Mas Ganjar Mau Nyapres? Jadi Teringat Nasib Pak Pur - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Gubernur Provinsi Jawa Tengah Ganjar Pranowo sidak mobil pemudik di exit tol Sragen Foto Humas Pemprov Jateng

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 24 Mei 2021 14:59 WIB

  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Mas Ganjar Mau Nyapres? Jadi Teringat Nasib Pak Pur

    Elite PDI-P niscaya telah menghitung bahwa masa depan PDI-P sangat dipengaruhi dan ditentukan oleh terpilihnya Puan. Karena itu, kendati Ganjar populer saat ini, akan sukar baginya untuk memperoleh tiket rekomendasi dari Mega. Momen Ganjar berbeda dari momen Jokowi, sebab kali ini elite PDI-P ingin momentum ini diberikan kepada penerus Mega, bukan orang lain sekalipun ia kader populer.

    Dibaca : 987 kali

     

    Boleh jadi Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah, sedang tidak merasa nyaman meskipun ia berusaha santai dengan pamer foto sedang menyantap mie rebus telor—‘Kelingan jaman ngekos (ingat waktu masih kos),’ tulis Ganjar di akun instagramnya. Ketidaknyamanan itu mungkin karena ia tidak diundang oleh pengurus PDI-P untuk menghadiri acara yang digelar partai ini baru-baru ini, padahal Puan Maharani datang dari Jakarta. Ia juga mungkin tidak nyaman karena di acara tersebut, Puan menyindir tentang pemimpin yang lebih banyak main medsos ketimbang terjun ke lapangan. Siapa lagi yang disindir bila bukan Ganjar, namun Ganjar berujar bahwa ia bermain medsos sudah sejak lama, sejak jadi anggota DPR.

    Rupanya, popularitas Ganjar dalam survei-survei politik yang cukup signifikan membuat sebagian kader sekaligus pengurus beranggapan bahwa Ganjar ‘kemajon’ [bahasa Jawa] alias melangkah terlalu jauh atau dianggap ambisius. Ambisius dalam hal apa? Apa lagi kalau bukan nyapres tiga tahun lagi—setidaknya itulah yang ditangkap pengurus PDI-P. Padahal, yang menentukan siapa kader yang boleh nyapres tidak lain Ketua Umum PDI-P Megawati. Padahal pula, ada Puan Maharani yang tampaknya dipertimbangkan untuk diusung ke perhelatan pilpres 2024.

    Ganjar barangkali memang terlihat percaya diri, sebab dalam survei-survei popularitasnya jauh di atas Puan dan Tri Rismaharini—mantan walikota Surabaya yang kini menjabat menteri sosial [https://nasional.tempo.co/read/1465168/elektabilitas-ganjar-pranowo-ungguli-puan-maharani-dan-risma-simak-detailnya]. Namun, bekal popularitas agaknya tidak akan mencukupi bagi Ganjar untuk terjun ke gelanggang pilpres bila Megawati tidak merestui. Tanpa izin Mega, PDI-P niscaya tidak akan mengusung dan mendukung Ganjar. Popularitas tinggi yang kini dikantong Ganjar menjadi tidak berarti. Inilah yang dipahami benar oleh pengurus DPD PDI-P, yang mungkin juga tidak bertindak sendiri tanpa konsultasi.

    Meskipun tidak sama persis, nasib yang akan menerpa Ganjar bisa jadi bakal mirip-mirip nasib pak Achmad Purnomo. Wakil walikota Solo ini—kala itu mendampingi Walikota FX Hadi Rudyatmo—terpilih sebagai calon walikota Solo hasil penjaringan dan penyaringan dari bawah sebagaimana aturan yang berlaku di lingkungan PDI-P. Para kader partai di Solo sudah berketetapan hati memilih pak Pur berpasangan dengan Teguh Prakosa untuk maju ke gelangan pilwalkot Solo tahun 2020.

    Apa mau dikata, rupanya para elite PDI-P di Jakarta berkehendak lain. Mendadak Gibran Rakabuming, putra pertama Presiden Jokowi, menyampaikan minatnya untuk mengikuti pilwalkot Solo. Pak Pur bahkan sampai dipanggil ke Istana di Jakarta. Para kader partai di Solo, yang sudah memilih pasangan Poer-Teguh, diminta memahami pilihan elite Jakarta—Megawati dan Jokowi. Pak Pur diminta mundur dari pencalonan. Mega pun memberi rekomendasi kepada Gibran untuk maju berpasangan dengan Teguh.

    Kembali kepada nasib Ganjar; walaupun popularitasnya tinggi melampaui Puan dan Risma, namun jika Mega memutuskan lain, Ganjar pun mungkin harus mengubur mimpinya jadi presiden. Mungkinkah Ganjar membelot ke partai lain dengan berbekal popularitasnya? Rasanya sukar skenario ini terjadi, sebab partai lain juga dijejali peminat internal. Lagi pula, seandainya ada partai yang mencalonkan Ganjar, PDI-P mungkin akan berusaha keras agar impian Ganjar itu tidak terwujud. PDI-P akan berusaha menunjukkan bahwa kader lain bisa meraih kursi RI-1 atau RI-2 walaupun popularitasnya saat ini dilampaui Ganjar.

    Elite PDI-P niscaya telah menghitung bahwa masa depan PDI-P sangat dipengaruhi dan ditentukan oleh terpilihnya Puan. Karena itu, kendati Ganjar populer saat ini, akan sukar baginya untuk memperoleh tiket rekomendasi dari Mega. Momen Ganjar berbeda dari momen Jokowi, sebab kali ini elite PDI-P ingin momentum ini diberikan kepada penerus Mega, bukan orang lain sekalipun ia kader populer. >>



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.