Ketika Barongsai Menari - Dilema Orang Tionghoa Pasca 1998 - Analisa - www.indonesiana.id
x

cover foto Ketika Barongsai Menari

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 2 Oktober 2020 05:42 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Ketika Barongsai Menari - Dilema Orang Tionghoa Pasca 1998

    Peristiwa kerusuhan etnik 1998 membuat banyak orang tionghoa yang meinggalkan Indonesia dan bermukim di luar negeri. Novel ini menggambarkan dilema orang-orang Tionghoa yang berada di luar negeri karena kerusuhan 1998, ketika era reformasi datang dan pengakuan kepada orang Tionghoa sebagai bagian dari Indonesia direkognisi.

    Dibaca : 317 kali

    Judul: Ketika Barongsai Menari

    Penulis: V. Lestari

    Tahun Terbit: 2000

    Penerbit: Gramedia Pustaka Utama                                                                    

    Tebal: 400

    ISBN: 979-655-515-8

     

    Novel ini mengambil latar belakang kerusuhan tahun 1998. Kerusuhan yang difokuskan kepada etnis Tionghoa. V. Lestari mengambil peristiwa penjarahan dan pembunuhan etnis Tionghoa di sebuah perumahan mewah di utara Jakarta. Novel ini pertama kali terbit pada tahun 2000. Sehingga jaraknya tak  terlalu lama dari kejadian yang sesungguhnya. Jika diperlukan waktu sekitar 6-12 bulan untuk menulis novel ini, maka proses penulisannya kira-kira hanya berjarak 1 tahun dari peristiwa kerusuhan di penghujung kekuasaan Orde Baru tersebut.

    Peristiwa penjarahan yang disertai dengan pembunuhan dan perkosaan yang terjadi di Bulan Mei 1998 itu sungguh biadab. Peristiwa itu menyebabkan banyak orang-orang Tionghoa yang mampu, meninggalkan Indonesia. Hal ini tentu bisa dimengerti sebab peristiwa yang terjadi memang sungguh ngeri. Setahun setelah persitiwa itu, muncullah dilemma di kalangan orang Tionghoa yang meninggalkan Indonesia karena kerusuhan tersebut. Apakah mereka harus kembali? Untuk apa? Atau mereka memilih untuk terus tinggal di negeri barunya? Apakah akan mampu beradaptasi? Bukankah mereka ini pada umumnya adalah orang-orang yang sudah dewasa dan sudah berbahasa dan berbudaya Indonesia? Apakah mereka akan mampu menghadapi budaya dan bahasa yang asing sama sekali?

    Namun untuk kembali mereka masih dihantui oleh trauma yang luar biasa. Penjarahan dan pembunuhan ditengarai tak hanya dilakukan secara spontan oleh masyarakat biasa. Tetapi banyak yang menduga peristiwa ini dirancang sedemikian rupa. Bahkan ada beberapa kasus, para mitra kerja ada yang mengambil kesempatan di masa duka ini.

    V. Lestasi membuka kisahnya dengan pasangan muda yang pindah rumah ke perumahan sepi di utara Jakarta. Perubahan ini dulunya adalah perumahan elite yang dihuni oleh kebanyakan orang-orang Tionghoa. Namun di tahun 1998, perumahan ini dijarah dan ditinggalkan oleh para penghuninya. Pasangan Adam, seorang arsitek dan Kristin yang sedang mengandung bayi pertamanya pindah ke rumah yang didisain oleh Adam. Kristin sangat senang dengan rumah tersebut. Sampai suatu hari ia melihat seorang pemuda mengamatinya dari depan rumahnya. Mula-mula Kristin tidak merasakan keanehan terhadap sang pemuda yang beberapa kali muncul di depan rumahnya itu. Sampai suatu saat ketika ia sedang membuka-buka album keluarga di rumah tetangganya, ia sangat terkejut karena ternyata pemuda tersebut adalah Soni, calon menantu keluara Henry dan Maria yang ikut tewas dalam peristiwa pembakaran perubahan tersebut.

    Keterkejutan Kristin sampai membuat ia harus segera melahirkan. Untunglah, meski tidak ditunggi oleh sang suami, Kristin melahirkan anak lelaki yang sehat. Anak tersebut diberi nama Jason. Entah darimana Kristin dapat ide untuk memberi nama anaknya dengan Jason. Jason, dipanggil “Son” seperti halnya Soni yang juga dipanggil “Son.”

    Anehnya sang anak selalu menangis saat didekati oleh Adam. Ketidak-akuran Adam dengan anaknya yang masih bayi ini membuatnya menuduh Kristin selingkuh. Adam menuduh bahwa Kristin selingkuh. Hubungan mereka menjadi kurang selaras sejak Jason hadir.

    Hendy dan Maria adalah pasangan Tionghoa yang kembali menempati rumahnya setelah peristiwa penjarahan. Henry kehilangan pabriknya dan rumahnya. Setelah melakukan pembenahan rumahnya yang bekas dijarah, mereka kembali ke rumah tersebut. Mereka berdua tak memilik altiernatif untuk tinggal di tempat lain karena semua hartanya telah ludes dijarah. Pabriknya dibakar. Henry dan Marialah yang kemudian menjadi tetanggal pasangan Adam-Kristin di perumahan tersebut.

    Anak pertama Maria, Susan sedang bersekolah di Selandia Baru saat peristiwa kerusuhan terjadi. Susan yang menjadi pacar Soni menjadi sangat kecewa dengan peristiwa yang membunuh calon suaminya tersebut. Ia memilih untuk tidak pulang ke Indonesia karena ia merasa bahwa ia tidak lagi diterima sebagai orang Indonesia.

    Sementara saat kerusuhan, Soni sedang sendiri di Indonesia. Papa dan mamanya sedang ke Amerika menengok abangnya yang menjadi dokter di New York. Soni terbunuh. Mayatnya ditemukan dalam kondisi hangus terbakar. Pasangan Bun Liong dan Lian Nio sempat tinggal di New York beberapa waktu. Namun setelah mendapat khabar bahwa di masa Reformasi keadaan Indonesia menjadi lebih baik. Apalagi pemerintah mengijinkan para orang tionghoa untuk mementaskan budayanya. Barongsai kembali menari di jalan-jalan. Kelenteng-kelenteng kembali ramai. Perayaan-perayaan keagamaan dan kebudayaan, seperti Imlek, Cengbeng dan Cap Go Meh bisa dirayakan dengan bebas. Pasangan ini memutuskan untuk pulang ke Jakarta. Pasangan yang sudah tua ini merasa akan sangat sulit untuk menyesuaikan dengan budaya dan bahasa baru kalau menetap di Amerika. Lagi pula, mereka kehilangan teman.

    Selain membangun ceritanya dengan bumbu psikologi yang menegangkan, V. Lestari membangun plotnya ala ceita detektif. V. Lestari menggunakan tokoh Harun, seorang mantan Satpam di permuahan mewah yang terbakar, sebagai pembuka kisah detektif. Di sinilah terlihat kepiawaian V. Lestari dalam mengembangkan novel ini. Tema besar kegalauan orang-orang Tionghoa yang pergi meninggalkan Indonesia – apakah harus pulang atau memutuskan untuk melupakan Indonesia, menjadi semakin menarik. Melalui kisah detektif ini V. Lestari mengungkapkan bahwa dalam peristiwa 1998, ternyata ada juga pihak-pihak yang menelikung koleganya.

    Harus yang tiba-tiba muncul di rumah Maria membuat kisah terbunuhnya Soni kembali menjadi perbincangan. Apakah Soni memang ada di rumah saat perumahan tersebut dijarah dan dibakar? Atau sebenarnya rumah itu kosong dan mayat yang ditemukan adalah mayat dari salah satu penjarah? Atau memang benar Soni mati terpanggang? Tetapi mengapa ia tidak merespon saat Harus menggedor-gedor pintu rumah Soni karena melihat para perusuh mulai mendekati perumahan tersebut? Tak mungkin Soni tak mendengar.

    Apalagi Harun melihat seseorang keluar dari rumah tersebut mengendarai sepeda motor. Meski Harun tidak pasti siapa sebenarnya orang tersebut. Harus memutuskan untuk mencari tahu lebih banyak dengan mengunjungi Kampung Belakang, dimana banyak penduduknya ikut menjarah pada peristiwa 1998. Di sana ia bertemu dengan Angga, seorang pemuda yang menjadi saksi penjarahan. Melalui perbincangan dengan Angga inilah Harus mulai curiga bahwa yang naik sepeda motor menjelang kerusuhan adalah Adam! Penyelidikan Harus berakhir tragis karena ia mati dipukuli warga karena disangka pencopet. Terbunuhnya Harun menyebabkan pembuktian bahwa Adamlah yang membunuh Soni menjadi macet. Bukankah pembuktian terhadap kasus-kasus pembunuhan, penjarahan dan perkosaan 1998 memang banyak yang macet.

    V. Lestari memilih mengakhiri kasus pembunuhan Soni dengan cara Tionghoa. Karma! Orang Tionghoa percaya kepada karma. Perbuatan jahat akan terbalaskan oleh alam.

    Adam yang semakin panik karena takut ketahuan bahwa dialah yang membunuh Soni dan semakin merasa diteror oleh wajah Soni yang senantiasa muncul saat ia melihat Jason, menyiapkan skenario kebakaran di rumahnya sendiri. Ia menyiapkan segelas minuman jeruk yang diberi obat tidur. Sebelum ia meninggalkan rumah, ia memberikan minuman tersebut kepada Kristin.

    Betul saja Kristin segera tertidur. Saat itulah Adam kembali ke rumah, melepas pakaian yang dipakainya dan membuat listriknya korslet. Namun saat ia berupaya membakar rumahnya sendiri, ia melihat wajah Soni. Adam terjebak di atap rumah yang terbakar.

    Bagaimana dengan nasip Kristin selanjutnya? Tom, abang Soni yang saat itu datang ke Jakarta ternyata jatuh cinta kepada Kristin dan Jason. Tom yang pernah dikhianati oleh istrinya disangka oleh keluarganya sudah tidak tertarik untuk menikah lagi. Namun saat Susan, pacar Soni pergi ke New York, harapan kecil supaya Tom menikah dengan Susan mulai muncul. Namun ternyata Tom lebih tertarik kepada Kristin dan Jason anaknya. Tom melamar Kristin untuk menjadi istrinya.

    Apakah Tom kemudian memutuskan untuk tinggal kembali di Jakarta karena telah menemukan tambatan hati? Ternyata tidak. Tom meminta Kristin untuk ikut dengannya tinggal di Amerika!

    V. Lestari sangat hati-hati dalam memilih tokoh. Tokoh Adam dan Kristin digambarkan sebagai orang-orang yang memiliki darah Tionghoa. Dengan demikian V. Lestari tidak menghadapkan secara diametral antara Tionghoa dan bukan Tionghoa. Siapa pun bisa berbuat culas jika dibakar oleh rasa cemburu dan kesempatan memungkinkan.

    Seperti Adam yang cemburu karena merasa bahwa orang-orang Tionghoa bisa kaya raya, sementara dia yang bekerja keras tetap saja miskin. Maka, saat kesempatan tiba, yaitu saat Soni mengambil uang dalam jumlah banyak, dan mereka hanya berdua, Adam membunuh Soni dengan sekali hantam. Ia membawa lari uang dalam jumlah besar tersebut. dengan uang itulah dia bisa membeli rumah bekas rumah Soni dan membangunnya. Untung setelah pembunuhan terjadi penjarahan. Maka Adam merasa bahwa pembunuhan yang dilakukannya tak akan ketahuan. Namun karma ternyata lebih berkuasa.

    Haruskah orang-orang Tionghoa tak lagi harus menuntut keadilan dan berserah kepada karma terhadap segala peristiwa tragis yang menimpanya?

     

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.