x

Iklan

Firmanda Dwi Septiawan firmandads@gmail.com

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 11 November 2021

Jumat, 12 November 2021 14:09 WIB

Peran Mahasiswa di dalam Kehidupan Bermasyarakat di Indonesia

Mahasiswa dan Masyarakat memiliki arti penting dalam berkehidupan sosial di Indonesia. Dengan sinergi keduanya diharapkan dapat saling membantu dalam membangun negara Indonesia menjadi negara yang semakin maju dan memiliki Sumber Daya Manusia yang unggul.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Mahasiswa adalah sekelompok masyarakat yang dapat dikategorikan sebagai kelompok tertentu yang dapat dikenali dengan melihat beberapa ciri, baik fisik maupun konsep ideal yang dimilikinya. Sementara, dalam konsep ideal mahasiswa, ia adalah golongan masyarakat yang biasanya dikenal sebagai golongan masyarakat yang memiliki cita-cita ke depan, menjadi penyeimbang antara pemerintah dan masyarakat, dan biasanya selalu berpihak kepada masyarakat, tidak pada kekuasaan.

Persoalan pembangunan daerah sangatlah penting guna memberikan sumbangsih terhadap kemajuan di tingkat nasional. Pembangunan daerah yang dimaksud adalah sektor pemberdayaan masyarakat. Baik pembangunan dalam bidang ekonomi, dan pendidikan. Keduanya menjadi Tolak ukur kemajuan suatu daerah. Salah satu langkah pemerintah dalam mengatasi pembangunan daerah adalah menetapkan kebijakan otonomi daerah. Bahkan sampai kepada level desa. Dengan tujuan agar daerahlah yang menjadi pendorong kemajuan bangsa. Agar daerah itu sendiri yang merancang dan menentukan nasibnya sendiri.

Otonomi daerah sebagai salah satu produk strategi pemerintah perlu disiapkan secara cermat dan profesional. Strategi pemecah kebuntuan oleh pemerintah pusat dalam hal mengentaskan kemiskinan dan pemerataan pembangunan. Mahasiswa sebagai bagian daripada masyarakat, memiliki fungsi dan peran yang sangat strategis dalam hal pemberdayaan masyarakat lokal dan pemerataan pembangunan. Yaitu tanggungjawabnya sebagai duta masyarakat untuk mentransformasikan pola pikirnya kepada daerah. Terkhusus mahasiswa yang tergabung dalam organisasi mahasiswa kedaerahan yang secara tujuannya memfasilitasi peran mereka. Melihat kondisi mahasiswa yang memiliki jargon agent sosial of change (agen sosial perubahan).

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Hakikatnya fungsi mahasiswa sebagai bagian dari anggota masyarakat, secara langsung maupun tidak langsung memiliki beban amanah dan tanggungjawab moril kepada daerahnya. Selain memiliki tanggungjawab keluarga yang diutus untuk menuntut ilmu dalam rangka meningkatkan taraf hidup keluarganya dikemudian hari, menambah wawasan dan meningkatkan pola pikir. Namun mahasiswa memiliki tanggungjawab pasca kuliahnya dalam rentang waktu cepat atau lambat untuk kembali ke daerahnya dalam rangka membangun daerah baik dari segi sosial, budaya, ekonomi bahkan dalam rangka mentransformasikan nilai-nilai yang mampu mengembangkan pola pikir masyarakat.

PERAN MAHASISWA: KILAS BALIK

Mahasiswa, merupakan bagian dari generasi muda, yang dapat dikategorikan “elit” generasi muda. Mahasiswa menjadi elit generasi muda, karena dalam sejarahnya, ia memegang peran penting dalam setiap perubahan yang diusung generasi muda, baik yang terjadi di penjuru dunia, maupun yang terjadi di Indonesia. Tidak terlalu berlebihan bila mahasiswa mendapatkan gelar sebagai agent of change, director of change, creative minority (elit minoritas), dan calon pemimpin masa depan.

Peran nyata ini dapat dilihat dari beberapa peristiwa dunia, mahasiswa menjadi ujung tombak dari perubahan negeri itu, baik secara evolusi, maupun dalam konteks radikal atau revolusioner. Peristiwa yang mengubah wajah bangsa China berawal dari desakan mahasiswa yang berujung pada peristiwa di Lapangan Tianan Men, menggugurkan ratusan mahasiswa. Hasilnya yang kita lihat saat ini, adalah kemajuan China yang sangat signifikan, dan saat ini menjadi kekuatan ekonomi baru di dunia, setelah melakukan berbagai perbaikan, baik dalam birokrasi maupun dalam bidang ekonomi.

Di Indonesia, sejarah Nasional Indonesia tidak dapat dipisahkan dari peran mahasiswa. Mahasiswa, di Indonesia, telah menjadi pelopor kebangkitan Indonesia, atau “Nasionalisme Indonesia”. Tercatat paling tidak terjadi tiga gelombang Nasionalisme yang digerakkan oleh mahasiswa, atau dalam konteks lebih luas, dilakukan oleh pemuda.

Nasionalisme Pertama, Kebangkitan Nasional 1908. Kebangkitan nasionalisme Indonesia diawali oleh Boedi Oetomo pada tahun 1908, dengan dimotori oleh mahasiswa kedokteran Stovia.

Nasionalisme Gelombang ke-2: Sumpah Pemuda 1928. Nasionalisme Gelombang ke-2 ini dimulai setelah selesainya Perang Dunia I, ketika tfilsafat nasionalisme mulai merambat ke Negara-negara jajahan melalui para mahasiswa Negara jajahan yang belajar ke negeri penjajah. Filsafat nasionalisme banyak mempengaruhi kaum terpelajar Indonesia, antaranya Soepomo. Ketika ia merumuskan konsep Negara integralistik, Soepomo banyak menyerap pikiran Hegel. Soepomo bahkan secara terang-terangan mengutip beberapa pemikiran Hegel tentang prinsip persatuan antara pimpinan dengan rakyat dan persatuan dalam Negara secara keseluruhan. Pengaruh filsafat nasionalisme ini juga dapat terlihat dari banyaknya lagu-lagu yang diciptakan dengan semangat nasionalisme, antaranya lagu Indonesia Raya, Dari Sabang Sampai Marauke dan Padamu Negeri.

Nasionalisme Gelombang ke-3: Kemerdekaan 1945. Nasionalisme Gelombang ke-3 berlangsung dalam jarak yang lebih cepat, tujuh belas tahun, dari Nasionalisme Gelombang ke-2 tahun 1928. Peristiwa Nasionalisme Gelombang ke-3 ini, terlihat peran nyata mahasiswa yang menyandera Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok, sebagai bentuk pemaksaan kepada kedua tokoh penting ini agar secepatnya memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Peristiwa ini kurang dari dua puluh tahun sejak Soempah Pemoeda dikumandangkan pada 1928.

POSISI SENTRAL MAHASISWA DALAM MENINGKATKAN KUALITAS MASYARAKAT

Posisi sentral mahasiswa dalam meningkatkan kulitas sumber daya manusia, dapat dilihat dalam beberapa kategori utama:

Pertama, posisi mahasiswa sebagai trend setter. Rata-rata mahasiswa, merupakan trend setter bagi kalangan pemuda di lingkungannya, terutama bila mahasiswa tersebut berasal dari daerah tertentu. Banyak informasi, pengetahuan dan pengalaman baru, terutama bagi mereka yang keluar menempuh studi di luar daerahnya, yang dapat diinformasikan kepada masyarakat, atau kalangan pemuda lainnya. Bukan hanya informasi baru yang mereka bawa ke daerah masing-masing, tetapi “gaya” baru: rambut baru, model pakaian dan juga yang paling penting, ilmu pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan yang meraka timba dari universitas dan kota yang mereka diami untuk beberapa saat, yang ditransformasikan kepada masyarakatnya. Karena menjadi trend setter di daerahnya masing-masing, maka kehadiran mereka akan menjadi pusat perhatian, baik teman sebaya mereka, maupun masyarakat di wilayahnya sendiri.

Kedua, posisi mahasiswa sebagai agent of change. Secara umum, sudah menjadi kesepakatan, bahwa mahasiswa merupakan agent of change atau orang yang menjadi pelopor perubahan. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, dalam setiap gelombang Nasionalisme di Indonesia, mahasiswa selalu menjadi pelopor utama dari perubahan tersebut. Jika dalam skala nasional mahasiswa sangat berperan dalam perubahan tersebut, maka secara perorangan maupun kelompok, mahasiswa diharapkan menjadi agent of change dalam masyarakatnya sendiri. Secara personal, mahasiswa dapat secara aktif menelaah, memahami kondisi masyarakat, dan memberikan saran-saran perubahan, atau secara bersama dengan kelompok pemuda dan aparat desa, merumuskan masalah masyarakat, dan memberikan jalan keluarnya.

Ketiga, peran mahasiswa sebagai gate keepers bagi kelompoknya. Setiap mahasiswa yang berasal dari daerah (khususnya yang berasal dari pulau-pulau dan daerah terpencil), berpotensi untuk menjadi gate keepers atau penjaga gerbang bagi masyarakatnya. Untuk menjadi gate keepers, biasanya seseorang memiliki lebih banyak informasi dibanding dengan masyarakat di daerah tersebut.

Peran sebagai gate keepers, dapat digunakan mahasiswa yang bersangkutan untuk dapat memasukkan ide-ide baru yang dianggap menguntungkan bila diterapkan dalam masyarakatnya. Ide-ide tersebut berasal dari pengalamannya selama menjelajah negeri yang tidak pernah dilihat oleh masyarakat di daerahnya, ilmu pengetahuan yang ditimbanya selama belajar di Perguruan Tinggi, serta keterampilan yang dimilikinya. Seorang gate keepers pada dasarnya adalah orang yang dianggap memiliki ilmu pengetahuan dan informasi yang “lebih” dibandingkan dengan rata-rata masyarakat lainnya.

Diharapkan, baik sebagai individu maupun kelompok, mahasiswa yang menjadi harapan keluarga, harapan daerahnya, dapat memenuhi harapan keluarga dan masyarakatnya, dan dapat menempatkan diri sebagai gate keepers. Seseorang yang mampu menyaring, meneruskan dan mentransformasikan informasi yang dibutuhkan masyarakatnya.

Mahasiswa merupakan elemen penting dalam masyarakat. Kehadirannya sebagai agent of change telah teruji dalam perjalanan sejarah. Namun, yang pasti, mahasiswa adalah agent of change, atau gate keepers bagi masyarakat dari mana ia berasal. Untuk disadari, bahwa masa depan bangsa ini, kebanggaan bangsa ini, maju mundurnya bangsa ini, ada di tangan mahasiswa.

 

 

 

 

Ikuti tulisan menarik Firmanda Dwi Septiawan firmandads@gmail.com lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

3 hari lalu

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

3 hari lalu