Kontribusi Morowali: Dari PAD Hingga Pembangunan Infrastruktur - Analisa - www.indonesiana.id
x

Tania Adin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 31 Juli 2020

Rabu, 18 November 2020 12:50 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Kontribusi Morowali: Dari PAD Hingga Pembangunan Infrastruktur

    Menurut Gubernur Sulawesi Tengah, Longki Djanggola, dirinya memaparkan bahwa ekonomi Sulawesi Tengah terkatrol berkat industri pengolahan nikel yang ada di Morowali, Sulawesi Tengah yakni kawasan industri Morowali.

    Dibaca : 291 kali

    Sebuah opini mengenai kontribusi kawasan industri Morowali beredar deras. Dinyatakan, bahwa perusahaan nihil kontribusi bagi negara. Mengapa opini tersebut mendadak mencuat? Di dalam opini tersebut dinarasikan, bahwa aturan yang diciptakan Pemerintah Indonesia terlalu memudahkan pengusaha industri pemurnian mineral karena tidak diwajibkan menyerahkan royalti ke pendapatan asli daerah (PAD). 

    Padahal, menurut Gubernur Sulawesi Tengah, Longki Djanggola, dirinya memaparkan bahwa ekonomi Sulawesi Tengah terkatrol berkat industri pengolahan nikel yang ada di Morowali, Sulawesi Tengah yakni kawasan industri Morowali. Adanya industri pengolahan nikel membuat ekonomi Sulawesi Tengah tidak merosot terlalu tajam ketika pandemi. Sehingga pertumbuhan terjadi sebesar 21,11% di industri tersebut.

    Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral Indonesia, PAD yang dihasilkan Morowali pada tahun 2019 adalah 201,7 Miliar rupiah dan tahun 2020 mencapai 218,4 Miliar. Sedangkan proyeksi pada tahun 2021 diperkirakan menyentuh angka 227 Miliar dan 2022 adalah 246,3 Miliar. 

    Orang nomor satu di Sulteng tersebut optimis bahwa dengan adanya industri nikel sebagai penopang ekonomi Sulteng, maka kedepannya Sulteng akan selamat dari efek pandemi. Selain itu, dirinya percaya bahwa pada Q3-2020 ekonomi Sulawesi Tengah akan membaik dan tumbuh positif.

    Bahkan, daerah Sulawesi Tengah tepatnya Morowali sedang bersiap untuk memfasilitasi investasi pembangunan pabrik baterai lithium senilai Rp 51 Triliun. Proyek tersebut sedang dalam perizinan dan apabila memenuhi standar dapat segera dibangun. Gubernur Longki juga mengungkapkan, Sulteng memiliki potensi sumber daya alam berjumlah masif dalam bentuk mineral yakni nikel. Longki menjelaskan teknologi dan penerapan pengolahan nikel yang diterapkan di Sulteng bahkan telah menerapkan sistem hilirisasi yakni dari hulu ke hilir. Longki juga menyatakan bahwa nikel merupakan bahan utama dari baterai lithium sebagai penggerak mobil listrik.

    CEO PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Alexander Barus, membenarkan bahwa kawasan industri Morowali akan segera membangun pabrik baterai lithium. Kabar baiknya, pabrik tersebut akan menggunakan teknologi HPAL (High Pressure Acid Leaching) yang dapat mengolah nikel berkadar rendah (limonite nickel). Pengolahan ini akan mengekstrak nikel, kobalt, mangan (NCM) untuk dijadikan katoda baterai listrik. 

    Dari pembangunan pabrik baterai ini, PT IMIP nantinya akan memproduksi baterai listrik NCM dengan kapasitas 240.000 nikel ore. Dengan kapasitas ini, PT IMIP diprediksi dapat menjadi produsen terbesar di dunia.

    Jika demikian, apakah Morowali beserta kawasan industrinya acuh ‘tak acuh, dan jelas-jelas tidak berkontribusi sama sekali bagi Morowali, Sulawesi Tengah, bahkan Indonesia? Jika benar tidak berkontribusi sama sekali, maka tunjukan letaknya.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.