Peran Mahasiswa dalam Menyongsong SDGs Guna Menyejajarkan Indonesia dengan Negara-negara Maju - Analisis - www.indonesiana.id
x

kesejahteraan

Muhammad Zhari Arrafi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 5 Oktober 2021

Rabu, 6 Oktober 2021 16:23 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Peran Mahasiswa dalam Menyongsong SDGs Guna Menyejajarkan Indonesia dengan Negara-negara Maju

    “No one left behind” atau “tidak ada satupun yang tertinggal” dalam bahasa Indonesia, begitulah bunyi prinsip Sustainable Development Goals (SDGs), Siapa yang tidak boleh tertinggal? Tertinggal dalam hal apa?

    Dibaca : 386 kali

    No one left behind” atau “tidak ada satupun yang tertinggal” dalam bahasa Indonesia, begitulah bunyi prinsip Sustainable Development Goals (SDGs), agenda pembangunan global yang diharapkan dapat terwujud pada 2030. Siapa yang tidak boleh tertinggal? Tentunya seluruh manusia di dunia ini apa pun latar belakang mereka. Tertinggal dalam hal apa? Yang dimaksud adalah tertinggal dalam bidang ekonomi, sosial, lingkungan, serta hukum dan tata kelola yang sangat memengaruhi kesejahteraan manusia di muka bumi ini. Seluruh manusia berhak untuk mendapatkan kualitas hidup yang layak dan berhak untuk menjalani hidup dengan keseteraan. Oleh karena itu, SDGs diharapkan dapat meningkatkan taraf hidup manusia secara global agar tidak ada lagi masalah-masalah seperti kemiskinan, kelaparan, pengangguran, ketimpangan, dan masalah lainnya.

    Sebelum menggali SDGs lebih lanjut dan peran mahasiswa dalam menyongsong SDGs, kita harus berangkat dari definisi SDGs itu sendiri. SDGs adalah sebuah norma pembangunan global yang disepakati oleh 193 negara anggota PBB pada Sustainable Development Summit pada 25-27 September 2015 di markas PBB, New York. Tujuan penyusunan SDGs ini adalah untuk menghentaskan kemiskinan di seluruh dunia dan untuk menyejahterakan seluruh masyarakat global. SDGs merupakan lanjutan dari MDGs, yang merupakan agenda pembangungan global tahun 2000-2015. SDGs mempunyai 17 tujuan dan 169 capaian, angka yang cukup banyak jika melihat pendahulunya atau MDGs yang hanya mempunyai 8 tujuan dan 50 capaian. Tujuan-tujuan SDGs tersebut mencakup:

    1. Mengakhiri kemiskinan
    2. Mengakhiri kelaparan
    3. Menciptakan kehidupan yang sehat dan mendukung kesejahteraan
    4. Membangun pendidikan yang inklusif dan bermutu
    5. Mencapai kesetaraan gender
    6. Memastikan ketersediaan air bersih dan sanitasi.
    7. Memastikan akses terhadap energi yang terjangkau
    8. Mendukung pertumbuhan ekonomi dan pekerjaan yang layak bagi semua.
    9. Membangun infrastruktur yang mendukung industrialisasi dan inovasi.
    10. Mengurangi ketimpangan.
    11. Membangun kota dan pemukiman yang berkelanjutan.
    12. Memastikan pola konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.
    13. Mengambil aksi segera untuk menangani perubahan iklim.
    14. Mengkonservasi dan memanfaatkan secara berkelanjutan ekosistem laut.
    15. Menjaga dan melestarikan ekosistem daratan.
    16. Mendukung masyarakat yang damai, akses keadilan, dan membangun kelembagaan yang kuat.
    17. Menguatkan kemitraan global

    Semua tujuan dan capaian dari SDGs ini diharapkan dapat tercapai pada tahun 2030 mendatang.

    SDGs sebagai norma pembangunan baru memiliki perbedaan dari pendahulunya atau MDGs, diantaranya adalah:

    1. SDGs menggunakan pendekatan stakeholder-centered berbeda dengan MDGs yang menggunakan pendekatan top-down. Ini artinya dalam SDGs, seluruh pihak yang terlibat dengan pembangunan tersebut dilibatkan bukan semata-mata diberikan arahan dari atas.
    2. Keterlibatan masyarakat sipil menjadi kunci pencapaian SDGs.
    3. SDGs mendorong kerja sama antara negara kaya dengan negara miskin atau negara utara dengan selatan.
    4. SDGs menjunjung kemitraan dan kolaborasi.
    5. SDGs melakukan revolusi pendanaan.
    6. Penggunaan data untuk akuntabilitas pelaksanaan pembangunan.

    Kedudukan Indonesia di Antara Negara Maju

    Kita tahu bahwa Indonesia merupakan salah satu dari banyaknya negara berkembang di dunia. Tingkat pertumbuhan penduduk yang tinggi, tingkat pengangguran yang tinggi, tingginya angka kemiskinan, tidak meratanya pendidikan yang berkualitas, pembangunan infrastruktur yang belum merata, dan masih banyak indikator lainnya yang menunjukkan mengapa Indonesia belum dapat mengenakan status sebagai negara maju.

    Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index/HDI) atau disingkat IPM adalah suatu indeks yang digunakan United Nations Development Programme (UNDP) untuk mengklasifikasikan sebuah negara yang terbagi menjadi negara maju, negara berkembang, atau negara terbelakang. IPM menggunakan tiga dimensi utama, yaitu kesehatan, pendidikan, dan standar hidup layak. Dimensi kesehatan diukur dengan angka harapan hidup, dimensi pendidikan diukur dengan angka harapan sekolah dan angka rata-rata lama sekolah, dan dimensi standar hidup layak dihitung dari produk nasional bruto per kapita.

    Menurut Human Development Report 2020 The Next Frontier: Human Development and the Anthropocene, data pada tahun 2019 lalu, Indonesia mendapat angka IPM sebesar 0.718, menduduki peringkat 107 dari 193 negara. Angka ini masih dibawah rata-rata dunia, yaitu 0.737. Dibandingkan dengan negara maju, dengan angka IPM rata-rata 0.898, Indonesia jelas masih tertinggal jauh.

    Selain melihat dari IPM, kita juga dapat melihat kedudukan Indonesia dari sisi PDB per kapitanya. Menurut data IMF, pada tahun 2019 Indonesia mencatat PDB per kapita sebesar US$ 4.160. Angka yang masih sangat jauh tertinggal dari negara Maju, yaitu dengan rata-rata US$ 48.250.

    Ini dapat diartikan bahwa Indonesia masih sangat jauh tertinggal dari negara-negara maju. Disinilah peran muda-mudi Indonesia, khususnya para mahasiswa untuk menyongsong SDGs guna menyejajarkan kedudukan Indonesia dengan negara-negara maju.

    SDGs di Indonesia dan Peran Mahasiswa dalam Menyongsong SDGs

    Indonesia berperan dalam awal mula lahirnya SDGs ini, Indonesia terlibat dalam salah satu inisiatif Sekjen PBB yang bernama High Level Panel of Eminent Persons on the Post 2015 Development Agenda (HLP). Indonesia menjadi salah satu co-chair bersama dengan Inggris dan Liberia. Panel ini mengadakan konsultasi bersama lebih dari 5.000 organisasi masyarakat sipil dari 121 negara dan lebih dari 250 perusahaan dari seluruh dunia. HLP ini menghasilkan lima prinsip dasar yang kemudian di adopsi di dalam SDGs, yaitu (1) tidak meninggalkan siapa pun, (2) fokus pada pembangunan berkelanjutan, (3) mengubah ekonomi untuk pekerjaan dan pertumbuhan yang inklusif, (4) menciptakan perdamaian dan kesejahteraan, keterbukaan, dan lembaga publik yang akuntabel, serta (5) menjalin kemitraan global baru.

    Di Indonesia, aturan akan SDGs sendiri tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 59 Tahun 2017 tentang Pelaksanaan Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Perpres tersebut menjadi bukti komitmen pemerintah untuk melaksanakan SDGs. Perpres tersebut menjadi sarana agar seluruh pihak dapat ikut terlibat dan berpartisipasi dalam pelaksanaan dan pencapaian SDGs.

    Sebagai mahasiswa, kita mempunyai peran dan fungsi tersendiri yang meliputi:

    1. Agen perubahan (agent of change)
    2. Penjaga nilai (guardian of values)
    3. Penerus bangsa (iron stock)
    4. Kekuatan moral (moral forces)
    5. Pengontrol sosial (social control)

    Selain itu, mahasiswa juga mengemban kewajiban dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi, yang meliputi pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan, serta pengabdian kepada masyarakat. Terdapat banyak sekali hal yang dapat kita lakukan sebagai mahasiswa dalam menyongsong SDGs, contohnya adalah mengikuti kompetisi yang bertemakan SDGs, melakukan penelitian yang dapat mempercepat perwujudan SDGs di Indonesia, berperan aktif sebagai jembatan antara pemerintah dengan rakyat kecil, menjadi relawan pendidikan demi meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, dan tentunya mengabdi kepada masyarakat untuk membantu mereka menyelesaikan masalah-masalah yang sering ditemui, serta masih banyak lagi hal yang dapat mahasiswa lakukan.

    Dapat kita lihat, bahwa peran dan fungsi serta Tri Dharma Perguruan Tinggi yang diemban mahasiswa berjalan selaras dengan SDGs dan pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Seorang mahasiswa tidak hanya harus belajar demi masa depan dirinya sendiri, tetapi juga harus mengantarkan bangsa dan negara Indonesia ini ke masa depan yang cerah. Mahasiswa juga bertanggung jawab dalam menyejahterakan dan memakmurkan rakya-rakyat Indonesia, agar pada akhirnya kita dapat sejajar dengan negara-negara maju. Intinya, seorang mahasiswa bukan hanya harus mewujudkan SDGs, melainkan juga harus menjadi pemercepat perwujudan SDGs.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.