Pemerintah Sudah Benar Meniadakan Mudik Saat Pandemi - Analisis - www.indonesiana.id
x

Mudik dengan bus di masa pageblug. Antara/Fakhri Hermansyah

Sayyidina Aliudin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 22 Juli 2019

Sabtu, 29 Mei 2021 14:54 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Pemerintah Sudah Benar Meniadakan Mudik Saat Pandemi


    Dibaca : 474 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Kasus Covid-19 di Indonesia masih terus terjadi. Kita harapkan kasus ini jangan sampai sama dengan India. Saya yakin masyarakat Indonesia sudah tahu dampak dari pandemi ini. Karena sudah merasakannya.

    Momen libur Lebaran banyak masyarakat Indonesia mudik. Meski dilarang oleh pemerintah dengan tujuan menekan angka kasus Covid-19. Langkah pemerintah sudah tepat. Meniadakan mudik lebaran tahun ini.

    Pemerintah sudah benar meniadakan mudik Lebaran tahun ini supaya tidak ada gelombang penulari Covid-19 di Indonesia selanjutnya. Sebab, sekarang ini kasus Covid-19 di Indonesia sudah melandai. Apa mau ada gelombang selanjutnya seperti di India?

    Meski begitu penulis yakin, pemerintah sudah mempersiapkan ketersediaan penanganan Covid-19 bila ada lonjakan kasus. Untuk itu, kami sebagai masyarakat umum mengajak kepada masyarakat Indonesia untuk menghindari kerumunan.

    Artinya protokol kesehatan perlu diterapkan dan kesadaran masyarakat. India itu luar biasa dan mengagetkan dunia dengan kasus lonjakan kasus setiap harinya. Saya harap masyarakat menerapkan 5 M. Pemerintah pun pastinya sudah mengantisipasi.

    Semoga larangan mudik tahun ini akan bisa lebih mengefektifkan untuk mencegah terjadinya penyebaran varian baru yang sudah berada di Singapura, Malaysia, Filipina, dan mudah-mudahan tidak sampai seperti yang terjadi di negara yang sangat parah.

    Mengutip situs resmi Kemenko PMK, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy menilai pelaksanaan kebijakan peniadaan mudik Lebaran 2021 secara umum telah berjalan cukup bagus.

    "Memang kebijakan peniadaan mudik ini tidak berhasil 100 persen, tapi bukan berarti gagal sama sekali. Secara umum sudah bagus," kata Muhadjir.

    Indikator penilaian tersebut berdasarkan pemanfaatan data historis penanganan peniadaan mudik 2020, pengetatan pengawasan di sejumlah jalur 'tikus' atau alternatif yang dipelajari secara detail, kemudian modus operandi pemudik yang nekat dengan cara-cara yang menurut mereka kreatif tapi berhasil diantisipasi.

    Namun demikian, Muhadjir mengakui hal itu tidaklah mudah. "Karena ini kan bicara tentang orang, mobilitas, susah untuk dipastikan.

    Tetapi apa yang sudah dilakukan Pak Menhub, aparat kepolisian dan TNI di dalam melakukan penyekatan dan penindakan ketika berangkat, saya kira ini sangat berharga untuk dijadikan dasar kita membijaksanai menyambut kedatangan mereka arus balik ini.

    Menurut Muhadjir, pemerintah juga telah mempersiapkan fasilitas tambahan seperti tempat tidur rumah sakit, ruang ICU, serta ketersediaan oksigen.

    Selain itu, Kementerian Kesehatan juga telah menambah jumlah pelacak atau tracer dari 5 ribu menjadi 100 ribu orang.

    Ikuti tulisan menarik Sayyidina Aliudin lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.