bantaran Kali, Ciliwung, Jakarta saat berbelanja ke pasar, makan, dan bercengkrama bersama tetangga. Observasi partisipatif membantu antropolog membayangkan kehidupan objek penelitian, mulai dari perasaan, masalah sehari-hari, hingga cara mereka menyelesaikannya.

Sebenarnya, metode observasi partisipatif bisa digunakan untuk mendekati masyarakat dalam upaya intervensi Tim Pencerah Nusantara Covid-19 (PN Covid-19), namun banyak halangan untuk menerapkan metode tersebut.      

Tim PN Covid-19 tentu tidak bisa tinggal bersama masyarakat karena baik kami maupun masyarakat memiliki risiko tinggi terinfeksi Covid-19. Sejujurnya sampai dengan detik ini, saya dan tim hanya bisa mendekati masyarakat dengan mengobrol bersama.

Kultur masyarakat Indonesia yang guyub memang menjadi salah satu tantangan dalam memutus penyebaran Covid-19. Manifestasi guyub di masyarakat adalah masyarakat yang berkerumun sambil bercengkrama satu sama lain. Padahal, perilaku ini bisa menjadi sumber penyebaran Covid-19. Karenanya, kami masih mencari cara untuk bisa mengedukasi masyarakat meninggalkan kebiasaan setidaknya untuk sementara waktu.

Saat sore hari ketika ibu-ibu sedang menyuapi anak-anaknya, kami mengobrol santai dan menanyakan perihal Covid-19 dan menyelipkan pesan edukasi lewat guyon kepada mereka. "Gimana, ya neng? Kita memang suka ngumpul begini dan hiburan kita cuma ini saja. Masa tega nyuruh orang di rumah saja. Bosen, pake masker terus."      

Kami juga sempat bermain dengan anak-anak sambil menyelipkan pesan edukasi ke mereka, “Dek,  nanti kalau kamu main ke luar rumah harus selalu pake masker, ya biar nggak kena corona. Kalau nggak pakai masker kakak nggak mau main sama kalian, ah!”

Selain itu, kami juga bercerita dengan penjual otak-otak di depan kosan kami, Mas Ceki sapaannya. Mas Ceki mengatakan bahwa Covid-19 hanya hoax saja. Sayangnya, anggapan seperti itu juga ada di tempat lain. Sesekali ketika turun lapangan untuk melaksanakan tes rapid dan swab massal dan menanyakan persepsi tentang Covid-19, jawaban seperti Mas Ceki terselip di antara banyak jawaban lain.  

Selain melakukan pendekataan masyarakat, kami juga menganalisis apa upaya yang sudah dilakukan puskesmas dan pihak kelurahan untuk membuat warga menerapkan protokol kesehatan. Menurut Paramita Mohamad selaku founder dari Communication for Change (C4C), Tim PN Covid-19 perlu menumbuhkan solidaritas warga untuk saling menjaga di masa pandemi.

Contoh kecil yang terlihat di lapangan adalah tidak adanya proses pemantuan terkait sarana cuci tangan pakai sabun (CTPS) karena tiadanya rasa kepemilikan atas fasilitas itu. Padahal, narasi tentang kedisplinan penting untuk mengatur strategi komunikasi kepada masyarakat.      

Dari buku Tempat Terbaik di Dunia dan pelatihan C4C kami belajar pentingnya melihat, merasakan, dan mengetahui budaya masyarakat serta narasi-narasi kunci yang diperlukan untuk mengubah perilaku mereka. Harapan kami Tim PN Covid-19 bisa mengimplementasikan ilmu-ilmu yang didapat serta membuat narasi kunci yang juga bisa digunakan di seluruh Kelurahan di Tanjung Priok bukan hanya di kelurahan intervensi kami saja.  Kami tahu butuh waktu lama untuk mengubah perilaku masyarakat, namun jika tidak dimulai dari sekarang, lantas kapan lagi?

 

Tentang Pencerah Nusantara COVID-19

Pencerah Nusantara adalah inovasi untuk mengurangi kesenjangan pelayanan publik di bidang kesehatan untuk mewujudkan Indonesia sehat dan sejahtera. Pencerah Nusantara adalah gerakan penguatan pelayanan kesehatan primer (puskesmas) yang terdiri dari tim pemuda multi-profesi kesehatan yang ditempatkan di puskesmas dengan masalah kesehatan untuk bekerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan. Pencerah Nusantara COVID-19 hadir membantu puskesmas di wilayah Jakarta dan Bandung dan menguatkan puskesmas menghadapi pandemi COVID-19 selama periode enam bulan penempatan. Sejak tahun 2015, model intervensi puskesmas berbasis Tim Pencerah Nusantara diadopsi Kementerian Kesehatan sebagai Nusantara Sehat.  

 

Penulis:

Anditha Nur Nina (Ahli Kesehatan Masyarakat)

Pencerah Nusantara COVID-19 Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara

Bagikan Artikel Ini

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua