Menyambut Euro 2021: Bola Sang Alkemis - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi sepak bola. Foto StockSnap dari Pixabay

tuluswijanarko

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

2 hari lalu

  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Menyambut Euro 2021: Bola Sang Alkemis

    Apakah persamaan bola dengan sastra? Mengapa penulis sekaliber Paulo Coelho yang dikenal dengan karya gemilangnya, Sang Alkemis, itu pernah hadir di perhelatan Piala Dunia? Eforia saat ini tengah melanda penggila bola, mereka datang dari segala lapisan. Bersiaplah!

    Dibaca : 174 kali

    Di Fan Fest, dekat Jembatan Brandenburg, Berlin, itu Paulo Coelho berdiri takjub. Di hadapan layar raksasa yang menayangkan pertarungan dua tim, ribuan manusia berbagai bangsa tumplek di sana. Kibasan bendera. Kor membahana. Dan nasionalisme menggelegak ke udara. "Inikah sebuah festival?," bisiknya kepada diri sendiri. Saat itu, tahun 2006, ia ikut mengamati gelegak massa dalam kemeriahan Piala Dunia di Jerman. 

    Tampaknya ia merasakan umat manusia tengah merayakan impian kolektif dan
    menitipkannya pada 22 laki-laki yang berlaga di lapangan.

    Impian tentang kemuliaan sebuah bangsa? Tidak, karena Coelho lalu menyaksikan pendukung tim yang berbeda saling bergandengan tangan begitu pertempuran usai. Saat itu musik kembali dimainkan. Fan Fest senantiasa dalam keriaan. Dan dia melihat impian anak manusia untuk bisa hidup saling berdampingan telah dihantarkan sebuah permainan bernama sepak bola. Tanpa kecanggungan.

    Mungkin ia segera teringat pada Santiago, tokoh utama dalam novelnya yang menggetarkan, Sang Alkemis. Santiago adalah bocah penggembala yang memilih berpihak pada mimpi-mimpinya. Bedanya, Santiago mencarinya dalam pengembaraan sepanjang Andalusia hingga Mesir--dalam kesendirian. Sedangkan mereka yang di Fan Fest itu, juga khalayak pemuja sepak bola sejagat yang tengah tersihir perhelatan Piala Dunia 2006, mengusung mimpinya dalam eforia global. Eforia, yang kini juga tengah dirasakan menyambut Euro 2021. Meski dengan cara yang berbeda akibat pandemi. 

    Kepada Santiago, dalam Sang Alkemis, Coelho seperti mecangkingkan mimpinya tentang dunia yang ia harapkan. Apakah Coelho telah terpilih untuk memberikan kesaksian: bahwa sastra dan sepak bola sama-sama memberikan harapan membuat dunia menjadi lebih baik?

    Ini kedengarannya mengada-ada. Tetapi dia tak sendiri. Lihatlah, Klaus Maine, ternyata memberikan kesaksian serupa. "Musik dan sepak bola dapat mengubah dunia. Karena inilah bahasa dunia," titah vokalis Scorpions itu.

    Tetapi mari kita yakini kebenaran berikut. Sastra lebih dari sekadar bahasa dunia. Dia bahasa kemanusiaan. Padanyalah harapan paling sederhana dari kemanusiaan kerap dibisikkan. Kenapa? Karena sastra merawat mimpi kemanusiaan jauh dari hiruk-pikuk. Juga dengan kesabaran (yang demikian revolosioner).

    Dr Zhivago, yang ditulis Boris Pasternak, misalnya, baru bisa dinikmati publiknya sendiri setelah 25 tahun. Nasibnya mirip tetralogi Pulau Buru. Umat manusia perlu waktu yang panjang untuk dapat mencecap nilai-nilai kemanusiaan yang dikandung buku tersebut.

    Hanning Mankell, penulis kondang Swedia, pernah berceloteh, bahwa sastra dan sepak bola berurusan dengan hal sama, yakni konflik, kontradiksi, solusi. "Sastrawan dan pemain sepak bola harus membuatnya menarik, agar bisa dinikmati," katanya.

    Menarik atau tidak adalah soal lain. Tapi misi suci sastra ataupun sepak bola tak bisa dicapai secara instan. Dia tetap harus diperjuangkan. Masih terngiang kata-kata Santiago," Kemungkinan mewujudkan mimpi menjadi kenyataan akan membuat hidup lebih menarik."

    Impian itulah yang selalu menjaga daya hidup. Pasternak bersedia menunggu 25 tahun sebelum kitabnya dibaca. Sepak bola sudi menunggu lebih lama lagi. Lihatlah Sheffield, klub sepak bola pertama di dunia yang didirikan pada 1875. Saat itu, pertandingan hanya dimainkan antaranggota klub. Tim dibagi antara yang sudah menikah melawan para lajang. Atau anggota yang sudah bekerja melawan pengangguran. Sepak bola, pada waktu itu, seperti hanya pengisi waktu senggang sekeompok orang saja.

    Kini, ratusan tahun kemudian, anak segala bangsa saling bertemu di arena sepak bola, merawat persahabatan. Sepak bola telah menjadi koridor paling lega, agar warga dunia kian menyadari bahwa mereka tidak berbeda.

    Dan Coelho pelan-pelan merasa sang mimpi mulai mengetuk pintu kenyataan.

    *) artikel ini pernaih dimuat di Koran Tempo, 2006. Dengan beberapa editing, kali ini dimuat di sini untuk menyambut Euro 2021



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.