Benarkah Indonesia Dijajah Selama 350 Tahun? - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi Situasi Perang Belanda di Aceh (Sumber : jernih.co)

Tatang Hidayat

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 11 Agustus 2021 06:44 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Benarkah Indonesia Dijajah Selama 350 Tahun?

    Sejarawan GJ Resink menggugat klaim Indinesia dijajah selama 350 tahun. Berdasar bukti-bukti yang dimilikinya, Resink membangun narasi bahwa Belanda efektif menjajah Indonesia cuma selama 50 tahun. Klaim Resink itu merujuk pada keberadaan kesultanan-kesultanan di Nusantara hingga tahun 1910-an. Tak hanya eksis. Kesultanan-kesultanan itu juga bebas merdeka menentukan sikap.

    Dibaca : 1.362 kali

    Oleh : Tatang Hidayat (Pegiat Student Rihlah Indonesia)

    Berdasarkan referensi buku sejarah yang kita pelajari di sekolah dulu, katanya Indonesia dijajah 350 tahun. Benarkah narasi ini? Apakah leluhur kita menerima begitu saja dengan adanya penjajahan sehingga tidak ada perlawanan yang dilakukan sehingga sangat lamanya bangsa kita dijajah? Apakah leluhur kita orangnya bodoh-bodoh dan lemah-lemah sehingga bisa dengan mudahnya 350 tahun dijajah?

    Jawaban terhadap pertanyaan ini akan mempengaruhi identitas kita sebagai sebuah bangsa, apakah kita ini bangsa yang lemah atau bangsa pejuang?  

    Asad Asnawi (2020) mencatat sejauh ini, pernyataan bahwa Belanda menjajah Indonesia selama 350 tahun itu sebagian didasarkan pada:

    Pertama, keberhasilan VOC menduduki Batavia pada 1619 silam. Itu pun, jika dihitung mundur tak sampai 350 tahun. Tetapi, yang perlu dicatat adalah bahwa VOC bukanlah Belanda dari sisi pemerintah kerajaannya. Melainkan, perkumpulan dagang.

    Jika kita berpendapat bahwa 350 tahun Indonesia dijajah pasca keberahasilan VOC menduduki Batavia pada 1619 silam, maka kita akan bandingkan situasi kondisinya dengan saat ini. Para pengusaha Belanda mendirikan VOC pada 2 Maret 1602. Namun, seiring berjalannya waktu, VOC memiliki banyak masalah. Mulai dari korupsi, kecurangan konflik antar internalnya, dan perlawanan jihad yang tidak pernah berhenti dari umat Islam di Nusantara tak sebanding dengan pendapatan yang mereka terima sehingga menyebabkan terkurasnya keuangan VOC hingga mengakibatkan mereka bangkrut dan bubar pada 31 Desember 1799.

    Setelah VOC bubar, Nusantara dikendalikan Pemerintah Kolonial Belanda. Artinya VOC bukan mengatasnamakan pemerintahan Belanda, VOC hanya sekumpulan pengusaha Eropa, khususnya pengusaha Belanda yang diberikan hak oleh Belanda.

    Jadi kalau ada pendapat kita dijajah pasca VOC menduduki Batavia 1619 dan melakukan kolonialisasi di Nusantara, berarti kita mengakui wilayah Nusantara dijajah korporasi pengusaha asing. Dari sini bisa mengambil pelajaran apakah hari ini bangsa kita dijajah oleh sebuah korporasi perusahaan multi nasional yang mengendalikan sumber daya alam Indonesia? Mengendalikan ekonomi Indonesia? Kalau itu terjadi berarti sekarang kita juga sedang dijajah oleh korporasi perusahaan multi nasional.

    Kedua, Batavia yang diduduki VOC kala itu tentu belum sebesar wilayah Jakarta sekarang ini. Bahkan, hanya sekitaran Kota Lama yang ada di Jakarta Utara saat ini.

    Ketiga, saat itu, Indonesia belum lahir. Karena itu, jika penyebutan penjajahan 350 tahun oleh Belanda dimaksudkan untuk Indonesia sebagai negara kepulauan dengan luas seperti sekarang ini, adalah salah besar. Karena Belanda tidak pernah benar-benar ‘menguasai’ seluruh wilayah Nusantara selama itu.

    Seorang sejarawan yang juga ahli tata negara, GJ Resink sebagaimana dalam Asad Asnawi (2020) salah satu yang menggugat klaim 350 tahun itu. Penyangkalan itu pun ia rangkum dalam karyanya berjudul Bukan 350 Tahun Dijajah tahun 2012 silam. Sebaliknya, berdasar bukti-bukti yang dimilikinya, Resink membangun narasi baru bahwa Belanda efektif menjajah Indonesia selama 50 tahun. Tak lebih. Klaim oleh Resink merujuk pada keberadaan kesultanan-kesultanan di Nusantara hingga tahun 1910-an. Tak hanya eksis. Kesultanan-kesultanan itu juga bebas merdeka untuk menentukan sikap.

    Melalui karyanya, Resink sejatinya ingin mengajak publik untuk melihat lebih kritis pandangan yang menyebut Indonesia dijajah Belanda tiga setengah abad lebih. Sebab, selama ini, narasi tersebut diterima begitu saja sebagai kebenaran umum tanpa adanya catatan kritis.

    Dalam kehidupan sehari-hari kita sering dijajali pengetahuan apa yang kita dengar dan baca, ketika kita ditanya berapa lama Indonesia dijajah Belanda? Maka kebanyakan akan menjawab 350 tahun atau 3.5 abad setengah. Narasi ini terus kita dengar dari generasi ke generasi. Tentu narasi ini perlu diuji kebenarannya, jika seperti ini terus maka mental bangsa kita merupakan bangsa yang lemah. Narasi Indonesia dijajah 350 tahun merupakan narasi pembodohan, dan penipuan,  karena pada faktanya kita tidak dijajah selama itu.

    Ada kesalahan persepsi dan pembacaan dalam narasi yang selama ini kita terima, bahwa bangsa kita dijajah 350 tahun, padahal sejatinya bangsa kita 350 tahun berjihad fii Sabilillah melawan penjajahan bangsa asing.

    Narasi bangsa Indonesia dijajah 350 tahun kesannya bangsa kita itu orangnya bodoh-bodoh, lemah-lemah dan narasi kekalahan lainnya. Padahal leluhur kita itu adalah pejuang-pejuang hebat dan tangguh.

    Narasi 350 tahun dijajah hakikatnya sudah runtuh ketika Perang Belanda di Aceh. Aceh baru kalah perang 1910, bahkan perlawanan sebenarnya masih dilanjutkan sisa-sisa Mujahidin Aceh hingga 1942. Berarti kalau dihitung dari kalahnya Aceh 1910 sampai kemerdekaan 1945 itu hanya 35 tahun menjajahnya dan itu pun tidak semua daerah di Nusantara dijajah. Wallohu'alam bi al-Shawab

     

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.