Eksistensi Bahasa Indonesia di Era Global - Analisis - www.indonesiana.id
x

ilustr: Bridgeport Public Library

Adinda Dwi Puspita Nugrahanti

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 24 Oktober 2021

Senin, 25 Oktober 2021 12:24 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Eksistensi Bahasa Indonesia di Era Global

    Membahas mengenai eksistensi bahasa Indonesia dalam era globalisasi saat ini karena adanya pengaruh bahasa asing.

    Dibaca : 464 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Bulan Oktober dikenal sebagai Bulan Bahasa. Terjadinya peristiwa Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 menjadi tonggak untuk menjunjung bahasa persatuannya, yakni bahasa Indonesia. Akan tetapi, saat ini bahasa Indonesia mulai tergeser oleh pengaruh bahasa asing, salah satunya bahasa Inggris. Lalu, bagaimana eksistensi bahasa Indonesia pada era global saat ini?

    Sayangnya, sebagian dari kekayaan bahasa etnik Indonesia kini telah punah dan sebagian lagi terancam punah. Hilang atau punahnya bahasa memiliki makna bahwa hilang pula kebudayaan negara. Kita dapat memandang kebudayaan sebagai sudut pandang untuk melihat dunia. Saat satu bahasa etnik punah, maka hilang pula satu sudut pandang dalam memandang dunia, alam, dan seisinya. Hilangnya bahasa juga menyebabkan hilangnya pengetahuan prasejarah serta pengetahuan ekologi tradisional

    Suatu bahasa sangatlah penting untuk menjaga kultur dan juga bangsa. Tanpa bahasa, kultur akan menghilang seiring dengan perkembangan zaman. Oleh karena itu, beberapa peraturan telah dibentuk untuk melindunginya. Salah satunya UUD 1945 Pasal 32 Ayat 2 (hasil amandemen keempat), “Negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional”

    Pemerintah lantas mengeluarkan UU No. 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan. Kemudian, muncul Peraturan Pemerintah No. 57 Tahun 2014 tentang Pengembangan, Pembinaan, Perlindungan Bahasa dan Sastra, serta Peningkatan Fungsi Bahasa Indonesia. Regulasi lain adalah Peraturan Menteri Dalam Negeri No 40 Tahun 2007 tentang Pedoman bagi Kepala Daerah dalam Pelestarian dan Pengembangan Bahasa Negara dan Bahasa Daerah

    Terdapat beberapa negara yang menghadapi masalah multilingualisme dan multikulturalisme, salah satunya ada di Eropa, yaitu Perancis. Negara-negara yang terletak di benua Eropa (barat) merupakan negara industri dengan perekonomian yang kuat dan maju dalam segala bidang. Imbas dari keadaan tersebut adalah pentingnya penguasaan bahasa-bahasa asing di Eropa, karena ukuran geografis yang relatif kecil namun terdapat banyak negara

    Perdebatan yang terjadi terkait dengan bahasa dan kebudayaan tersebut terletak pada konsep “keseragaman dan keberagaman”. Jika keragaman dalam bahasa nasional tertentu lebih dominan, maka bahasa lokal atau etnik bisa menjadi punah. Akan tetapi, jika keragaman yang terlalu mendominasi, maka dapat memicu disintegrasi bangsa (Suganda, 2021:67). Maka dari itu, bahasa nasional atau bahasa Indonesia memiliki peran terhadap permasalahan keragaman bahasa ini, yakni sebagai penguat nasionalisme bangsa

    Selain bahasa etnik, tantangan lainnya adalah globalisasi. Seiring perkembangan zaman, banyak bahasa-bahasa internasional yang hadir serta memiliki kelebihan dalam memberikan akses pengetahuan, contohnya adalah bahasa Inggris. Bahasa internasional inilah yang kemudian mengikis bahasa nasional. Hal ini disebabkan penutur lebih tertarik pada penggunaan bahasa internasional

    Generasi muda saat ini pun menganggap penggunaan bahasa asing/internasional membuat mereka lebih gaul. Mirisnya, terkadang banyak orang yang meremehkan penutur yang berbahasa lokal. Beberapa orang tua milenial juga memilih untuk menyekolahkan anak mereka ke sekolah Internasional. Apakah ini salah? Tentu tidak, akan tetapi hal tersebut dapat menyebabkan anak mereka lebih mahir berbahasa internasional dibandingkan bahasa nasional maupun lokal, karena di sekolah Internasional tidak diberikan mata pelajaran bahasa Indonesia.

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: Surya Ningsi

    5 hari lalu

    Strategi PLICIK (Pembelajaran Literasi, Inspiratif, Cerdas, Inovatif dan Kreatif) berbasis Flipped Classroom untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Peserta Didik

    Dibaca : 14.080 kali

    Pembelajaran di masa pandemi covid-19 menuntut guru untuk selalu kreatif dan inovatif dalam membelajarkan peserta didik. Selain guru harus menyiapkan rancangan pembelajaran, melakukan kegiatan pembelajaran, evaluasi dan penilaian, guru juga dituntut untuk terampil menggunakan teknologi agar mampu menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Salah satu strategi yang dapat dilakukan guru untuk menjawab tantangan tersebut adalah melakukan pembelajaran yang aman, nyaman dan menyenangkan bagi peserta didik. Strategi PLICIK (Pembelajaran Literasi, Inspiratif, Cerdas, Inovatif dan Kreatif) berbasis Flipped Classroom mendukung program pemerintah untuk mewujudkan merdeka belajar. Setiap peserta didik diberikan kebebasan untuk mempelajari materi melalui literasi, didukung oleh bahan ajar yang beragam bentuknya disesuaikan dengan gaya belajar peserta didik dan diekspresikan dalam wujud produk sebagai bentuk kolaborasi, kreativitas dan inovasi peserta didik yang dapat menginspirasi banyak orang. Guru hanya memfasilitasi kebutuhan peserta didik yang beragam dengan melihat keunikan dan potensi dalam diri masing-masing peserta didik. Tidak adanya paksaan, sanksi dan reward dalam pembelajaran ini mendorong peningkatan motivasi belajar peserta didik yang berdampak pada peningkatan prestasi belajar peserta didik.