Melihat Komunikasi Non-Verbal dalam Kegiatan Belajar-Mengajar di Kelas - Analisa - www.indonesiana.id
x

Sebuah sekolah di Bekasi. Tempo/Hilman Fathurrahman

Wahyu Nulhakim Hamdjah

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Januari 2021

Jumat, 8 Januari 2021 08:19 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Melihat Komunikasi Non-Verbal dalam Kegiatan Belajar-Mengajar di Kelas

    Perkenalkan nama saya Wahyu Nulhakim Hamdjah, Mahasiswa aktif program studi Ilmu Komunikasi FISIP UHAMKA. Pada kesempatan ini, saya akan berbagi sedikit pemahaman serta opini saya mengenai tajuk pembahasan yang tertera pada judul diatas. Tulisan ini akan sedikit memberi gambaran mengenai penggunaan komunikasi non-verbal dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Dengan demikian, pembaca diharap dapat mengetahui penggunaan bahasa non-verbal yang kerap muncul di ruang pembelajaran di kelas.

    Dibaca : 539 kali

    Komunikasi non-verbal adalah bentuk komunikasi yang tidak menggunakan kode atau isyarat verbal (bahasa) dalam proses penyampaian pesan. Lazimnya, perilaku non-verbal cenderung sulit ditafsirkan dibanding pesan verbal yang kode verbalnya merupakan hasil kesepakatan bersama para pelaku komunikasi. Lebih lanjut, penafsiran atas sebuah pesan non- verbal bersifat subjektif karena bersifat kaya makna. Artinya, setiap orang akan memiliki persepsi berbeda dalam melihat suatu tindakan non verbal yang sama, tergantung individu tersebut memaknai pesan non-verbal yang ia lihat atau rasakan.

                Perilaku non-verbal memiliki 4 fungsi utama antara lain, Pertama, mengulangi perilaku verbal. Hal ini dapat dilihat ketika seseorang mengatakan kata “tidak” kepada lawan bicaranya sembari menggelengkan kepalanya. Gerakan kepala tersebut berfungsi mengulangi perilaku verbal yang diucapkan oleh komunikator tersebut. Kedua, Memperteguh, menekankan atau melengkapi perilaku verbal. Fungsi kedua ini biasanya ditampilkan oleh para Orator salah satunya presiden pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno. Ekspresi serta tindakan non-verbal yang ditampilkan Bung Karno selain berfungsi sebagaimana diatas juga dapat mempengaruhi komunikan secara luas.

                Ketiga, perilaku non-verbal berfungsi menggantikan perilaku verbal. Fungsi ini dapat dilihat ketika seseorang ingin menunjuk arah tanpa menggunakan bahasa verbal. Biasanya, ia akan mengisyaratkan dengan menunjuk arah yang dimaksud dengan jari telunjuknya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Keempat, perilaku non-verbal dapat bertentangan dengan perilaku verbal. Fungsi keempat ini sering terlihat ketika seseorang hendak menyindir orang lain. seseorang yang menyindir biasanya melakukan kontradiksi antara perilaku verbal yang disampaikan dengan perilaku non-verbal yang ditampilkan. Oleh karena itu, kita sering mendengar ungkapan “kebenaran perkataan bukan dari kata-kata melainkan tindakan atau ekspresi yang ditampilkan”.

                Burgoon membagi sistem kode non-verbal menjadi 10 bagian yaitu : Kinetik, Paralanguage, Penampilan Fisik, Bau-bauan, Diam, Warna, Sentuhan, Ruang, Waktu, Artefak. Dalam kegiatan kita sebagai manusia, perilaku verbal tidak dapat dipisahkan dalam setiap tindakan yang dilakukan. Tindakan non-verbal ini akan kita gunakan baik dalam lingkungan keluarga, teman bermain, termasuk kegiatan belajar mengajar di Kelas.

                Proses belajar-mengajar di kelas seringkali menggunakan perilaku non verbal baik dari Guru ke Murid maupun sebaliknya. Seorang guru seringkali menggunakan gerakan tubuh (kinetik) dalam menjelaskan materi pembelajaran kepada murid. Gerak tubuh yang menarik dan aktif oleh guru biasanya akan menambah perhatian bagi murid untuk memperhatikan materi pembelajaran. Paralanguage juga turut berperan dalam proses belajar mengajar hal ini meliputi intonasi, nada suara, penekanan kata, dan sebagainya.

                Sering kita jumpai dalam proses belajar dikelas, ketika guru menggunakan Paralanguage yang tinggi, murid akan cenderung merasa terintimidasi. Hal ini berujung pada ketidakpahaman murid atas apa yang disampaikan oleh guru tersebut. Di dalam kelas, setiap partisipan baik murid maupun guru akan berusaha semaksimal mungkin membuat dirinya beraroma harum. Ketika seorang guru datang dengan aroma tubuh yang harum, hal itu akan menarik perhatian siswa untuk fokus pada guru tersebut.

                Manusia tidak bisa terlepas dari komunikasi, setiap tindakan yang ia lakukan mampu menciptakan interpretasi oleh orang lain termasuk ketika dia sedang Diam. Dalam ruang kelas, ketika seorang siswa duduk diam dan termenung dikala pembelajaran sedang berlangsung akan ditegur oleh gurunya. Sebaliknya ketika murid lain yang juga diam dengan memperhatikan papan tulis tidak ditegur karena dianggap memperhatikan pembelajaran. Hal ini senada dengan pernyataan sebelumnya dimana setiap tindakan yang dilakukan individu, berpotensi melahirkan sebuah interpretasi komunikasi.

                Di dalam kelas, murid yang dianggap mampu menjawab pertanyaan di depan kelas biasanya akan diapresiasi oleh gurunya dengan menepuk pundaknya. Sebaliknya, siswa yang dianggap mengganggu ketertiban kelas biasanya diberi hukuman berupa cubitan. Cubitan itu menjadi pesan kepada murid yang bersangkutan bahwa perilakunya ditolak di dalam kelas dan sebagai ungkapan kekesalan seorang guru kepada muridnya.

                Setiap komunikasi antar manusia berlangsung dalam konteks ruang yang mempengaruhi komunikasi tersebut. Komunikasi yang terjadi di rumah akan sangat berbeda dengan komunikasi yang terjadi di ruang kelas. Di ruang kelas, komunikasi yang terjadi akan mengikuti situasi kelas itu sendiri. Para partisipan komunikasi akan menggunakan struktur kata yang baku dalam proses belajar mengajar. Hal itu terjadi karena para partisipan menganggap bahwa ruang kelas merupakan tempat yang terhormat dan kegiatan belajar mengajar adalah kegiatan yang mulia. Dengan demikian, partisipan akan menjaga kemuliaan tersebut dengan menggunakan kata yang baku tidak seperti di taman bermain.

                Waktu juga turut memengaruhi komunikasi yang terjadi di ruang kelas. Ketika materi pembelajaran yang disampaikan pada pagi hari biasanya mendapat perhatian penuh dari siswa. Diskusi yang dibarengi oleh argumentasi akan banyak terlihat pada pagi hari. Memasuki waktu siang hari, biasanya perhatian siswa mulai berkurang dengan apa yang disampaikan oleh guru. Hal ini dapat ditandai dengan, kondisi kelas yang mulai gaduh, murid yang menguap bahkan tertidur di kelas. Semua ini terjadi karena ada sistem kode non-verbal yang dinamakan waktu dalam komunikasi di kelas.

                Dalam menunjang pembelajaran, seorang guru biasanya menggunakan benda-benda tertentu guna memudahkan murid dalam memahami materi yang disampaikan. Contohnya, replika struktur tulang manusia, replika bola mata, globe, peta dan media lainnya. media tersebut yang dikenal sebagai Artefak dalam sistem kode non verbal Burgoon. Dengan menamplkan media yang dimaksud, ada pesan juga yang dapat ditangkap oleh komunikan sesuai dengan media yang ditampilkan.

                Menurut saya, kemampuan memaksimalkan serta memposisikan pesan non-verbal sangat penting diaplikasikan dalam kegiata belajar mengajar di kelas. Dengan memahami hal ini, seorang guru dapat membangun kondisi belajar yang menarik serta mengasyikan dengan seluruh murid. Dengan demikian, proses penyampaian materi dari seorang guru kepada para murid dapat tepat sasaran dan dimengerti.Selain itu, murid yang memahami mekanisme komunikasi non- verbal ini dapat bersinergi dengan guru dalam proses belajar mengajar. Hal ini akan melahirkan situasi kelas yang kondusif sehingga proses belajar-mengajar akan lebih nyaman.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.