Ketika Bersuara Hanya Satu-satunya Senjata - Analisa - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi Aksi Mahasiswa. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

Renitha Una

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 19 Januari 2021

Selasa, 26 Januari 2021 07:18 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Ketika Bersuara Hanya Satu-satunya Senjata


    Dibaca : 175 kali

     

     

    Saya sering dibilang paranoid oleh beberapa orang ketika menganalisa situasi Indonesia yang mendekati beberapa negara Timur Tengah ini. Negera-negara itu hancur karena permainan politik agama.

    Tidak masalah. Saya lebih suka prediksi saya salah, karena itu berarti negeri ini aman-aman saja. Atau malah bukan prediksi yang salah. Tapi berdasarkan prediksi yang dibilang paranoid itu, banyak orang tergugah untuk waspada. Dan mengambil langkah supaya yang terburuk tidak terjadi.

    Percaya diri bahwa negeri ini akan baik-baik saja, itu wajib kita punya. Tapi terlalu percaya diri, sehingga kita jadi lengah juga akan jadi masalah.

    Peringatan itu penting, supaya kita siap-siap menjaga diri kita. Bersuara itu juga penting, supaya pihak yang ingin berbuat buruk juga akhirnya tahu kalau kita juga tahu gerak mereka..

    Saya selalu percaya bahwa Tuhan akan melindungi negara kita. Karena itulah kita diberi kemampuan untuk bersuara, menjadi pengingat supaya terus waspada. Bukan ketakutan sebenarnya. Hanya supaya melatih alarm2 dalam diri kita.

    Dalam situsi tertentu saya selalu ingat nasihat bijak ini. "Kezaliman akan terus ada, bukan karena banyaknya orang-orang jahat. Tetapi karena diamnya orang-orang baik ."

    Bersuaralah, jika itu satu-satunya senjata kita!

    Jangan takut ketika orang membentak supaya kita diam, hanya karena terganggunya kenyamanan mereka.

     

    Maria Regina Una



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.