Ajakan Membenci Produk Asing, Salah Siapa? - Viral - www.indonesiana.id
x

Jokowi

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 9 Maret 2021 12:44 WIB

  • Viral
  • Berita Utama
  • Ajakan Membenci Produk Asing, Salah Siapa?

    Mengapa sih, Bapak Presiden harus menggunakan diksi itu? Jadi, riuh dan kontroversi saja? Jelas pilihan kata membenci tidak tepat dan jauh dari edukatif!an

    Dibaca : 555 kali

    Dari tradisi nenek moyang, rakyat Indonesia itu ramah dan santun dan sudah dikenal oleh bangsa-bangsa lain sejak dulu. Tetapi, sejak rezim ini, rakyat terus diteladani sikap tak ramah dan tak santun oleh para pemimpin negeri yang sewajibnya menjadi panutan. 

    Hasilnya, netizen Indonesia pun berprestasi sebagai yang tak santun di Asia Tenggara. Tapi, lucunya banyak netizen malah tidak sadar lalu instrospeksi, tapi malah marah. Persis meneladani para pemimpin di Republik ini sekarang.

    Yakin bila Ki Hajar Dewantara masih hidup, tidak tahu bagaimana pikiran dan perasaannya melihat situasi Indonesia terkini. Sebab ajarannya, Ing Ngarso Sun Tulodho, yang berarti di depan (pimpinan) harus memberi teladan.Ing Madyo Mangun Karso, yang bermakna di tengah memberi bimbingan. Dan, Tut Wuri Handayani, yang mengandung arti di belakang memberi dorongan, sekarang sudah jauh dari harapan dan citanya.

    Pasalnya, negeri ini penuh perseteruan dan kisruh tak berujung yang aktornya dijuluki cebong, kampret, kadrun. Lalu, di tambah influencer dan buzzer.

    Malah, pejabat Istana pun menjadi aktor dan biang kisruh lagi dengan mengkudeta partai yang masih ada pempimpinnya. Tidak tahu malu dan tidak ada jiwa ksatrianya sama sekali, sebab, mungkin mata hatinya sudah dibutakan oleh kepentingan dan kepentingan duniawi dan tak peduli lagi pada rakyat yang terus menjadi saksi kekacauan negeri ini, yang sumber masalahnya justru mereka cipta.

    Ucapan Presiden, polemik

    Di sisi lain, saat kisruh terus banjir di negeri ini, Presiden kita, Bapak Jokowi juga ikutan membikin polemik yang langsung memperkeruh suasana karena ucapan dalam kampanyenya menjadi kontroversi.

    Herannya, bukannya meminta maaf dan mencabut kata-kata yang menjadi kontroversi, Presiden justru mengeluhkan ramainya masyarakat dalam merespon pernyataan dirinya terkait ajakan untuk membenci produk-produk asing dan mencintai produk-produk Indonesia. 

    Malah Jokowi heran, sebab tidak boleh berbicara untuk tidak suka produk asing. "Masa enggak boleh bilang tidak suka, kan boleh saja tidak suka pada produk asing. Gitu aja ramai," kata Jokowi dalam Rapat Kerja Nasional XVII HIPMI 2021 di Istana Bogor, Jawa Barat, Jumat (5/3/2021).

    Bukannya meredakan suasana, Presiden kita malah terkesan tak terima saat masyarakat mengkritik. Alih-alih mendinginkan suasana, Jokowi malah beralasan, mencintai produk dalam negeri penting demi perbaikan ekonomi Indonesia. Sebab, perbaikan ekonomi jangan sampai hanya menguntungkan produk luar. Oleh karena itu, Jokowi mengajak masyarakat untuk mencintai produk Indonesia dan membenci produk asing.

    Pertanyaannya, bukankah mustahil Presiden tak mengetahui, bahwa akibat ucapannya, banyak negara lain yang langsung bereaksi?

    Bahkan, Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP), Dany Amrul Ichdan mengatakan bahwa banyak negara lain yang mempertanyakan maksud dari kampanye Presiden Joko Widodo meminta rakyat membenci produk asing. 

    Menurut Dany, pertanyaan itu muncul untuk memastikan hubungan dagang antar negara yang selama ini sudah terjalin. "Pasti sudah banyak yang bertanya, saya juga banyak teman di kedutaan, dubesnya, atasenya, dari China, Taiwan, Amerika juga tanya; apa yang dimaksud pernyataan pak presiden?," kata Dany dalam diskusi Cross Check, Minggu (7/3/2021).

    Bila Bapak Presiden bijak dalam memilih diksi selain kata benci, tentu tak harus KSP repot-repot menjelaskan kepada para duta besar tersebut bahwa yang dimaksud Jokowi ingin membangkitkan produk dalam negeri agar tak kalah bersaing dengan produk luar negeri.

    Namun demikian, ucapan Jokowi tetap saja terlanjur membikin pihak Istana kebakaran jenggot, pasalnya sampai harus menginstruksikan duta besar Indonesia di KBRI untuk menjelaskan maksud dari pernyataan Jokowi kepada negara tempatnya bertugas gara-gara Jokowi mengkampanyekan untuk benci produk asing yang disampaikan dalam acara Rapat Kerja Kementerian Perdagangan 2021 dan kembali menggaungkan cinta produk dalam negeri dan membenci produk asing.

    Banyak pihak yang menyesalkan tentang komunikasi Presiden ini. Hingga ada juga yang mempertanyakan ke mana para tim ahli di Istana, hingga ucapan Presiden menjadi kontroversi? Seharusnya, Presiden berkonsultasi dengan ahli komunikasi dan hubungan internasional.

    Presiden tidak perlu menggunakan diksi benci produk asing, sebab saat ini Indonesia tengah meminta berbagai fasilitas dukungan terkait upaya penanganan pandemi Covid-19.

    Selain itu, pernyataan Jokowi juga dampaknya dapat melebar hingga ke hubungan baik Indonesia dengan berbagai negara yang sedang bekerja sama.

    Harus hati-hati, benci=menyerang

    Masalah kisruh dan bencana terus melanda, lalu ada kudeta partai. Kemudian Presiden bikin polemik. Semestinya, dalam situasi pandemi yang masih merajalela, pemerintah seharusnya lebih berhati-hati, sebab pernyataan Jokowi jelas berpotensi menjadi blunder.

    Alih-alih membuat masyarakat menjadi cinta produk dalam negeri, namun masyarakat malah bisa salah paham. Terlebih, Jokowi malah mengajak masyarakat membenci produk asing.

    Ajakan membenci, bisa diartikan sebagai menyerang produk asing. Padahal Indonesia masih banyak bergantung pada produk impor di berbagai bidang.

    Dan, pihak Istana akhirnya harus repot-repot mengabari KBRI di berbagai negara, demi menjelaskan maksud Presiden.

    Sementara dari sisi edukasi, mengajak membenci produk asing, tentu bisa dipelesetkan dan ditiru oleh masyarakat, semisal jadi membenci lawan politik, membenci sesama rakyat, dan lain sebagainya.

    Mengapa sih, Bapak Presiden harus menggunakan diksi itu? Jadi, riuh dan kontroversi saja? Jelas pilihan kata membenci tidak tepat dan jauh dari edukatif!

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.