Benarkah Sultan Haji Itu Palsu? (Resensi Buku Syeikh Nawawi Al-Bantani) - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Menggambarkan Peran Ki Nawawi

kang Nasir

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Minggu, 18 Juli 2021 12:41 WIB

  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Benarkah Sultan Haji Itu Palsu? (Resensi Buku Syeikh Nawawi Al-Bantani)

    Menggambarkan Isi buku Syaikh Nawawi Al-Bantani sekaligus meragukan beberapa bagian isi buku ini.

    Dibaca : 474 kali

    Judul Buku   : Syaikh Nawawi Al-Bantani

    Penulis       : Amirul Ulum

    Penerbit     : Global Press

    Terbit       : 2021 (cetakan ketiga)

    Tebal:       : 143 halaman.         

    ------------------------------

    Syeikh Nawawi Al-Bantani, adalah ulama terkemuka dari Banten yang bermukim di Mekah pada abad X!X dengan gelar Sayid Ulama Hijaz. Kehadiran buku Syeikh Nawawi Al-Bantani yang ditulis Amirul Ulum, paling tidak, dapat dijadikan referensi untuk mengetahui biorgarafi dari murid Syeikh Hatib Sambas ini.

    Jika dilihat secara keseluruhan, buku ini tidak hanya membicarakan Syeikh Nawawi saja, tapi ternyata membicarakan masalah sejarah Banten sejak pra Kesultanan Banten  serta  jaman Kesultanan Banten hingga Banten pada Abad IX.  

    Pada prolog buku ini dijelaskan mengenai penyebaran Islam di Nusantara. Dalam kaitannya dengan Banten, disini dijelaskan tentang bagaimana hubugan antara Prabu Siliwangi yang mempersunting Nyai Subang Larang yang kemudian mempunyai 3 orang anak yakni, Raden Kian, Rara Santang dan Raden Walangsungsang. Rara Santang kemudian menikah dengan Syarif Abdullah, putera raja Mesir saat ibadah haji. Dari hasil perkawinannya melahir kan dua orang anak yakni Syarif Hidayatullah dan Syarif Nurullah. Syarif Hidayatullah kemudian menyebarkan Agama Islam di tanah pajajaran yang kemudian terkenal dengan nama Sunan Gunung Jati.

    Bab I buku ini membicarakan tentang Kesultanan Banten. Disini dijelaskan mengenai Kesultanan Banten yang merupakan Kerajaan Islam. Dalam pembahasannya penulis membicarakan mengenai kegagahan Sultan Banten sejak jaman Sultan Hasanudin hingga Sultan Ageng Tirtayasa.

    Setelah itu dibahas mengenai kelemahan Kesultanan Banten terutama sejak terjadinya konflik antara Sultan Ageng Tirtayasa dengan Sultan Haji yang merupakan anak dari Sultan Ageng Tirtayasa sendiri. Sejak Sultan Haji diganti oleh penerusnya, Kesultanan Banten mengalami keruntuhan pada awal abad XIX.

    Ada yang menarik dalam pembahasan bab ini yakni tentang keberadaan Sultan Haji. Ditulis dalam buku ini tentang konflik antara Sultan Agung Tirtayasa dengan anaknya Sultan Haji. Digambarkan bahwa Sultan Agung Tirtayasa mendambakan anaknya kelak akan menggantikannya sebagai Sultan di Banten bisa seperti Sultan Turk (Sultan Mahmud IV).

    Maka dari itu Sultan Haji kemudian diutus untuk belajar Islam ke Mekah /Hijaz  dan mengunjungi Kerajaan Turki. Mengetahui Sultan Haji sedang belajar ke Mekah, pihak Belanda kemudian berupaya menangkap dan memperalat Sultan Haji agar berbelok membantu misi kompeni dalam menguasai Banten.

    Sultan Haji dirayu dan diiming-imingi harta dan wanita cantik akan dipersembahkan asalkan Sultan Haji mau bekerjasama dengan pihak kompeni. Sultan Haji tidak mau, ahirnya ditangkap dan disksa. Meskipun Sultan Haji selalu disksa, tapi tetap tidak mau bekerjasama dengan kompeni, ahirnya di bunuh.

    Pihak kompeni kemudian mencari orang yang mirip dengan Sultan Haji. Setelah menemukan orangnya, dididik oleh kompeni berperilaku seperti Sultan Haji, tapi punya sikap bekerjasama dengan kompeni.

    Saat Sultan Haji palsu pulang ke Banten, disambut dengan baik dan meriah oleh Sultan Ageng Tirtayasa di Istana Banten. Setelah itu Sultan Ageng Tirtayasa menyerahkan Istana Banten kepada Sultan Haji karena ayahnya berharap nanti Sultan Haji akan menggatikan sebagai Sultan Banten, sementara pusat pemerintahan di bawah Sultan Ageng Tirtayasa di pindahkan ke Tirtayasa.  

    Namun sikap Sultan Haji telah berubah,  sudah tidak lagi menuruti kemaun ayahnya, bahkan cenderung membangkang, bahkan Sultan Haji kemudian menyerang Istana di Tirtayasa guna merebut kepemimpinan Kesultanan Banten.

    Penyerbuan gagal, Sultan Haji ditangkap, ketika akan dihukum, Sultan Haji minta maaf, lantas dimaafkan ayahnya dengan permintaan agar Sultan haji tidak mengulangi perbuatannya, soal tahta kesultanan, nanti akan diberikan kepada Sultan Haji karena dialah Putra Mahkota.

    Namun demikian, Sultan Haji kemudian minta bantuan kompeni untuk menyerang Istana Tirtayasa dan ayahnya untuk yang kedua kali. Ahirnya Sultan Ageng Tirtayasa mengalami kekalahan dan Sultan Ageng Tirtayasa bersama dengan Syeikh Yusuf Makasar (Ulama kepercayaan Sultan) mundur dari Tirtayasa.

    Setelah itu, Sultan Ageng Tirtayasa menyerbu Istana Tirtayasa yang sudah di kuasai Sultan Haji, namun karena ada bantuan kompeni, pasukan Sultan Ageng Tirtayasa tidak dapat merebut Istana, bahkan mengalami kekalahan, Sultan Ageng Tirtaya, Syeikh Yusuf dan Pangeran Purbaya dapat ditangkap kompeni. (Hal 30-45).

    Saya yang membaca buku ini agak heran, bukan soal kronik atau konflik antara Sultan Ageng Tirtayasa dan Sultan Haji, tetapi soal status Sultan Haji yang dikatakan sebagai Sultan Haji palsu, sebab Sultan Haji yang asli dibunuh kompeni.

    Sebagai orang Banten yang meyakini tentang kebenaran sejarah, maka saya sangat meragukan kebenaran sejarah tentang status Sultan Haji yang dikatakan sebagai Sultan Haji Palsu.

    Pertanyaannya kemudian, dimana Sultan Haji yang asli itu dibunuh, jika benar, tentu ada jejak sejarah tentang itu. Ini berkaitan dengan sumber data, dari mana penulis mengambil data bahwa Sultan Haji yang melawan Sultan Ageng Tirtayasa itu adalah Sultan Haji palsu.

    Bab II judulnya Cahaya dari Makkah membahas biografi perjalanan Syeikh Nawaawi sejak kecil hingga menjadi ulama besar, sejak dari Tanara hingga tinggal di Mekah. Sedangkan Bab III (Part Thre) membicarakan masalah Kontribusi Syeikh Nawawi.

    Dalam beberapa hal, saya meyakini kebenaran tentang isi yang dibahas dalam dua bab ini karena banyak literatur yang juga isinya tidak berbeda dengan apa yang dikemukakan oleh penulis ini.

    Yang tidak saya ragukan tentang Syeikh Nawawi Al-Bantani –orang Banten menyebutnya Ki Nawawi – dalam buku ini misalanya asal muasal kampungnya, siapa orang tuanya, siapa gurunya waktu belajar sebelum ke Mekkah, siapa gurunya waktu ada di Mekah dan siapa murid muridnya termasuk hasil karyanya.

    Namun dalam banyak hal, ada juga yang saya ragukan tentang validitas sumber penulisan. Hal ini saya dapati lantaran dalam penulisannya banyak menggunakan teknik dialog langsung seolah betul betul sedang terjadi suatu obrolan.

    Intinya, menurut pengamatan saya, nampaknya penulis buku ini mengambil sumber data tidak semata berdasarkan sumber kepustakaan, tetapi di barengi juga  dengan sumber yang berasal  dari cerita-cerita yang berkembang dalam masyarakat.

    Maka dari itu, sulit bagi saya untuk mengatakan jika buku ini adalah karya Ilmiah. Namun apapun itu, kehadiran buku ini bisa untuk menambah wawasan kita untuk mengetahui khazanah Ulama besar nusantara yang sama sama kita banggakan.

    Banten, 15/7/2021.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.