Aspal Buton Masa Depan Industri Perminyakan Indonesia - Analisis - www.indonesiana.id
x

Indŕato Sumantoro

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 12 Juli 2020

Kamis, 12 Agustus 2021 09:13 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Aspal Buton Masa Depan Industri Perminyakan Indonesia

    Visi aspal Buton sebagai masa depan industri perminyakan di Indonesia bukanlah berita hoaks. Profesor Bambang Widarsono dari Lemigas, menyatakan bahwa produksi minyak nasional yang dari tahun ke tahun cenderung menurun, maka keberadaan oil sands dan bitumen ini dapat menjadi terobosan yang sangat berarti.

    Dibaca : 1.312 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Indonesia memiliki banyak sumber daya alam yang melimpah. Tetapi ada satu sumber daya alam yang sudah hampir 1 abad lamanya masih belum juga diolah untuk menyejahterakan seluruh rakyat Indonesia. Sumber daya alam tersebut adalah aspal alam Buton. Di Media sudah banyak sekali berita yang membahas potensi aspal Buton yang sangat luar biasa besarnya untuk menggantikan aspal minyak impor. Dan sudah banyak pejabat tinggi negara, bahkan Bapak Presiden Joko Widodo sendiri, yang sudah menyatakan dukungannya secara terbuka terhadap pengembangan industri aspal Buton untuk menggantikan aspal minyak impor. Tetapi mirisnya, tindak lanjut dari berita-berita di Media tersebut sampai saat ini masih belum kelihatan ada wujudnya. Apakah berita-berita yang kita baca di Media tersebut adalah berita hoaks?

    Jawaban yang paling sederhana dari pertanyaan mengapa program hilirisasi aspal Buton menemui jalan buntu adalah karena selama ini Indonesia sudah merasa sangat nyaman dengan kehadiran aspal minyak impor. Sudah 40 tahun lebih Indonesia mengimpor aspal minyak sebesar 1 juta ton per tahun. Atau senilai US$ 500 juta per tahun. Angka-angka ini menunjukkan dengan terang bahwa selama ini Indonesia memang sudah sangat terlena dan terbius dengan “manisnya” aspal minyak impor. Apakah karena aspal Buton yang merupakan sumber daya alam asli Indonesia ini dianggap sudah tidak berguna lagi?.

    Aspal Buton adalah sumber daya alam yang banyak manfaatnya. Aspal Buton selain dapat digunakan untuk mengsubstitusi aspal minyak impor sebagai pelapis jalan, aspal Buton dapat juga digunakan sebagai bahan baku industri-industri lainnya. Tetapi ada satu hal yang mungkin Pak Jokowi dan para pejabat tinggi negara masih belum sadar adalah bahwa aspal Buton memiliki potensi besar sebagai masa depan industri perminyakan di Indonesia. Lho... kok belum pernah ada Webinar yang pernah membahas masalah penting ini? Apakah Menteri ESDM sudah tahu? Apakah informasi ini merupakan berita hoaks atau hanya merupakan sekedar angin surga belaka? Marilah kita kaji bersama.

    Mengutip paparan mengenai “Oil/Tar Sands dan Bitumen: Tinjauan Singkat Status Saat Ini” yang dipresentasikan oleh Bapak Prof. Bambang Widarsono dari Lemigas, menyatakan bahwa produksi minyak nasional yang dari tahun ke tahun cenderung menurun, maka keberadaan oil sands dan bitumen ini dapat menjadi terobosan yang sangat berarti. Seperti yang kita ketahui bahwa aspal alam Buton adalah oil sands atau bitumen. Jadi ini berarti aspal Buton adalah masa depan industri perminyakan Indonesia seperti apa yang dimaksud oleh Prof. Bambang Widarsono dari Lemigas dalam paparannya tersebut.

    Prof. Bambang Widarsono merekomendasikan bahwa potensi atau akumulasi oil/tar sands dan bitumen di Indonesia harus dipelajari dengan serius dengan dukungan penuh pemerintah mengingat nilai strategisnya. Untuk memanfaatkan potensi oil sands yang diperkirakan ada di Indonesia perlu diadopsi teknologi yang terbaik, tetapi dengan resiko terendah sesuai dengan kondisi di Indonesia.

    Mungkin Pak Jokowi dan para pejabat tinggi negara yang telah mendukung pengembangan industri aspal Buton masih belum tahu bahwa Indonesia mempunyai rencana Proyek Oil Open Pit Mining di lapangan minyak ekstra berat Iliran High milik PT Medco EP di Sumatera Selatan. Oleh karena jenis minyaknya adalah sangat kental dan berada sangat dangkal, maka untuk memproduksi minyak ekstra berat tersebut harus dilakukan penambangan secara terbuka. Metode Oil Open Pit Mining ini adalah yang pertama kali dilakukan di Indonesia. Oleh karena itu Prof. Bambang Widarsono mengingatkan bahwa ujicoba tambang terbuka oil sands ini harus dilakukan sebaik mungkin untuk memaksimalkan lesson learned dan memberi citra yang baik mengenai eksploitasi oil sands di Indonesia.

    Mudah-mudahan pak Jokowi dan para pejabat tinggi negara yang telah menyatakan dukungannya secara terbuka di Media terhadap perkembangan industri aspal Buton membaca tulisan ini. Jadi sekarang Indonesia memiliki 2 buah Proyek yang berkaitan dengan masa depan industri perminyakan di Indonesia. Pertama adalah Proyek untuk memproduksi aspal Buton ekstraksi. Dan kedua adalah Proyek untuk memproduksi minyak ekstra berat dari lapangan Iliran High di Sumatera Selatan dengan metoda Oil Open it Mining. Kedua Proyek ini akan menggunakan Teknologi Ekstraksi Pelarut yang persis sama untuk memisahkan bitumen dari batu-batuan pengikatnya. Hal ini sudah sesuai dengan pesan Prof. Bambang Widarsono bahwa untuk memanfaatkan potensi oil sands yang diperkirakan ada di Indonesia perlu diadopsi teknologi yang terbaik, tetapi dengan resiko terendah sesuai dengan kondisi di Indonesia.

    Mencermati isu aspal Buton adalah masa depan industri perminyakan di Indonesia, maka pemerintah diharapkan tidak menjadi penonton yang hanya duduk manis. Tetapi perlu ikut serta mendukung secara penuh dan aktif, mengingat kedua Proyek tersebut sangat bernilai strategis bagi kemajuan industri perminyakan Indonesia di masa yang akan datang. Para ahli di bidang oil/tar sands dan bitumen diharapkan dapat duduk bersama untuk membahas dan merumuskan strategi pengembangan potensi oil sands dan bitumen di bumi Indonesia ini sebagai sumber daya alam unggulan yang setara dengan sumber-sumber daya alam yang lainnya, yang sudah terlebih dahulu dieksploitasi untuk menyejahterakan seluruh rakyat Indonesia.

    Salah satu kiat sukses dari Stephen R. Covey penulis buku Best Seller “Tujuh Kebiasaan Manusia yang Sangat Efektif”, adalah kebiasaan 2 : Mulailah dari Akhir dalam Pikiran. Kebanyakan orang pasti akan mengira bahwa akhir dalam pikiran kita adalah memproduksi aspal Buton ekstraksi untuk mensubstitusi aspal minyak impor. Ternyata perkiraan mereka itu keliru. Memproduksi aspal Buton ekstraksi untuk memsubstitusi aspal minyak impor itu adalah hanya merupakan “Target Antara”. Tetapi “Target Utama” atau akhir dalam pikiran adalah menjadikan Indonesia sebagai negara yang ahli dan terbaik di dunia, di bidang Jasa-jasa dan teknologi oil open pit mining dan ekstraksi bitumen. Proyek ekstraksi aspal Buton dan Proyek Iliran High merupakan fasilitas sarana ujicoba yang paling ideal dan sempurna untuk memperoleh ilmu dan mendapatkan pengalaman yang sangat luar biasa berharga sebelum Indonesia benar-benar dapat diakui oleh dunia sebagai negara pemain utama dalam bidang industri oil/tar sands dan bitumen di masa depan.

    Visi aspal Buton sebagai masa depan industri perminyakan Indonesia bukanlah berita hoaks. Pejabat-pejabat tinggi negara dan juga Pak Jokowi yang sudah mendukung pengembangan industri aspal Buton mohon untuk segera mengintrospeksi diri. Apakah langkah-langkah dan strategi kebijakan-kebijakan pemerintah untuk mendukung industri aspal Buton yang telah dilaksanakan selama ini sudah benar dan tepat sasaran?. Kok masih belum tampak ada tanda-tanda keberhasilannya? Mungkin tidak ada salahnya kalau kita berhenti sejenak, mengambil napas panjang, dan menengok ke belakang. Dan setelah itu kita berlari kencang untuk mengejar ketinggalan kita. Yang paling penting adalah arah dan tujuan kita sudah jelas, mantap, dan pasti. Yaitu; target utama dan akhir dalam pikiran kita adalah menjadikan Indonesia sebagai negara yang unggul di bidang Jasa-jasa dan teknologi oil open pit mining dan ekstraksi oil sands dan bitumen di dunia.

    Cadangan deposit oil sands dan bitumen di Indonesia dan di seluruh dunia sangat-sangat melimpah. Ini adalah kesempatan terbesar dan terbaik untuk Indonesia menggarapnya sekarang juga, sebelum negara-negara lain bergerak lebih cerdas dan lebih cepat. Kalau Indonesia sedikit saja terlambat dan kalah cepat, sialnya bisa-bisa Indonesia hanya akan menjadi penonton yang duduk manis di pinggir lapangan, menangis sambil mengigit jari.

    Ikuti tulisan menarik Indŕato Sumantoro lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.