Inilah Jejak Perjalanan Investasi Tiongkok di Asia Tenggara - Analisa - www.indonesiana.id
x

Chika Lestari

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 31 Juli 2020

Rabu, 28 Oktober 2020 06:58 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Inilah Jejak Perjalanan Investasi Tiongkok di Asia Tenggara

    Dalam berinvestasi, Tiongkok lebih mantap menanamkan modalnya di wilayah Asia Tenggara. Mulai dari Thailand, Brunei, Vietnam, Indonesia, hingga Malaysia. Mengapa negara ini lebih memprioritaskan kawasan Asia Tenggara sebagai tujuan ketika investasi?

    Dibaca : 619 kali

    Dalam berinvestasi, Tiongkok lebih mantap menanamkan modalnya di wilayah Asia Tenggara. Mulai dari Thailand, Brunei, Vietnam, Indonesia, hingga Malaysia. Hubungan perekonomian ini tentunya menguntungkan bagi sebagian negara yang mendapat kucuran investasi tersebut. Karena dari investasi tersebut, devisa negara tersebut akan bertambah, lapangan pekerjaan terbuka luas, serta transfer of knowledge, skill, and technology akan terjadi. 

    Sebagai negara yang saling bertetangga, Indonesia dan Malaysia sama-sama ‘terguyur’ investasi dari Tiongkok. Investasi Tiongkok ke Indonesia dimulai pada tahun 2008 melalui Grup Tsingshan yang membangun perusahaan smelter di kawasan industri Sulawesi Tengah yakni Morowali.

    Sedangkan di Negeri Jiran Malaysia, investasi Tiongkok digunakan untuk mengembangkan Pantai Timur Semenanjung Malaysia yang selama ini kurang berkembang. Singkat cerita, pada masa Perdana Menteri Najib Razak di tahun 2009-2018, ada upaya khusus untuk menarik FDI (foreign direct investment) Tiongkok ke Malaysia. Salah satunya melalui kunjungan Najib ke Tiongkok pada November 2016 dan penandatanganan perjanjian yang bernilai 114 juta ringgit (34,7 juta dollar AS) untuk produksi sel surya dan modul di bawah Wuxi Suntech Power di MCKIP (Malaysia-China Kuantan Industrial Park). Najib juga mengikuti KTT BRI (Belt and Road Initiative) yang diadakan di Tiongkok pada Mei 2017 di Beijing. 

    Walaupun pemerintahan sempat berganti di tahun 2018, namun hal ini tak mengubah tanggapan positif Malaysia terhadap perjanjian BRI. Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad, pun rupanya juga mengunjungi KTT BRI kedua pada Mei 2019 yang menjadi simbol dukungan berkelanjutan bagi Malaysia untuk proyek-proyek BRI. Bahkan, Pembentukan Komite Nasional Investasi (NCI) pada 2019 juga dimaksudkan untuk mempercepat persetujuan investasi akibat perang dagang dan relokasi investasi Tiongkok. 

    Mengenai MCKIP, perusahaan hasil investasi Tiongkok-Malaysia ini diresmikan pada 2013. MCKIP merupakan patungan dari 51% dimiliki Malaysia dan sisanya adalah Tiongkok. Berlokasi di Kuantan, Pahang, perusahaan ini berdekatan dengan pelabuhan Kuantan yang menghadap Laut China Selatan. Perdana Menteri Najib memanfaatkan investasi Tiongkok ini untuk mendorong pembangunan ekonomi di Pantai Timur Semenanjung Malaysia yang selama ini kurang terjamah.

    Hingga 2019, MCKIP memiliki 10 proyek yang berkomitmen dengan total investasi mencapai 18 miliar ringgit. Salah satu proyek yang beroperasi di sana adalah Alliance Steel yang 100 persen dimiliki Tiongkok. Diharapkan investasi ini dapat menciptakan 20.000 lapangan kerja bagi penduduk setempat di daerah tersebut. 

    Dengan hadirnya investasi Tiongkok di Malaysia maupun di negara lainnya, menunjukkan bahwa negara telah meningkatkan investasi dan peluang kerja di negara masing-masing. Selain itu, daerah yang dulunya belum sempat terjamah dan dianggap kurang maju kini bisa sejajar dengan wilayah lainnya di negara tersebut, selangkah lebih maju.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.