BNI dan Kutukan Batubara     - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Tambang batubara Darma Henwa

Cak Daus

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 Juli 2021

Senin, 6 September 2021 06:47 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • BNI dan Kutukan Batubara    

    Negara memiliki kewajiban melindungi keselamatan warganya, termasuk dari ancaman bencana perubahan iklim ini. Sayangnya, di tengah kewajiban negara itu bank-bank negara justru masih terus mendanai proyek-proyek energi kotor batu bara. Peran Bank BUMN sangat signifikan. BNI berkontribusi cukup signifikan memberikan pinjaman untuk pembangunan PLTU batu bara. BNI tidak bisa melompat lebih tinggi atau bahkan bisa saja tersungkur akibat kebijakan pendanaannya untuk proyek-proyek batu bara.

    Dibaca : 721 kali

    Listrik merupakan kebutuhan penting bagi kehidupan kita. Kehidupan warga Indonesia akan meningkat kualitasnya bila akses listrik bagi warganya telah merata dari Sabang sampai Marauke. Apalagi kalau listrik itu berasal dari energi terbarukan. Namun, bagaimana bila listrik itu dihasilkan dari energi kotor batubara yang justru dibiayai oleh bank BUMN, seperti BNI?

    Perubahan iklim bukan lagi wacana. Berbagai bencana ekologi akibat perubahan iklim telah terjadi di berbagai penjuru dunia. Tahun ini saja Tiongkok dan Jerman dilanda banjir bandang karena curah hujan yang intensitasnya lebih dari biasanya. Sementara itu, gelombang panas telah menyerang wilayah negara bagian Oregon, Amerika Serikat. Gelombang panas itu pun telah mengakibatkan puluhan orang meninggal dunia.

    Bagaimana dengan Indonesia? Berdasarkan data BNPB, di 2020 telah terjadi 2.925 bencana di Indonesia, yang didominiasi bencana hidrometeorologi. Dengan rincian, kejadian banjir sebanyak 1.065 kejadian, angin puting beliung sebanyak 873 dan tanah longsor 572 kejadian.

    Bahkan beberapa waktu yang lalu, Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden berbicara mengenai kemungkinan ibu kota Indonesia, Jakarta tenggelam dalam kurun waktu 10 tahun mendatang akibat perubahan iklim . Artinya, segala capaian pembangunan, termasuk pertumbuhan ekonomi akan luluh lantak akibat perubahan iklim.

    Bukan lagi sebuah rahasia bahwa penyebab perubahan iklim adalah energi fosil, salah satunya adalah batu bara. Berdasarkan riset IESR (Coal as stranded assets: Potential Climate-related transition risk and its financial impacts to Indonesia banking sector, https://iesr.or.id/pustaka/coal-as-stranded-assets-potential-climate-related-transition-risk-and-its-financial-impacts-to-indonesia-banking-sector), perkembangan pertambangan batubara di Indonesia masih terus meningkat, produksi batubara Indonesia mencapai 563 juta ton, yang diekspor sebesar 326 juta ton dan digunakan untuk konsumsi domestik dari 132 juta ton.

    Dampak jangka pendek ini akan mendatangkan laba bagi segelintir pemilik modal. Namun dampak jangka panjangnya akan mengundang bencana ekologi perubahan iklim yang mengancam keselamatan mayoritas masyarakat Indonesia.

    Negara memiliki kewajiban untuk melindungi keselamatan warganya, termasuk dari ancaman bencana perubahan iklim ini. Sayangnya, di tengah kewajiban negara itu, di Indonesia, bank-bank negara justru masih terus mendanai proyek-proyek energi kotor batu bara. Peran Bank BUMN, dalam merealisasikan target pemerintah tersebut sangat signifikan. Meski tidak paling teratas BNI, terbukti berkontribusi cukup signifikan memberikan pinjaman untuk pembangunan PLTU batu bara (Bank dan Investor Bakar Uang di Energi Kotor, Auriga Nusantara, Desember 2019)

    Masuknya BNI kedalam enam bank yang ikut mendanai batu bara adalah ironis. Bagaimana tidak, di usia ke-75, BNI membuat sologan melompat lebih tinggi. Pertanyaan mendasarnya tentu saja adalah bisakah BNI melompat lebih tinggi jika masih saja mendanai proyek kotor batu bara? Jawabannya singkat, tidak.

    BNI tidak bisa melompat lebih tinggi atau bahkan bisa saja tersungkur akibat kebijakan pendanaannya untuk proyek-proyek batu bara. Kebijakan pendanaan BNI itu tak bisa lepas dari pardigma usang para pengambil kebijakannya dalam melihat bisnis.

    Paradigma usang itu berpijak pada pemikiran bahwa akumulasi laba harus menjadi tujuan utama dalam bisnis. Akumulasi laba bisnis perbankan, terutama BUMN, akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi ini merupakan syarat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Inti dari paradigma usang ini adalah ekonomi harus didahulukan, sementara aspek sosial, budaya dan ekologi bisa menyusul.

    Buktinya, menurut paradigma usang ini, negara-negara yang memiliki tingkat kepedulian tinggi terhadap lingkungan pada umumnya adalah negara-negara maju. Fenomena itu kemudian mendapatkan justifikasi oleh ekonom Gane Grossman dan Alan Krueger pada tahun 1991 melalui publikasi berjudul, Environment Impact of a North American Free Trade. Fenomena itu dikenal sebagai kurva lingkungan Kuznet atau Kurva Enviroment Kuznet Curve (EKC). Kurva EKC kemudian dipopularkan olah Bank Dunia. Tak heran bila kemudian mazhab pengetahuan ini menjadi landasan model pembangunan di hampir seluruh dunia. Termasuk di negara-negara berkembang, yang rata-rata mendapatkan pinjaman dari Bank Dunia untuk membiayai pembangunannya (Kebijakan Energi Lingkungan, Mendayung di Antara Dua Karang, Firdaus Cahyadi, Jurnal Pemikiran Sosial Ekonomi Primsa, Vol 37, No. 1 2018)

    Paradigma usang itu membuat BNI tetap mendanai proyek batu bara, meskipun batu bara ini merupan energi kotor penyebab perubahan iklim dan persoalan kesehatan di masyarakat. Paradigma usang, yang lebih mengutamakan bisnis dan mengesampingkan ekologi, ini nampaknya cukup mengakar kuat. Suara penggiat lingkungan hidup agar BNI menghentikan pendanaannya untuk energi kotor batu bara seperti diabaikan oleh jajaran direksi. Berbagai bencana ekologi akibat perubahan iklim di berbagai negara, termasuk di Indonesia, tidak menyurutkan BNI untuk terus mendanai proyek energi kotor batu bara. Bahkan dampak buruk limbah batu bara terhadap kesehatan manusia pun seperti dianggap angin lalu saja oleh bank milik negara itu. BNI tetap mendanai energi kotor batu bara.

    Jika BNI terus mempertahan paradigma usang ini, cepat atau lambat bank ini akan ditinggalkan oleh nasabahnya, utamanya mereka anak-anak muda. Bagaimana tidak. anak muda adalah pemilik masa depan bumi ini. Jika bumi ini rusak dan tak layak huni lagi akibat energi kotor yang didanai BNI, tanpa disuruh, anak-anak muda yang kini menjadi nasabah akan hengkang. Mereka lebih memilih menjadi nasabah di bank-bank yang peduli terhadap kehidupan mereka kedepan, yaitu bank-bank yang mendanai energi terbarukan bukan batu bara. Jika ini yang terjadi, jangankan untuk lompat lebih tinggi, BNI akan terjatuh ke lubang tambang batu bara.

    Usia ke-75 tahun ini harus menjadi momentum BNI untuk berubah. Paradigma usang harus segera disingkirkan. Kedepan, ekonomi tidak lagi bisa dipisahkan dengan keberlanjutan alam dan sosial. BNI harus menyongsong era baru ini dengan paradigma yang baru pula. Dengan paradigma baru, BNI bukan saja bisa tetap eksis, tapi benar-benar bisa melompat lebih tinggi. Beranikah BNI melawan kutukan PLTU Batu Bara?



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.