Praktik Pendidikan Gaya Bank dalam Google Classroom selama Pembelajaran Jarak Jauh Masa Pandemi - Analisa - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi siswa belajar di rumah. Foto: Tulus Wijanarko

Lavie

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 15 Januari 2021

Sabtu, 16 Januari 2021 06:09 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Praktik Pendidikan Gaya Bank dalam Google Classroom selama Pembelajaran Jarak Jauh Masa Pandemi

    Artikel ini dibuat untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah Teori Sosial dan Pendidikan.

    Dibaca : 1.096 kali

    Lailatul Chulaifiah

    1405618048

    Pendidikan Sosiologi A 2018

    Kehadiran Coronavirus Disease atau disingkat dengan Covid-19 merupakan virus berbahaya yang menyerang dunia dan memberikan beberapa dampak kepada masyarakat berbagai negara, tak terkecuali kepada masyarakat Indonesia. Tak dapat dihindarkan penyebaran virus ini terjadi begitu sangat cepat, sehingga untuk menekan angka penyebaran virus ini pemerintah di beberapa negara menerapkan sistem kebijakan untuk mengkarantina semua masyarakatnya dan menghimbau semua masyarakat untuk tetap di dalam rumah. Sehingga semua kegiatan sehari-hari masyarakat berganti menjadi serba daring. Salah satunya pada ranah pendidikan, dimana kegiatan pembelajaran dilakukan secara tatap muka melalui aplikasi video conference secara daring. 

    Melalui surat edaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Direktoran Pendidikan Tinggi No.4 tahun 2020 tentang Pelaksanaan Pendidikan Dalam Masa Darurat Coronavirus Disease (Covid-19). Kemudian diperkuat kembali oleh Kemendikbud dengan menerbitkan Surat Edaran Nomor 15 Tahun 2020 tentang Pedoman Penyelenggaraan Belajar Dari Rumah Dalam Masa Darurat Penyebaran Covid-19. Adapun tujuan edaran ini diperkuat dengan SE Sesjen No. 15 thun 2020 karena prioritas pemerintah dalam mencegah pandemi Covid-19 masih menjadi prioritas utama dalam memasuki ajaran tahun baru di dunia pendidikan Indonesia.      

    Hasil surat edaran yang dikeluarkan Kemendikbud menyatakan bahwa kegiatan pembelajaran akan dilakukan secara daring, dan masih terus dilanjutkan di tahun 2020 mengingat mata rantai virus Covid-19 di Indonesia belum putus dengan melihat bahwa justru kerap terjadi kenaikan angka positif pasien Covid-19. Kemendikbud memberikan instruksi kepada para satuan tenaga pendidik untuk tetap melakukan kegiatan pembelajaran jarak jauh dari rumah masing-masing. Pelaksanaan kegiatan ini disebut dengan Belajar dari Rumah (BDR). 

    Dengan demikian pembelajaran secara konvensional dimana pelaksanaannya dilakukan dalam satu ruangan tertentu secara tatap muka langsung tanpa ada bantuan teknologi digital, kini telah bertransformasi menjadi pembelajaran jarak jauh dan tatap muka dengan bantuan penggunaan teknologi digital. Hal demikian disebut dengan virtual class

    Virtual Class adalah istilah untuk mengartikan kegiatan pembelajaran tatap muka dilakukan secara online tanpa mengenal batas waktu dan tempat antara pengajar dengan peserta didik. Dimana pengajar menyediakan bahan  ajar  dalam  konten  digital  yang  bisa diakses,   disimpan,   dan dibagikan   melalui internet  yang  bisa  diakses  kapan  saja  dan dimana   saja   sehingga   siswa  masih   dapat melakukan    pembelajaran (Kroker, 1994).  Dalam kelas virtual, pembelajaran dilakukan dengan cara peserta didik berdiskusi, belajar, bertanya dan mengerjakan soal-soal dari tenaga pendidik secara online. System pembelajaran ini sering kali disebut e-learning

    Berdasarkan penjelasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa apa yang dimaksud sebagai Belajar dari Rumah oleh pemerintah merupakan kegiatan pembelajaran yang dilakukan secara tatap muka dan virtual dimana dibutuhkan media teknologi digital yang menunjang keberhasilan pembelarajaran virtual. Namun meski demikian tak sedikit dari tenaga pendidik dan peserta didik yang mengalami kendala dan kesulitan dalam mengakses aplikasi tatap muka langsung seperti aplikasi Video Conference dengan alasan karna keterbatasan kuota internet. Untuk mengantisipasi hal tersebut kegiatan pembelajaran pun menggunakan alternatif lain dengan memanfaatkan aplikasi pembelajaran lain seperti Google Classroom.

    Google   Classroom atau  ruang  kelas Google merupakan suatu serambi pembelajaran campuran  untuk ruang lingkup pendidikan yang dapat memudahkan pengajar dalam membuat, membagikan dan menggolongkan setiap penugasan tanpa kertas (Mayasari, dkk, 2019). Tak sedikit para pengajar yang memanfaatkan fitur Google Classroom sebagai media pembelajaran jarak jauh selama masa pandemi ini. Karena aplikasi ini menawarkan berbagai fitur yang memberikan kemudahan dalam kegiatan pembelajaran virtual. Selain itu aplikasi ini tidak sehingga dirasa cocok untuk mengatasi tantangan dalam pembelajaran selama pandemi. 

    Berbagai fitur kemudahan yang ditawarkan oleh Google Classroom namun tetap terdapat satu kelemahan yang dimilikinya, yaitu tidak mendukung pembelajaran tatap muka secara langsung seperti aplikasi software Video Conference seperti Zoom, Skype dan lainnya. Software ini hanya mendukung pembelajaran untuk membagikan dan mengumpulkan tugas. Adapun untuk penjelasan materi hanya dapat dilakukan oleh pengajar dengan membagikan teks materi yang dapat disimpan dan diputar kembali oleh peserta didik kapanpun dan dimanapun sesuka hati. Hal demikian tanpa disadari akan menyebabkan lambatnya daya kritis peserta didik karena mereka cenderung untuk tidak memperhatikan materi yang ada dan hanya menerima penjelasan materi begitu saja. Jika fenomena ini diilustrikan seperti pendidikan gaya bank yang dikemukakan oleh Paulo Freire dalam bukunya yang berjudul, “The Pedagogy of the Oppressed”. 

    Buku Pedagogy of the Oppressed atau jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti Buku Pendidikan Kaum Tertindas. Dalam bukunya tersebut Freire menjelaskan  adanya konsep pendidikan humanisme yang bertujuan untuk membebaskan masyarakat tertindas dari sistem pendidikan yang disebut sebagai pendidikan gaya bank (banking concept of education). 

    Freire menjelaskan bahwa pendidikan gaya bank adalah sistem pendidikan yang menganggap bahwa peserta didik diibaratkan sebagai sebuah ‘objek investasi’ dan juga ‘sumber deposito potensial’.  Peserta didik akan diperlakukan sebagai ‘bejana kosong’ dimana akan dilakukan pengisian dan penanaman ilmu pengetahuan oleh guru sebagai depositor atau investor. Ilmu pengetahuan yang telah diperoleh oleh peserta didik diandaikan sebagai sebuah ‘bank’, dan diharapkan dengan ilmu pengetahuan tersebut dapat memberikan keuntungan berlipat ganda suatu hari nanti.

    Namun, pada realitas sosialnya system pendidikan ini justru melahirkan apa yang disebut sebagai kebudayaan bisu yaitu kondisi peserta didik yang hanya mendengarkan, mencatat dan menghapal apa yang telah diajarkan oleh guru tanpa mencoba untuk memahami dan mengkritisinya. System pendidikan ini menjadi tempat untuk memelihara kontradiksi dan mempertajamnya, sehingga yang terjadi akan menyebabkan daya berfikir kritis peserta didik menjadi tumpul dan beku. 

    Pendidikan “gaya bank” adalah pendidikan yang bersifat antidialog, atau lebih lanjut dijelaskan oleh Freire yaitu sistem pendidikan yang menganggap bahwa hubungan peserta didik dengan guru hanya sebatas subjek dan objek. Guru berperan sebagai objek dengan sebatas memberikan dan menyalurkan ilmu pengetahuan, sedangkan siswa sebagai objek atau wadah untuk ‘deposit bank’ dimana mereka hanya diarahkan untuk mendengarkan, menghapal dan sekadar mengetahui ilmu pengetahuan yang disampaikan oleh guru. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan oleh Freire dalam bukunya berbunyi:

    The students are not called upon to know, but to memorize the contents narrated by the teacher. Nor do the students practice any act of cognition, since the object towards which that act should be directed is the property of the teacher rather than a medium evoking the critical reflection of both teacher and students.” (Paulo Freire, 1921)

    Berdasarkan penjelasan tersebutlah yang terjadi dalam software Google Classroom, dimana melalui software ini para pengajar dan siswa tidak dapat mendapatkan interaksi dan dialog yang sempurna. Peserta didik hanya sekedar untuk mengisi daftar absen dan mendengarkan penjelasan materi di kemudian harinya. Alhasil pembelajaran yang terjadipun hanya berupa pendidikan dimana guru sebagai pengajar memberikan materi dan peserta didik hanya sekedar menerima saja. Pendidikan dengan metode seperti ini dikritik oleh Freire sebagai Pendidikan Gaya Bank.

    Tak lupa untuk menyebutkan terdapat pula peserta didik yang telah kehilangan semangat untuk belajar sehingga merasa malas untuk mendengarkan materi tersebut. Pengajar seakan hanya melakukan monolog sendiri. Untuk mengatasi masalah tersebut, alangkah lebih baiknya jika Google Classroom tidak dijadikan sebagai satu-satunya media pembelajaran oleh para pengajar. Akan lebih efektif jika Google Classroom hanya dijadikan sebagai media untuk mengumpulkan tugas agar lebih terorganisir, dan bukan sebagai media pembelajaran dimana pengajar akan menyampaikan materi dalam berupa teks atau video pembelajaran tertentu. Karena jika demikian maka tidak akan terjadi pembelajaran tatap muka seperti yang diungkapkan oleh Pemerintah dalam Surat Edaran Kemendikbud yang menginstrunsikan masyarakat melakukan kegiatan pembelajaran tatap muka secara daring atau virtual. 


    Daftar Pustaka

    1. Mayasari,  F.,  Dwita,  D., Jupendri,  J.,  Jayus,  J., Nazhifah,  N.,  Hanafi,  K.,  &  Putra,  N.  M. (2019). Pelatihan Komunikasi Efektif Media Pembelajaran    Google    Classroom    Bagi Guru   Man   2   Model   Pekanbaru. Jurnal Pengabdian Untukmu Negeri, 3(1), 18-23.
    2. Kroker,  A.,  &  Weinstein,  M.  A.  (1994). Data  trash: The  theory of  the  virtual  class.  New  World Perspectives.
    3. Freire, Paulo, 1921-1997. (2000). Pedagogy of the oppressed. New York: Continuum,



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.