Tiga Presiden yang Terbebani Masa Depan Politik Anak-anaknya - Pilihan - www.indonesiana.id
x

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 12 Maret 2021 11:23 WIB

  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Tiga Presiden yang Terbebani Masa Depan Politik Anak-anaknya

    Rakyat banyak membayangkan Megawati tengah memikirkan kemungkinan Puan untuk maju ke gelanggang pilpres, juga memikirkan masa depan Prananda; SBY sedang merenungkan masa depan Agus dan Baskoro karena Partai Demokrat diguncang keras; lalu Jokowi tengah mencari jalan mengawal Gibran dan Bobby agar masa depan politik mereka cerah ceria.

    Dibaca : 1.475 kali

     

    Saat ini, kita memiliki tiga orang presiden: seorang aktif saat ini, dua orang lainnya aktif di masa lalu. Selain Presiden Jokowi, yang saat ini efektif menjabat, ada Presiden kelima Megawati Soekarnoputri (2001-2004) dan Presiden keenam Susilo Bambang Yudhoyono (2004-2014). Ketiganya masih aktif berpolitik sesuai jabatan masing-masing, Jokowi di pemerintahan sedangkan Mega dan SBY di partai politik.

    Minat ketiga figur pada politik rupanya diteruskan kepada mereka bertiga: Puan dan Prananda—anak Megawati, Agus dan Baskoro—anak SBY, serta Gibran dan Bobby—anak dan menantu Jokowi yang baru saja terjun ke politik dan langsung melejit karirnya. Di antara anak-anak presiden itu, Puan yang paling berpengalaman di pemerintahan dan legislatif. Baskoro aktif di partai dan menjadi anggota DPR. Prananda menjadi pimpinan di PDI-P dan Agus Harimurti  di Demokrat. Gibran dan Bobby memecahkan rekor dengan langsung jadi walikota begitu terjun ke politik.

     

    Apakah ketiga presiden dari masa yang berbeda itu saling berkompetisi? Hanya mereka bertiga yang tahu persis dan merasakan, sedangkan rakyat banyak hanya memperoleh kesan dari yang terlihat. Namun dapat dipahami bahwa sebagaimana orang tua umumnya, ketiga presiden itu niscaya memikirkan masa depan politik anak-anak mereka. Mereka niscaya ingin karir anak-anak juga cemerlang, bila mungkin secemerlang orang tua dari sisi jabatan yang dipegang—tentang prestasi, lain lagi ceritanya. Mungkin mereka berharap anak-anaknya juga bisa menjabat sebagai presiden atau wakil presiden beberapa tahun mendatang atau mungkin sekjen PBB.

    Apakah itu keinginan yang buruk? Belum tentu, jika niat dan tujuannya untuk mengabdi kepada nusa dan bangsa—mulia, kan?

    Anak-anak ketiga presiden itu memiliki hak untuk terjun ke dunia politik, menjadi anggota atau ketua DPR, walikota, gubernur, menteri, atau bahkan nanti presiden. Namun, cita-cita dan ambisi ini berpotensi membuat ketiga presiden itu tidak leluasa memikirkan masa depan bangsa tanpa lepas dari pikiran mengenai masa depan politik anak-anak mereka.

    Rakyat banyak mungkin membayangkan Megawati tengah memikirkan kemungkinan Puan untuk maju ke gelanggang pilpres, juga memikirkan masa depan Prananda; SBY sedang merenungkan masa depan Agus dan Baskoro karena Partai Demokrat diguncang keras; lalu Jokowi tengah mencari jalan mengawal Gibran dan Bobby agar masa depan politik mereka cerah ceria.

    Pikiran mengenai masa depan politik anak-anak itu sangat mungkin memengaruhi pilihan-pilihan politik serta sikap dan tindakan yang dilakukan oleh ketiga figur tersebut. Kompetisi di antara mereka bertiga tampaknya tidak mudah dihindari. Sebagai presiden yang sedang menjabat, Jokowi memiliki peluang yang lebih besar untuk memajukan karir anak-anaknya, sebagaimana ditunjukkan oleh terpilihnya Gibran menjadi Walikota Solo dan Bobby menjadi Walikota Medan.

    Jokowi mungkin juga tengah berusaha untuk melepaskan diri dari bayang-bayang Megawati, figur yang hingga saat ini tidak bisa dilepaskan dari PDI-P. Sebagai orang yang menjabat presiden, Jokowi berusaha menunjukkan bahwa ia kini sejajar dengan elite politik lain, khususnya Mega dan SBY. Ia mungkin tidak mau terus-menerus dijuluki sebagai ‘petugas partai’ yang mesti mengikuti kehendak Mega sebagai ketua umum PDI-P. Jabatan walikota menjadi titik berangkat bagi Gibran dan Bobby untuk naik jenjang karirnya.

    Sebagai orang paling berpengaruh di PDI-P dan memiliki hubungan luas dengan elite lainnya, Megawati juga memiliki peluang besar untuk memajukan masa depan anak-anaknya, khususnya Puan Maharani. Berbekal pengalamannya di legislatif dan eksekutif, Puan diproyeksikan untuk maju ke jenjang yang lebih tinggi. Sebagian prediksi menyebutkan bahwa Puan mungkin akan berpasangan dengan Prabowo untuk turun ke gelanggang pilpres 2024.

    SBY menghadapi persoalan apabila Moeldoko dianggap oleh pemerintahan Jokowi sebagai ketua umum yang sah Partai Demokrat, sehingga Agus Harimurti kehilangan kendaraan. Sebagai orang yang sudah makan asam garam politik, SBY mungkin sudah memikirkan skenario buruk semacam itu. Apakah situasi yang dihadapi Demokrat saat ini dianggap Jokowi dan Mega sebagai keuntungan politis untuk masa depan anak-anak mereka? Hanya mereka berdua yang tahu.

    Lalu apa kepentingan rakyat atas cita-cita keluarga ketiga presiden itu? Tak lain karena pilihan politik, sikap, maupun tindakan mereka bertiga berpotensi memengaruhi nasib rakyat banyak. Misalnya ketika Puan menjadi Ketua DPR, Gibran jadi Walikota Solo, dan Bobby jadi Walikota Medan, serta AHY jadi Ketua Umum Demokrat--apakah rakyat banyak memperole manfaat yang signifikan? Pengaruh kuasa mereka memanng tak bisa diabaikan begitu saja, tapi di atas langit masih ada langit. Rakyat hanya bisa berharap yang terbaik dan ketiga keluarga itu mampu bersikap matang menunaikan amanah kuasa dari Langit. >>



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.