Suka-duka Ibu-ibu Relawan Penghadang Pandemi, Ada yang Dicap Aneh dan Antisosial - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi orang menggunakan masker - Sumber: Freepik.com

Pencerah Nusantara

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Agustus 2020

Selasa, 22 September 2020 11:06 WIB

  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Suka-duka Ibu-ibu Relawan Penghadang Pandemi, Ada yang Dicap Aneh dan Antisosial

    Sama seperti tenaga kesehatan, ibu-ibu kader di RW setempat juga berjuang keras untuk menghadapi pandemi Covid-19. Selain mendapat data-data yang belum terungkap sebelumnya, ibu-ibu kader dan para Ketua RW juga menceritakan perjuangan saat melakukan edukasi Covid-19. “Kita dianggap aneh, pak karena sering pakai masker, terus digunjingin karena dianggap sok bersih,” ujar Ibu Lia kader RW 05. Para kader juga kerap dianggap anti-sosial karena tidak mau berkumpul. Tidak sedikit juga ibu-ibu kader yang akhirnya dikucilkan karena dianggap tidak mau lagi bersosialisasi. 

    Dibaca : 952 kali

    Selain tenaga kesehatan, ibu-ibu kader kesehatan juga berjuang sangat keras selama periode pandemi COVID-19. (Sumber gambar: Dok. Pencerah Nusantara)

     

    “Kader itu gajinya sajuta (sabar, jujur, tawakal) terus gajinya ditabung di Bank BCA alias buat cadangan akhirat, dan selanjutnya ibu-ibu menjadi CPNS alias calon penghuni negeri surga,” kelakar Deni, anggota Tim Pencerah Nusantara Bandung Kulon menyemangati ibu-ibu kader Kelurahan Cigondewah Kidul. “Amin,” jawab ibu-ibu kader lantang menyambut pernyataan Deni. Siang itu, ibu-ibu kader mengikuti diskusi terpumpun isu adaptasi kebiasaan baru (AKB).

    Di samping perihal AKB, dibahas juga angka kematian ibu yang tiba-tiba naik, posyandu yang tidak berjalan, lansia mengalami penyakit kronis kurang terpantau, dan isu lain yang berhubungan dengan unit kesehatan masyarakat esensial puskesmas. 

    Diskusi kala itu berlangsung alot. Dari estimasi awal waktu hanya dua jam diskusi berlanjut hingga lima jam. Awalnya, kami berpikir diskusi ini hanya menjadi ajang tukar pendapat biasa. Namun seiring waktu berjalan, masing-masing kader justru menyampaikan keluhan, pendapat, dan kekesalan yang sepertinya sudah dipendam lama.

    Sebelum diskusi, Tim PN Covid-19 sudah melakukan CRA (Community Readily Assesment), sebuah metode akademik untuk mengetahui keadaan di lapangan. Seperti jauh panggang dari api, ternyata apa yang didapatkan saat assesment awal hanya gambaran superfisial. Kader-kader yang selama ini terjun di masyarakat justru mengungkap fakta-fakta yang tidak kita dapatkan sebelumnya. 

    “Masyarakat tidak peduli dengan Covid-19. Mereka hanya menyamakan Covid-19 dengan bantuan sosial (bansos). Saat kita koar-koar tentang Covid-19, mereka mendengar, tetapi berharap pada akhir pidato saya ada kabar gembira mengenai bansos,” ujar Ibu Euis, Kader RW 04 Cigondewah Kidul. Persoalan bansos yang tidak tepat sasaran kerap menjadi sorotan karena selama ini bantuan belum sepenuhnya terdistribusi kepada masyarakat terdampak.

    Masyarakat yang tinggal di wilayah kumuh padat dan miskin yang kebanyakan pekerja upah harian sangat berharap kepada bansos yang diberikan pemerintah. Mereka tidak sanggup berkompromi dengan Covid-19. “Menyambung hidup saat keadaan normal saja sudah sangat sulit, apalagi saat pandemi seperti ini,” tutur Ibu Euis. 

    Di sisi lain, kematian ibu terjadi, dikarenakan kurangnya pengawasan terhadap ibu hamil. Selama pandemi berlangsung, unit kesehatan masyarakat (UKM) yang berjalan di puskesmas dibatasi sehingga banyak pelayanan berjalan tidak optimal. Banyak ibu hamil tidak mendapatkan pelayanan antenatal care. Efek sekunder yang terjadi adalah minimnya edukasi ibu hamil sehingga mereka tidak tahu tanda kegawatdaruratan yang sedang terjadi. Keterlambatan penanganan terhadap ibu hamil berakibat fatal karena bisa menyebabkan kematian ibu dan bayi.

    Selain mendapat data-data yang belum terungkap sebelumnya, ibu-ibu kader dan para Ketua RW juga menceritakan perjuangan saat melakukan edukasi Covid-19. “Kita dianggap aneh, pak karena sering pakai masker, terus digunjingin karena dianggap sok bersih,” ujar Ibu Lia kader RW 05. Para kader juga kerap dianggap anti-sosial karena tidak mau berkumpul. Tidak sedikit juga ibu-ibu kader yang akhirnya dikucilkan karena dianggap tidak mau lagi bersosialisasi. 

    Kisah pelik lain muncul dari Ibu Euis. Ibu Euis yang mempunyai riwayat asma dan diabetes melitus terkadang tidak sanggup berkeliling mengingatkan warga sekitar. Namun, kurangnya kepedulian dari warga mengharuskan Ibu Euis tetap berjuang melakukan edukasi. “Kondisi rumah saya tinggal di gang pak, jikalau salah satu dari warga gang saya terkena sangat mungkin kami semua juga ikut terkena.” 

    “Sisa tenaga saya tidak banyak. Usia saya tidak lagi muda, tetapi bukan berarti saya tidak bisa ikut berjuang kan”. Ujar Ibu Euis terbata-bata. Ibu Euis tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya. Kepedulian beliau terhadap warga RW 03 Cigondewah Kidul tidak lagi terbantahkan. Beliau sudah menjadi kader bertahun-tahun. Ia menganggap menjadi kader adalah salah satu bentuk pengabdiannya kepada masyarakat. 

    Suasana diskusi bercampur aduk saat itu. Masing-masing berusaha mencerna satu-satu apa yang barus saja disaksikan. Mata kami saling berkaca-kaca. Saat citra masyarakat di mata pemerintah adalah keras kepala, sulit diatur dan bebal, kader adalah orang-orang yang berjuang paling depan mengubah perspektif tersebut. 

    “Mungkin sebenarnya masyarakat yang belum tahu. Mungkin banyak informasi yang tak tersampaikan dengan baik. Mungkin mereka terpaksa melanggar protokol-protokol kesehatan, atau bahkan barangkali mungkin pemerintah hanya berjuang sendiri  tidak  berusaha menggandeng masyarakat untuk berjuang bersama melawan Covid-19”, Pak Umar Ketua RW 04 menutup diskusi. Perang akar rumput bukanlah hal yang mustahil, jika pemerintah dan masyarakat sama-sama menyadari, beban melawan COVID-19 adalah beban bersama.  

     

    Tentang Pencerah Nusantara COVID-19

    Pencerah Nusantara adalah inovasi untuk mengurangi kesenjangan pelayanan publik di bidang kesehatan untuk mewujudkan Indonesia sehat dan sejahtera. Pencerah Nusantara adalah gerakan penguatan pelayanan kesehatan primer (puskesmas) yang terdiri dari tim pemuda multi-profesi kesehatan yang ditempatkan di puskesmas dengan masalah kesehatan untuk bekerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan. Pencerah Nusantara COVID-19 hadir membantu puskesmas di wilayah Jakarta dan Bandung dan menguatkan puskesmas menghadapi pandemi COVID-19 selama periode enam bulan penempatan. Sejak tahun 2015, model intervensi puskesmas berbasis Tim Pencerah Nusantara diadopsi Kementerian Kesehatan sebagai Nusantara Sehat.  

     

    Penulis:

    Andre Patar Saroha Situmorang (Dokter)

    Pencerah Nusantara Kecamatan Bandung Kulon, Kota Bandung

               



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.