Menantang Jeram Sungai Mahakam, Kerja Melelahkan demi Hadirnya Keadilan - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Puji Handoko

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 13 November 2020

Selasa, 1 Desember 2020 11:28 WIB

  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Menantang Jeram Sungai Mahakam, Kerja Melelahkan demi Hadirnya Keadilan

    Inilah kisah perjuangan mewujudkan BBM satu harga di kawasan terpencil, yakni di desa Long Pahanga, Kalimantan Timur. Proses pengakutan BBM snagat penjang, melewati sungai Mahakam, dari titik suplai di Samarinda menuju Kecamatan Long Bagun, Kabupaten Mahakam Ulu, selama 4 hari 3 malam. Belum selesai, proses masih berlanjut dan ikuti saja kishanya di artikel ini.

    Dibaca : 1.620 kali

    Di dusun-dusun yang jauh, harapan terus tumbuh. Semangat untuk berubah menunggu satu lesatan permulaan. Dorongan itu tentu saja tidak hanya lahir dari mereka. Dibutuhkan kesadaran bersama untuk bangkit. Terutama dari pemerintah dan perusahaan negara sebagai perpanjangan tangannya.

    Misalnya di Long Pahangai, ia adalah salah satu wilayah yang dekat dengan perbatasan. Nama itu milik sebuah kecamatan di Kabupaten Mahakam Ulu yang terdiri dari tiga belas dusun. Dua dusun memiliki nama yang sama, Long Pahangai I dan Long Pahangai II. Wilayah Long Pahangai sulit untuk dijangkau. Jalur transportasi yang umum digunakan adalah Sungai Mahakam yang beraliran air deras.

    Ada jalur darat, tapi kondisinya kurang bagus. Oleh sebab itu, jalur sungai masih menjadi pilihan paling masuk akal. Sebagai ilustrasi, untuk mendapatkan layanan kesehatan di kabupaten, warga Long Pahangai harus menempuh jalur sungai sejauh 300 kilometer menggunakan speed boat.

    Proses pembangunan jalan sebenarnya terus dilakukan. Wilayah antar-kecamatan di sana sebelumnya tidak tersambung, tapi pada 2015 telah mulai disambung. Meskipun untuk ke kabupaten memang belum sepenuhnya bisa diakses dengan mudah. Sebab ketika musim hujan. Jalan yang melewati anak sungai akan terendam air. 

    Namun meski begitu, gairah pembangun terus berjalan. Apalagi Long Pahangai memiliki potensi yang cukup menjanjikan. Seperti kopi, karet, kayu dan emas. Apalagi di wilayah ini baru saja dibangun Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) berjenis SPBU Kompak 3T (Tertinggal, Terluar dan Terdepan). Di SPBU inilah BBM Satu Harga disalurkan.

    Seperti yang dipahami secara umum, BBM Satu Harga adalah kebijakan pemerintah untuk memangkas biaya logistik yang timbul akibat harga eceran BBM yang terlampau mahal. Harga merangkak naik sebab menimbang kondisi geografis yang memang sulit dijangkau, sehingga masyarakat kesulitan untuk mendapatkan BBM dari lokasi penyedia terdekat.

    Tapi hal itu sudah jadi masa lalu, sebab pada Kamis, 26 November SPBU Kompak 3T telah diresmikan. Proses pembangunan SPBU itu tentu tidak mudah, apalagi untuk mencukupi pasokannya. Sebagaimana ilustrasi sebelumnya, daerah ini termasuk terisolir. Arus Sungai Mahakam yang deras menjadi tantangan tersendiri.

    Sebagai informasi, saat ini telah beroperasi di 39 titik BBM Satu Harga di seluruh Kalimantan. SPBU Long Pahangai merupakan satu-satunya titik target yang ditugaskan kepada Pertamina untuk wilayah Kalimantan Timur pada tahun 2020.

    “Sebagai BUMN yang bergerak dibidang energi, tentunya kami dukung penuh program pemerintah, apalagi dalam mewujudkan kemandirian energi dan penyamarataan harga BBM ke pelosok negeri.” Ujar Muhammad Rizal, Pjs Sales Area Kaltimut Pertamina MOR VI Kalimantan, sebagaimana dikutip Replubika, Senin, 30 November 2020.

    Demi memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap BBM jenis Premium dan Bio Solar, prosesnya diangkut dengan moda transportasi yang rumit. BBM itu diangkut dari titik suplai Fuel Terminal Samarinda menggunakan kapal SPOB kapasitas 100 KL dari Jetty FT Samarinda, menuju Kecamatan Long Bagun, Kabupaten Mahakam Ulu. Waktu tempuh yang dibutuhkan 4 hari 3 malam dengan kondisi air sungai normal.

    Proses itu tidak berhenti di sana, setelah sampai di Kecamatan Long Bagun, BBM itu kemudian dibawa kembali menggunakan Long Boat, yang dilangsir menggunakan drum. Setiap Long Boat maksimal membawa 30 Drum. Dan ini juga bukan akhir kisah perjalanan BBM tersebut.

    Di Sungai Mahakam ada aliran sungai yang deras, umumnya disebut jeram atau riam. Kata jeram mudah dipahami ketika dipadankan dengan arung, yakni arung jeram. Ketika Long Boat akan memasuki jeram tersebut, drum-drum BBM harus dikurangi agar tidak terbalik. Dengan kondisi normal, perjalanan menuju Long Pahangai membutuhkan waktu enam sampai tujuh jam.

    Perjalanan melelahkan itu ditempuh Pertamina sebagai salah satu bentuk pengabdian. Semua itu demi mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Keberadaan SPBU Kompak 3T di daerah Kecamatan Long Pahangai itu akan sangat membantu masyarakat setempat. Mereka yang sebagian besar adalah penambang emas, petani dan buruh kayu.

    Dulu mereka harus mengeluarkan biaya Rp15.000 per liter untuk membeli solar dan premium. Sekarang dengan adanya SPBU yang memasok BBM Satu Harga itu mereka hanya mengeluarkan biaya Rp6.450 per liter untuk premium dan Rp5.150 per liter untuk solar. Kisah muram sebelumnya telah berakhir. Harapan baru telah muncul. Orang-orang dusun itu memiliki kesempatan yang sama dengan saudara mereka yang lainnya. Bergerak gesit menuju esok yang lebih bermentari.

     

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.