Perlombaan Vaksin Covid-19 di Seluruh Dunia, Siapa Menang? - Pilihan - www.indonesiana.id
x

tuluswijanarko

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 7 September 2020 16:15 WIB

  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Perlombaan Vaksin Covid-19 di Seluruh Dunia, Siapa Menang?

    Dunia sedang berlomba melawan ancaman maut dari virus Covid-19. Pagebluk yang disebabkan virus ini telah menewaskan lebih 870 ribu jiwa di seluruh dunia, dalam delapan bulan terakhir. Dan, kini para ahli berbagai negara tengah menyiapkan vaksin untuk menumpas virus yang berasal dari Wuhan, China, tersebut. Ameriks Serikat, Rusia, China, dan beberapa negara terlibat dalam pelrombaan ini. Tapi WHO khawatir sampai pertengahan tahun depan vaksin Covid-19 belum bisa disebarkan.

    Dibaca : 593 kali

    Dunia sedang berlomba melawan ancaman maut dari virus Covid-19. Pagebluk yang disebabkan virus ini telah menewaskan lebih 870 ribu jiwa di seluruh dunia, dalam delapan bulan terakhir. Dan, kini para ahli berbagai negara tengah menyiapkan vaksin untuk menumpas virus yang berasal dari Wuhan, China, tersebut.

    Dari Amerika Serikat dikabarkan bahwa mereka telah mengklaim vaksin Covid-19 sudah siap pada November 2020. Hal itu dikeyahui menyusul instruksi Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika (CDC) kepada negara bagian untuk mempersiapkan distribusi skala besar vaksin pada 1 November. Ini adalah dua hari sebelum pemilihan presiden.

    Pada Kamis, 3 September 2020, chief operating officer Pfizer, Albert Bourla, mengatakan perusahaan akan memperoleh hasil uji klinis fase 3 paling cepat bulan depan. "Pada akhir Oktober, kami harus mengadakan acara yang cukup untuk mengatakan apakah produk itu berfungsi," kata Bourla dalam pertemuan dengan Federasi Internasional Produsen dan Asosiasi Farmasi, sebuah kelompok perdagangan.

    Tapi, seperti ditulis Tempo.co, optimisme ini memancing kritik dari komunitas ilmuwan. Mereka ingin melihat data apa adanya. Sebba, uji klinis yang dilakukan terlalu cepat. "Saya ingin melihat datanya," ujar Carlos del Rio, dekan eksekutif Fakultas Kedokteran Emory University di Atlanta, Amerika, seperti dikutip NBC News, Sabtu, 5 September 2020. Sebab ada informasi bahwa uji klinis hanya dilakukan terhadap 150 orang saja.

    Ahli jantung di Klinik Cleveland Steven Nissen khawatir bahwa keputusan mengedarkan vaksin ini hasil keputusan politik. "Jika keputusan itu dibuat dari oval office akan ada banyak skeptisisme," kata dia. Nissen menginginkan keputusan dibuat oleh kalangan dokter dan ilmuwan. “Dan bukan oleh pemimpin politik.”

    Kini kita tunggu apa yang akan terjadi pada November nanti di Amerika Serikat.

    Sementara itu dari Rusia muncul pula optimisme perihal vaksin Covid-19. Institut Gamaleya, Kementerian Kesehatan Rusia, telah berhasil membuat vaksin yang disebut Sputnik V. Vaksin ini diklaim menghasilkan anti bodi penetral 1,4 hingga 1,5 kali lebih tinggi dibandingkan yang lain. Kesimpulan itu diperolah berdasar uji klinis tahap satu dan dua terhadap 100 relawan.

    Institut Gamaleya mengungkapkan itu dalam pemaparan kepada media secara virtual pada Jumat malam, 4 September 2020, waktu Jakarta. Mereka menyebut hasil uji klinis tahap I dan II yang dipaparkan telah dipublikasikan di jurnal medis The Lancet.

    "Dalam riset imunogenisitas (kemampuan zat asing memicu respons imun) vaksin ini, kami berhasil menunjukkan bahwa 100% relawan memperlihatkan respons imunitas humoral dan selular," kata peneliti Gamaleya, Irina Dolzhikova. Ia mengklaim uji klinis tersebut tidak menunjukkan efek negative serius.

    Menurut Dolzhikova Sputnik V mampu menghasilkan respons sel T, dan dengan begitu memungkinkan pembentukan respons imun secara penuh. “Sehingga dapat disebut bahwa vaksin ini aman," kata Dolzhikova.

    Sputnik V telah disahkan oleh Presiden Rusia Vladimir Putin pada 11 Agustus lalu. Meski demikian program ini tetap memercikkan keragun sejumlah kalangan. Paslanya, uji klinis tahap tiga saat itu belum dilakukan. Juga tidak ada data riset yang dipublikasikan.

    Apakah keraguan juga muncul dalam program vaksin Covid-19 yang dikembangkan Sinovac Biotech, China? Seperti diketahui vaksin produksi Sinovac telah memasuki uji klinis tahap tiga dan dilakukan dengan massif di beberapa negara, termasuk Indonesia. Di negeri ini pengujiannya dilakukan oleh Tim Riset Uji KLinis Vaksin Covid-19 dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (Unpad).

    Selain uji klinis di berbagai negara, vaksin ini juga disuntikkan kepada 90 persen karyawan Sinovac. CEO Sinovac Biotech Yin Weidong melaporkan bahwa 90 persen karyawan beserta keluarga telah menggunakan vaksin eksperimental tersebut. Pemberian vaksin dilakukan di bawah program penggunaan darurat Cina yang diluncurkan pada Juli.

    Program ini ditujukan untuk kelompok tertentu, seperti staf medis, pekerja di pasar makanan, transportasi, dan jasa. "Sinovac" menawarkan kandidat vaksin kepada sekitar 2.000 hingga 3.000 karyawan dan keluarga mereka secara sukarela," ujar Yin, seperti dikutip Reuters, Minggu, 6 September 2020.

    Siapakah yang akan menang dalam perlombaan menghasilkan vaksin yang paling jos untuk memusnagkan Covid-19? Belum jelas. Lagipula tidak hanya 3 kandidat itu saja yang ada di dalam trek. Di seluruh dunia, saat ini ada 9 dari 29 vaksin sedang diuji pada manusia. "Jika ada pemenang dalam (uji coba) vaksin, kami akan mendapatkannya, tanpa perlu dipertanyakan (keamanannya)," kata penasehat Organisasi Kesehatan Dunia  (WHO) Bruce Aylward seperti ditulis Kompas.com.

    Meski demikian WHO menyatakan tidak bisa mengharapkan vaksinasi Covid-19 hingga pertengahan 2021. Mengutip Reuters, mereka menekankan pentingnya pemeriksaan ketat terhadap efektivitas dan keamanan vaksin.

    Hingga kini, belum ada ddiantara kandidat yang menunjukkan "sinyal jelas" atas kemanjuran vaksin, yakni setidaknya mencapai 50 persen dari relawan. "Kami benar-benar tidak mengharapkan untuk melihat vaksinasi meluas sampai pertengahan tahun depan," kata Juru Bicara WHO Margaret Harris.

    Yang dicari WHO adalah vaksin yang benar-benar protektif dan aman.

    NBC NEWS | FOX NEWS REUTERS | CNA



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.