Hikayat Pasal 5 Ayat 1: Lah, Kok Gak Ada, Dikemanain? - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi Perundingan

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Minggu, 8 November 2020 11:56 WIB

  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Hikayat Pasal 5 Ayat 1: Lah, Kok Gak Ada, Dikemanain?

    Nah, pasal 5 itu tidak ada di naskah yang diteken Sesepuh Ndeso, padahal itu titipan blio, dan blio sudah wanti-wanti betul jangan sampai ketinggalan. Aku sama kamu bisa kena masalah, terutama kamu. Itu bukan salah ketik, tapi lupa ketik. Atau, jangan-jangan sudah diketik lalu ada yang menghapus? Waduh, sudah diteken pula. gimana kamu mau mengubah?

    Dibaca : 1.796 kali

    Joz, pasal itu sudah masuk ke draf kan?

    Pasal yang mana, kang bro, kan banyak?Soal sawah, kebon, upah, pesangon, pengairan, ternak bebek, tanah bengkok, jalan desa, terus apa lagi ya... seinget saya semua sudah masuk sesuai rencana, yang mana yang akang bro maksud?

    Yang itu, tuh, masak kamu lupa ya? Yang berkali-kali aku ingetin!

    Oh yang itu.... he he he... Sudah, kang bro! Pokoknya beres.

    Ayatnya juga sudah masuk?                                            

    Sudah kang bro, tenang saja, dari ayat 1 sampai 5 sudah masuk.Semua sepakat aklamasi, disetujui tanpa perdebatan, jadi gak akan dihapus.

    Kok lima, aslinya kan cuma empat. Ditambahi apa?

    Oh iya kang bro, bener empat... sudah kemarin dulu aku lihatnya, jadi agak lupa. Bener empat, bukan lima.

    Kalau lupa, kamu sama aku bisa repot.

    Habis banyak yang nitip, kang bro. Habis titipannya juga banyak.Jadinya pasal dan ayat nambah banyak banget.

    Lho, selain aku, ada yang nitip? Siapa?

    Masih kawan-kawan kita juga, kang bro. Gak usah khawatir.

    Apa nanti gak tabrakan?

    Sudah diatur sedemikian rupa biar gak ada yang tabrakan. Semua diakomodasi. Semua bahagia.

    Kok bisa?

    Kan semangatnya sama, kang bro. Sama-sama membahagiakan. Sama-sama membantu. Semua ditampung untuk kebaikan bersama.

    Kebaikan bersama siapa?

    Ya kita-kita sajalah. Emangnya siapa lagi?Kita kan sudah keluar duit banyak untuk ongkos ini itu.

    Jadi, semua teman kita pada nitip?

    Iya, dan itu lebih bagus. Sebab, kalau ada yang tidak sengaja tertinggal atau sengaja ditinggal, nanti malah bikin repot.

    Kenapa begitu?

    Ya ia lah, ntar dia buka mulut. Masker mah tinggal diplorotin, gampang, lalu dia nyrocos kemana-mana. Malah potensial kacau, kan, kang bro.

    Iya sih. Pinter juga kamu.

    Pokoknya kita saling mendukung. Sekalipun bidangnya berbeda, tidak akan tabrakan, tetap saling mendukung.

    Sinergi ya

    Iya sinergi, saling menguntungkan, simbiosis mutualis. Jadi gak usah khawatir, kang bro. Semua sudah ditangani. Tim kita luar biasa kompak kok.

    Drafnya sendiri sudah beres?

    Sudah kang bro, dan semuanya sudah ditulis dengan cermat, hingga titik koma. Dengan teliti, kang bro. Ada yang kita tugasi melototi ayat demi ayat, jangan sampai ada yang luput, lupa, atau ketinggalan.

    Tapi aku denger banyak yang salah ketik.

    Versi mana yang dibaca kang bro?Mungkin draf 1, 2, atau 3, atau 7? Dinamis, kang bro, sepanjang belum diteken masih bisa diubah, dikurang, ditambah, dihapus, diganti.

    Ini justru naskah terakhir, yang sudah diteken pak sesepuh Ndeso.

    Ah, gak mungkin, semua sudah difilter, sudah dipelototi, sudah disisir satu satu dari pagi sampai malam sampai pagi lagi. Kemungkinan tidak dimuat itu nol persen, bahkan salah ketik juga nol persen. Apalagi kalau sudah diteken Sesepuh Ndeso, berarti semuanya sudah clear, kang bro. Don’t worry be happy.

    Lha ini, aku lagi baca salinan draf terakhirnya. Ini, naskahnya di depan mataku!

    Draf yang mana?

    Yang sudah diteken Sesepuh Ndeso! Kok nanya lagi!

    Terus?

    Pasal 6 memang ada, seperti kata kamu. Tapi...! Wah ini masalah serius... kamu teledor! Kurang awas! Apa orang-orangmu pada tidur?

    Tapi apa, kang bro?Serius lho, kang bro. Jangan bercanda.

    Tapi pasal 5 ayat 1 sampai 4 itu gak ada. Kamu bilang sudah masuk, tapi ini nyatanya gak ada. Ini kosong, cuma ada judulnya. Ayat 1 juga cuma titik-titik...

    Hah? Gak mungkinlah. Aku kawal terus kok...

    Ini buktinya.

    Coba bacain, kang bro!

    Nih bunyi Pasal 6: ‘Jika Sesepuh Ndeso dianggap salah, lihat Pasal 5 Ayat 1.’

    Nah, itu sudah betul, kan?

    Pasal 6 ada, tapi pasal 5nya gak ada, tahu! Padahal itu penting untuk melindungi Sesepuh Ndeso. Kamu ingat gak bunyinya?

    Iya, kang bro... ingat, kang bro...

    Coba sebutin!

    ee... ee....

    Buka catatanmu!

    Siap, kang bro. Pasal 5 ayat 1: ‘Sesepuh Ndeso tidak pernah bersalah ataupun berbuat kesalahan.’

    Nah, pasal 5 itu tidak ada di naskah yang diteken Sesepuh Ndeso, padahal itu titipan blio, dan blio sudah wanti-wanti betul jangan sampai ketinggalan. Aku sama kamu bisa kena masalah, terutama kamu.

    Tapi kenapa tadi Sesepuh Ndeso diam saja? Tidak ngasih tahu kalo ada yang salah, langsung teken. Mestinya kan blio sudah baca kan, kang bro?

    Yang bener, kamu! Sesepuh Ndeso disuruh baca naskah setebal 2.345 halaman? Mana sempat? Blio itu sibuk, sangat sibuk sekali. Itu kan tugas timmu. Kamu inget kan, itu pesenan Sesepuh Ndeso langsung, kenapa sampai kelewat? Gawat tahu.

    Tenang, kang bro. Gak sengaja. Mestinya sudah masuk. Jangan keburu marah. Aku jamin, itu hanya salah ketik. Maklum sudah dua bulan tiap hari tidur cuma dua jam. Jangan marah, kang bro. Masih bisa dikoreksi, sekarang juga aku perbaiki... Aku balik arah nih, gak jadi pulang, tapi langsung meluncur ke markas tango...

    Itu bukan salah ketik, tapi lupa ketik... Atau, jangan-jangan sudah diketik lalu ada yang menghapus? Siapa kira-kira yang ngapus? Waduh, sudah diteken pula... gimana kamu mau ngubah?

    Kan belum disebarkan, kang bro. Tanda tangannya juga cuma di halaman depan. Tenang ya... tenang.... Lagi pula itu cuma kekeliruan teknis... typo ... bukan substansial... nih, aku sudah hampir sampai markas ya...nanti aku kirim versi yang paling kekinian dari yang terkini... dijamin pasal 5 itu akan ada.

    Inget ya, pasal 5 empat ayat, bukan pasal 4 lima ayat! Dan ayat 1 itu yang terpenting.

    Asyiaappp, bro, lima ayat .. eh ... empat ayat...pasal 5. >>



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.