Penceramah Bersertifikat, Good Looking, Versus Radikalisme - Analisa - www.indonesiana.id
x

Dialektika Ruang Publik

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 13 Oktober 2020

Selasa, 13 Oktober 2020 10:09 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Penceramah Bersertifikat, Good Looking, Versus Radikalisme


    Dibaca : 497 kali

    PENCERAMAH BERSERTIFIKAT, GOOD LOOKING VERSUS RADIKALISME

     

    SERTIFIKAT 

    SERTIFIKAT menurut pengertian bahasa Indonesia adalah tanda atau surat keterangan pernyataan tertulis atau tercetak dari orang yang berwenang yang dapat digunakan sebagai bukti pemilikan atau suatu kejadian. Penceramah atau Ustadz itu adalah orangnya. Kemudian timbul pertanyaan, Apakah penceramah itu sebaiknya good looking dan bersertifikat? Apakah Penceramah radikal itu sangat berbahaya untuk membelah bangsa?

    Coba kita analisis!!

    Saya akan masuk ke dalam rasio pemikiran saya dan kemudian saya akan mengkritiknya secara rasionalis

    Coba kita apriori kan melaui 1 literasi saja, Jika Seseorang meninggal dunia maka terputus amalannya kecuali 3 perkara. Poin saya adalah “ilmu yang bermanfaat”. Coba saya hubungkan dengan sertifikat. Saya mencontohkan. Anak 10 tahun hafidz Quran dan mengajarkan ilmu pengetahuan agama kepada semua orang dewasa, remaja, anak-anak bahkan orang tua juga mualaf. Kemudian anak ini datang ke Kemenag RI. Dia bilang, “Pak, saya dikasih sertifikat juga?"

    Poin saya adalah ilmu boleh dimiliki siapa saja sekalipun anak berusia 10 tahun tanpa harus dibebani sertifikat. Apa penceramah 10 tahun itu dianggap radikal? Saya yakin dan percaya bahawa anak 10 tahun yang dianggap radikal itu tidak akan membelah bangsa meskipun dalam jumlah yang cukup banyak. Justru sebaliknya karena pemikiran radikal anak 10 tahun itulah islam akan mencerahkan keislaman bangsa.

    Kemudian saya akan membandingkan dengan analisis empiris saya.

    Ada 8200 sertifikat yang akan disediakan kementerian agama. Pertanyaannya Apakah sertifikat dapat  menyelesaikan masalah? Pemerintah sebaiknya mencoba pecahkan masalah masalah yang lebih substantif tentang keagamaan Indonesia terutama masalah keterbelahan umat Islam dan agama lainnya. Itu yang penting.

    Poin saya adalah pemerintah harus membuat program program yang lebih dapat dianalisis logis dan empirisnya terutama dampaknya pada agama itu sendiri dan masyarakat. Kemudian mengeksekusi program tersebut dengan hati-hati secara dialogis dalam mengembangkan diksi positif pada publik dengan tidak membuat resah, marah dan rasa curiga masyarakat yang menimbulkan kesan bahwa pemerintah dianggap salah dalam mengambil keputusan. Point saya adalah pemerintah dalam membuat literasi bisa diuji dengan akal sehat melaui tesis dan antithesis sebelum tumpah ke ruang publik.

    Uji coba saya tentang tesis dan ati tesis penguasa

    Kalau seandainya penceramah bersertifikat itu nantinya ada bagaimana kalau dibalik dengan wacana: Bagaimana kalau pejabat DPR bersertifikat? Bagaiamana kalau pejabat eksekutif bersertifikat? Pejabat yudikatif juga bersertifikat?  Yang diuji fit dan proper test-nya oleh seluruh rakyat Indonesia.

    Kemudian timbul pertanyaan:

    Apakah penguasa marah/senang?

    Apakah Rakyat senang/marah?

    Rakyat marah ketika mereka menuntuk haknya soal keadilan yang tidak terpenuhi. Penguasa marah ketika mereka ingin mempertahankan kekuasaan dengan kekerasan, menindas, menghukum, membuat hoax, dan seterusnya ketika kekuasaannya sedang diganggu. Ini sangat kontra produktif bagi kedua belah pihak.

    Penceramah itu menurut saya seharusnya mutu/kualitas penceramahlah yang terus menerus di upgrade. Bukan sertifikatnya yang diperbanyak. Apakah mutu/kualitas penceramah ditentukan dengan sertifikat? Ya, nggak doong! Tapi ditentukan dengan isi konten dari si penceramah.

     

    KRITIK SAYA ADALAH:

    • Penceramah menurut pandangan saya adalah orang yang memberi ilmu tentang keislaman kepada siapa saja yang mau menerimanya dengan tidak memandang good looking atau radikal. Pemikiran radikal menurut saya ada di dunia kampus yang berarti berfikir mengakar dan mendalam. Semakin radikal dalam pemikiran penceramah maka semakin bertambah ilmu penegtahuan tentang keagamaan dibandingkan dengan good looking tapi tidak bermutu isi ceramahnya dan berpihak pada yang salah demi suatu kepentingan. Disitu yang membuat perbedaan seorang penceramah radikal yang menjadi ber akal sehat, produktif dan mencerahkan umat di bandingkan penceramah good looking akan tetapi….
    • Pemerintah tidak perlu berimajinasi yang berlebih lebihan menanggapi soal isu isu yang beredar di masyarakat. Kalau seandainya pemerintah menahan sedikit saja dengan melakukan tindakan komunikatif yang menanamkan pemahaman dialogis melalui dialektika diskursus dan lain sebagainya secara tidak langsung telah mengobati hati dan meredakan kemarahan masyarakat maka akan nampaklah pencerahan itu.
    • Tugas besar pemerintah adalah menjaga kerukunan umat agar tidak semakin terbelah. Bukti rasionalitas dan empirisitas adalah suatu pengujian absolut dari sebuah narasi, literasi, diksi, isu dlsb yang telah beredar dimasyarakat harus dicari sintesisnya oleh pemerintah.
    • Jika anda benar benar ingin membuat 8200 sertifikat dan menambah menambahnya lagi, maka mereka akan berbondong bondong masuk ke kantor untuk membuat sertifikat dan anda harus menyiapkan administrasinya juga makan dan minumnya dong.
    • Jika pemerintah terus ingin menyediakan 8200 sertifikat sementara yang lainnya tidak bersertifikat maka akan timbul:
    1. Strata/kepangkatan dalam berceramah. Anda sedang menciptakan diskriminasi penceramah penceramah. Sulit sekali membedakan antara isi ceramah yang berkualitas dengan ceramah yang meng ”akali” kan banyak orang.
    2. Kelompok-kelompok penceramah yang meng awali terjadinya perselisihan dan saling menyerang. Anda telah membuat scenario perang kecil antar umat atas tuduhan tuduhan yang dipaksakan, makar yang membuat mereka semakin berakal sehat berfikir dua kali untuk mempercayai anda. Dan akan berbalik menkritik anda semakin tajam.
    3. Akan terjadi 2 blok penceramah yaitu Pro Pemerintah dan Pro 411/212. Perang telah dimulai atas dasar kehilangan kepercayaan terhadap pemerintah. Umat islam semakin terbelah. Mereka saling membunuh ideologi keislaman mereka masing masing yang sangat bertentangan dengan esensi islam itu sendiri.
    4. Ini yang berbahaya, Adanya kuda hitam /kepentingan kepentingan lain menyusup masuk kedalam pertikaian yang akan menambah keruhnya suasana. Ini yang akan memungkinkan bangkitnya ideology komunis Indonesia. Mereka yang sempat di tekan, ditindas dibully semasa orde baru akan mengambil kesempatan ini sebagai jalan untuk membela diri, melepaskan diri dari cap sebagai eks PKI positif yang membela ideologi Pancasila. Di satu sisi ekstrim kanan akan berusaha membangkitkan ideology khilafah yang sangat relevan dengan sila pertama pancasila apalagi waktu sidang BPUPKI-PPKI umat Islam ekstrim kanan telah membuat gagasan pada sila pertama yaitu ketuhanan yang berdasarkan syariat Islam. Ekstrim kanan dan kiri ini bertolak dari ketidak puasan terhadap pemerintah terutama soal keadilan. Disisi lainnya ada gerakan gerakan lainnya seperti teroris ISIS, Syiah, Wahabi dari timur tengah dan lain sebagainya yang siap akan menusuk dari belakang bila kepercayaan terhadap pemerintah hampir hilang. Ini yang akan menentukan akhir dari kudeta dengan cara merangkak yang lambat laun menjadi revolusi bahkan menjadi revolusi berdarah sekalipun.

    Tuhan membolak balikkan hati manusia. Masih ada jalan untuk merajut kepercayaan itu. Saya yakin ini bisa dirajut meskipun berat. Perlu adanya ketekunan, kerja keras pemerintah untuk sering menciptakan dialog, dialektis pada organisasi/kelembagaan antar agama.

    Try think abaout it. Jagalah kekecewaan, kemarahan itu agar tidak semakin bertambah memuncak  yang berujung pada tindakan anarkis.

    Sekian dari saya, terimakasih.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.









    Oleh: Napitupulu Na07

    4 hari lalu

    Sepuluh Aturan Emas Pengelolaan Risiko Banjir (10 Golden Rules of Flood Risk Management)

    Dibaca : 392 kali

    Dalam Undang Undang No 17 tahun 2017 tentang Sumber Daya Air (SDA), pada Bagian Keempat Pasal 35, pengertian “Pengelolaan Banjir” adalah “Pengendalian Daya Rusak Air”. Pasal 35 ayat (1) Pencegahan Daya Rusak Air dilakukan secara menyeluruh yang mencakup upaya pencegahan, penanggulangan, dan pemulihan; Ayat (3) Pencegahan Daya Rusak Air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditujukan untuk mencegah terjadinya bencana yang diakibatkan Daya Rusak Air. Penjelasan Pasal 35 ayat (3) Yang dimaksud Daya Rusak Air antara lain, berupa: a. banjir (banjir adalah peristiwa meluapnya air melebihi palung sungai atau genangan air yang terjadi pada daerah yang rendah dan tidak bisa terdrainasikan – SNI 2415-2016); b. erosi dan sedimentasi; c. tanah longsor; d. banjir lahar dingin; e. perubahan sifat dan kandungan kimiawi, biologi, dan fisika Air; g. terancam punahnya jenis tumbuhan dan/atau satwa; h. wabah penyakit; i. tanah ambles; j. intrusi, dan/atau; k. perembesan. Beberapa kecenderungan (trend) “Pengelolaan Risiko Banjir” yang berkembang di Eropa, China dan Australia ditulis oleh Sayer et.al 2012 sebagai 10 Golden Rules of Flood Risk Management. Saudara Ir. Slamet Budi Santoso Dipl. HE (Pengamat: persungaian terkait banjir, kekeringan dan pencemaran) telah menyadur tulisan Sayer et.al 2012 tersebut, dan sekaligus mengaitkannya dengan kondisi dan praktek penanganan Banjir di Indonesia. Melihat tantangan permasalahan Banjir ke depan yang semakin berat dan meluas akibat masifnya alih fungsi tutupan lahan dan hutan DAS hulu, ditambah perubahan iklim; Penulis menilai pemahaman Aturan Emas terkait Risiko Banjir ini penting sebagai referensi bagi para akademisi, tenaga ahli dan pengamat banjir di Indonesiana.