Ahli Tanggapi Pernyataan CISDI bahwa Penyebaran Covid-19 di Tanjung Priok 12 Kali Lipat dari Data Resmi

Selasa, 29 Juni 2021 06:15 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Jumlah kasus yang tertumpuk menyebabkan layanan kesehatan perlahan-lahan kolaps. Penanganan kasus pun tidak efektif. Karena kapasitas tes dan pelacakan kasus yang rendah, jumlah kasus yang terdata bisa jadi jauh lebih rendah dari aktual. Survei serologi CISDI yang baru saja dilaksanakan menjelaskan kemungkinan tersebut.

Survei serologi CISDI di Tanjung Priok sebut penyebaran Covid-19 12 kali lipat lebih banyak dari data terlapor. (Sumber gambar: Youtube CISDI TV)

Pada 15 Juni lalu Jubir Satgas Covid-19, Wiku Adisasmito, menyebut 15 kabupaten-kota dengan kenaikan kasus positif Covid-19 tertinggi. Di urutan pertama dan kedua adalah Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan lonjakan kasus tidak main-main yang masing-masing mencapai 2.803 persen dan 715 persen.

Jumlah kasus yang tertumpuk mampu menyebabkan layanan kesehatan perlahan-lahan kolaps dan sebabkan penanganan kasus tidak efektif. Sayangnya, meningkatnya jumlah kasus bukan kabar buruk pertama yang perlu kita waspadai. Faktanya, lantaran kapasitas tes dan pelacakan kasus yang rendah, jumlah kasus yang terdata bisa jadi jauh lebih rendah dari kasus aktual yang terjadi.

Survei serologi CISDI di Kecamatan Tanjung Priok yang baru saja dipublikasikan menjelaskan kemungkinan tersebut. “Survei seroprevalensi ini memperkirakan proporsi orang yang pernah terinfeksi dan tak bergejala (di Tanjung Priok) mencapai 70%,” ujar Olivia Herlinda, M.Sc., Direktur Kebijakan CISDI dalam Diskusi Panel Menjaga Indonesia, Mewaspadai Penyebaran Kamis (17/6) lalu.

Survei yang diselenggarakan pada 23 November hingga 19 Februari 2021 ini menemukan estimasi penduduk yang telah dan pernah terinfeksi Covid-19 mencapai 29,9% atau 12 kali lipat dari data terkumpul di angka 2,4% pada periode waktu yang sama. “Data ini menunjukkan masih banyak kasus tanpa gejala (asimptomatik) yang belum terdeteksi,” sambung Olivia kembali.

Tanggapan

Menanggapi hal itu, pemerintah daerah setempat tetap berkomitmen meluaskan kapasitas tes. “Hal (survei) ini menunjukkan Covid-19 seperti puncak gunung es. Hal yang bisa dilihat di permukaan laut adalah kasus yang terlihat karena terdeteksi pada orang bergejala maupun kontak erat,” ujar dr. Lies Dwi Octavia, M.Epid, Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan DKI Jakarta.

Di luar Tanjung Priok, sebaran kasus Covid-19 di DKI Jakarta pun kian meluas. Pada Kamis (17/6) terhitung 4.144 kasus baru bermunculan ketika dalam beberapa bulan lalu hanya terdata 1.000 hingga 2.000 kasus baru per hari.

Tes serologi lazim dilakukan di beberapa negara. Inggris dan Spanyol, contohnya, memanfaatkan tes ini untuk mengukur tingkat populasi yang telah terinfeksi. Di beberapa bulan awal pandemi, Inggris dan Spanyol masing-masing bahkan mendapatkan prevalensi serologi mencapai 6% dan 5% dari total populasi.

“Survei seroprevalensi ini berfungsi sebagai pemetaan lebih dalam agar kebijakan yang dirumuskan lebih antisipatif dan prediktif,” ujar Diah Saminarsih, M.Sc, Penasihat Senior untuk Urusan Gender dan Pemuda untuk Direktur Jenderal WHO dan Pendiri CISDI. WHO sendiri telah telah menyinggung penggunaan survei serologi sejak Oktober 2020 lalu.

WHO menegaskan survei serologi berguna untuk mengetahui, (1) kemunculan infeksi di tingkat populasi, (2) jumlah orang yang terinfeksi (dengan atau tanpa gejala), (3) proporsi penduduk dengan kondisi fatal akibat infeksi, (4) hingga proporsi populasi yang bisa dilindungi dari infeksi di masa mendatang.

Metode survei serologi belum lazim, namun pernah dilakukan di Surabaya, Jombang, dan Tangerang dengan jumlah sampel dan seroprevalensi yang sangat beragam.

“Kita membutuhkan survei seroprevalensi karena masih sulit saat ini mengetahui angka infeksi Covid-19 karena beberapa faktor, seperti keterbatasan tes dan kemauan orang untuk dites,” ujar dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, Juru Bicara Program Vaksinasi Nasional sekaligus Direktur Pencegahan dan Penyakit Menular Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Namun, mendorong orang tanpa gejala melakukan tes bukan perkara mudah. Pasalnya, di DKI Jakarta saja, 12,9% atau sekitar 2.882 orang alami infeksi tanpa gejala. “Tantangan terbesar kita sekarang adalah masih banyaknya kasus tidak bergejala di saat kasus semakin tinggi,” ungkap dr. Iwan Ariawan, MSPH, advisor penelitian survei ini dan juga epidemiolog Universitas Indonesia.

Adapun, terhadap tanggapan ahli atas survei ini, Olivia memberikan beberapa rekomendasi. Pertama, mendorong pemerintah mempercepat program vaksinasi, meningkatkan kepatuhan 3M, dan meningkatkan kapasitas tes dan lacak kasus.

Kedua, menyediakan ruang perawatan isolasi di tingkat komunitas untuk mencegah transmisi rumah tangga. Ketiga, mengoptimalkan pelacakan kasus, terutama untuk mendeteksi orang-orang tanpa gejala. Keempat, melaksanakan kembali survei seroprevalensi kembali setelah proses vaksinasi.

“Akan sangat baik jika pemerintah daerah lain juga melaksanakan survei seroprevalensi untuk mengevaluasi upaya respons Covid-19 yang telah berjalan,” tutupnya.

 

Tentang CISDI

Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) adalah think tank yang mendorong penerapan kebijakan kesehatan berbasis bukti ilmiah untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang berdaya, setara, dan sejahtera dengan paradigma sehat. CISDI melaksanakan advokasi, riset, dan manajemen program untuk mewujudkan tata kelola, pembiayaan, sumber daya manusia, dan layanan kesehatan yang transparan, adekuat, dan merata.

 

Penulis

 

Amru Sebayang

 

 

 

Bagikan Artikel Ini

Baca Juga











Artikel Terpopuler