3 Tip Agar Materi Ajar Daring Lebih Efektif untuk Guru dari PJJ Ilkom UPH - Analisa - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi siswa belajar di rumah. Foto: Tulus Wijanarko

Amanda Nathasia

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 13 April 2020

Jumat, 11 September 2020 13:21 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • 3 Tip Agar Materi Ajar Daring Lebih Efektif untuk Guru dari PJJ Ilkom UPH


    Dibaca : 444 kali

    Dalam kondisi pandemi ini, anjuran untuk tetap berada di rumah menjadi cara yang dipandang sangat efektif dalam mengurangi penyebaran virus Covid-19. Beberapa institusi pendidikan dengan sangat cepat mengambil keputusan untuk “merumahkan” siswa maupun tenaga pendidik mereka.

    Sebagai salah satu pionir program studi (prodi) dengan pendekatan daring (distance learning) di Indonesia, Prodi PJJ (Pendidikan Jarak Jauh) Ilmu Komunikasi UPH membagikan tips untuk para tenaga pendidik di Indonesia agar meningkatkan kemampuan dasar mereka dalam mengadopsi teknologi pembelajaran online. Tips ini disampaikan oleh Rambu Naha, S. I. Kom., M. I. Kom – Acting Ketua Prodi PJJ Ilmu Komunikasi UPH dengan 3 huruf F, D, I agar lebih mudah diingat oleh para guru. Berikut tips-nya:

    F – Format Kelas

    Hal pertama yang perlu disadari adalah guru harus menentukan format kelas yang akan dibawakan. Apakah itu asinkronus atau sinkronus? Bila ingin mengajar dalam format asinkronus, berarti para guru harus memberikan materi ajar dan aktivitas lainnya pada waktu yang berbeda dengan waktu mahasiswa mengaksesnya. Sedangkan sinkronus berarti anda secara termediasi dapat berinteraksi langsung dengan mahasiswa. Namun, tentunya tidak efektif bila hanya dijalankan salah satu.

    “Di PJJ Ilmu Komunikasi UPH, format kelas yang digunakan adalah menggabungkan kedua format ini. Format asinkronus digunakan dengan mengirimkan materi sesi tersebut dalam video lecturing atau bahan referensi lainnya. Di akhir sesi, mahasiswa dapat diberikan tugas ringan hanya untuk menguji pemahaman mereka akan materi yang diberikan. Biarkan mahasiswa menghabiskan waktu belajar mandiri, dan para guru dapat mengevaluasi tugas mahasiswa. Setelahnya, guru dapat mengevaluasi tugas mahasiwa melalui sesi sinkronus untuk berdiskusi membahas hal-hal yang belum dimengerti,” kata Rambu.

    D – Design

    Desain pembelajaran sangat penting untuk direncanakan dalam menentukan strategi sistem belajar-mengajara. Rambu menyatakan bahwa ada 4 fase yang harus dipersiapkan dalam merancang desain pembelajaran, yaitu persiapan, delivery, assessment dan evaluasi.

    Dalam tahap persiapan, tentunya dosen sudah merancang peraturan kelas seperti batas akhir pengumpulan tugas, aturan ketika pelaksanaan kelas sinkronus, dan peta konsep untuk membantu mahasiswa mengukur capaian mereka dalam belajar. Di tahap delivery dan assessment menunjukan beberapa kegiatan seperti membuat jurnal, meminta mahasiswa melakukan riset kecil-kecilan, membaca, mendengarkan atau menonton materi ajar, merangkum, mengadakan kuis, dan kegiatan lainnya.  Selanjutnya  dengan sistem daring pel

    Rambu juga mengingatkan dengan sitem daring ini maka mahasiswa akan berinteraksi dengan para dosen melalui LMS (Learning Management System). Untuk itu pastikan materi ajar seperti power point yang sudah disiapkan harus  mudah dimengerti oleh mahasiswa.

    I – Interaction

    Terakhir  adalah interaksi. Dalam kelas daring, interaksi antar pelajar dapat diciptakan melalui tugas diskusi kelompok atau jenis tugas kolaboratif lainnya. Interaksi antar dosen dan mahasiswa dapat diciptakan melalui forum diskusi tanya jawab atau tes lisan yang dapat menjadi opsi jika berada dalam kelas kecil. Pembelajaran daring juga sangat memungkinkan adanya kolaborasi antar dosen dalam bentuk team teaching.

    Strategi pembelajaran daring harus diperhatikan agar mahasiswa dapat memproses materi dengan efisien. Strategi ini harus membuat mahasiswa dapat memahami materi ajaran dan akhirnya dapat disimpan dalam working memory mereka, dan pada akhirnya dapat diaplikasikan dalam kehidupan mereka. 

    Kita tidak tahu kapan pandemi ini akan berakhir atau bahkan kita harus berdamai untuk hidup berdampingan dengan virus ini. Jadi sebagai tenaga pendidik, kita harus mempersiapkan langkah antisipatif untuk beradaptasi dengan kegiatan belajar mengajar di masa new normal ini. Tentunya proses belajar ini tidak akan pernah putus, harus terus berbenah, mengevaluasi dan memperbaiki. Hal ini juga menjadi komitmen PJJ UPH, untuk terus berinovasi dan meningkatkan kualitas pendidikan.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.