Bermain Gembira di Alam Tebuka Kampung Lali Gadget - Humaniora - www.indonesiana.id
x

sangpemikir

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 6 Oktober 2021

Selasa, 23 November 2021 06:01 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Bermain Gembira di Alam Tebuka Kampung Lali Gadget

    Tingginya konsumsi waktu untuk gadget di kalangan anak-anak juga melanda para bocah di kota kecil dan pedesaan. Situasi ini mengundang keprihatinan Ahmad Irfandi dan Nicho Priambodo, dua pemuda dari Sidoarjo. Mereka pun bertekad mengajak anak-anak berkegiatan di luar rumah dengan menggulirkan gerakan Kampung Lali Gadget, di Dusun Bendet. Maka diajak bermain lompat tali, egrang, ketapel, congklak, kasti, gerobak sodor, cublek-cublek suweng, dan sejenisnya. Permainan juga terbuka untuk warga di luar dusun ini. Meriah.

    Dibaca : 202 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Setidaknya dalam satu dekade belakangan, anak-anak tidak bisa jauh-jauh dari gadget HP. Anak-anak lebih suka bermain game online atau konsol, browsing media sosial, atau menonton video dari kanal Youtube sambil tidur-tiduran. Mereka rela menghabiskan waktu berjam-jam di depan screen.

    Teknologi membawa berkah sekaligus dampak buruk. Perkembangan kecanggihan gadget meningkat pesat, dan seiring dengan itu, meningkat juga jumlah pengguna gadget usia dini. Menurut penelitian dari Common Sense Media, sebuah NGO dari Los Angeles, penggunaan gadget pada anak-anak telah meningkat dari 38% persen pada tahun 2011 menjadi 72% di tahun 2013 di Amerika. Saat ini, sudah mendekati 100 persen, dengan durasi pemakaian yang semakin panjang.

    Menurut penelitian Henry J. Kaiser Foundation, NGO dari San Fransisco, Amerika Serikat, anak-anak kini bisa menghabiskan waktu 5 sampai 7 jam di depan gadgetnya. Bahkan, banyak di antara mereka yang dibelikan gadget oleh orangtuanya sebelum mereka bisa berjalan. Mereka lebih dulu mengerti cara mengoperasikan gadget sebelum belajar keterampilan sehari-hari seperti mengikat tali sepatu.

    Penggunaan gadget berlebihan jelas membawa dampak buruk. Dari segi kecakapan, penggunaan gadget yang tak terkontrol bisa mengakibatkan gangguan konsentrasi, keterlambatan kemampuan kognitif, dan mendorong sikap impulsif. Dari segi kesehatan, kurangnya kegiatan luar ruangan bisa mengakibatkan minimnya asupan sinar matahari yang mengakibatkan defisiensi vitamin D.

    Kurang kegiatan fisik akibat keranjingan main game di gadget juga dapat mengakibatkan gangguan sistem imun, meningkatkan resiko obesitas, gangguan tidur, serta  ancaman kerusakan penglihatan. Dari segi keterampilan sosial, anak-anak yang terlalu  sering main gadget cenderung kurang pandai bersosialisasi di dunia nyata, sehingga kemampuan mereka berkomunikasi dan menjalin hubungan antarpersonal menjadi terhambat.

    Para orang tua dan komunitas lingkungan perlu waspada dan bisa mengambil langkah pencegahan agar anak-anak mereka bisa melek teknologi, tapi tak menjadi korban gadget. Para orang tua perlu membatasi durasi anak-anak mereka dalam penggunaan gadget, terutama yang di luar keperluan sekolah. Di banyak negara, gerakan sosial memangkas waktu penggunaan gadget terus dilakukan. Jatahnya satu jam per hari. Bahkan, di Tiongkok secara resmi pemerintah membatasi penggunaan gadget untuk segala macam game dan hiburan dibatasi satu jam sehari. Tidak lebih.

     

    Gerakan Lali Gadget

    Tingginya konsumsi waktu untuk gadget di kalangan anak-anak itu tidak hanya terjadi di perkotaan. Gejala serupa juga melanda anak-anak di kota kecil dan wilayah pedesaan. Situasi ini mengundang keprihatinan Ahmad Irfandi dan Nicho Priambodo, dua pemuda dari Kecamatan Wonoayu, Sidoarjo, Jawa Timur. Mereka bertekad mengajak anak-anak punya kegiatan di luar rumah dan mengurangi pemakaian gadgetnya.

    ‘’Kami prihatin sering melihat anak-anak nongkrong berjam-jam dekat warung kopi numpang akses wifi untuk memainkan gawainya,’’ ujar Ahmad Irfandi, pemuda 28 tahun, yang magister bahasa dari Universitas Negeri Surabaya itu. Yang membuatnya lebih masygul, para orang tua tak mencemaskan situasi itu. Mereka menganggap sepele anak-anaknya keranjingan main game online.

    Ahmad dan Nicho pun menggagas kegiatan alternatif yang bersifat permainan dan outdoor. Mereka berniat menjadi pendamping dan fasilitator bagi anak-anak untuk mengenal dan menikmati sensasi dolanan, istilah Jawa  yang merujuk pada permainan-permainan kolektif secara outdoor.  Jika sekali dua mereka memainkan  aksi dolanan itu, dan telah saling mengenal satu sama lain, mereka dapat melakukannya bersama-sama di tempat masing-masing, seraya mengurangi pemakaian gadget.

    Namun, gagasan itu perlu dukungan sarana, prasarana, dan terutama partisipasi sosial warga. Dusun Bendet yang berada di wilayah Desa Pagergumbuk direncanakan sebagai ajang bagi anak-anak, yang akan datang dari berbagai tempat, untuk belajar memainkan berbagai game outdoor tradisional, dan warga Dusun Bendet menjadi tuan rumahnya.

    Achmat Irfandi dan teman-teman pun menggalang dukungan terutama dari warga, Ketua RT, kepala dusun, dan Kepala Desa Pagergumbuk, Wonoayu Sidoarjo. Berhasil. Perangkat desa, dusun, dan para tokoh desa mendukung gagasan itu. Bahkan, kegiatan ini boleh memanfaatkan tanah milik desa yang berukuran 45 x 50 meter persegi.

    Tanpa membuang waktu, gerakan Kampung Lali (dalam bahasa Jawa artinya lupa) Gadget digulirkan. Sebagai wadahnya dibentuk Yayasan Kampung Lali Gadget pada tahun 2018. Ahmad Irfandi menjadi ketua yayasan. Sebagai langkah permulaan, berbagai paket permainan diperkenalkan kepada  anak-anak Dusun Bendet dulu yang nantinya akan menjadi mitra bermain bagi anak-anak luar yang ingin belajar menikmati permainan luar rumah di dusun mereka. Warga dusun  diberdayakan membuat alat-alat permainan yang bisa dijual di arena.

    Yayasan Kampung Lali Gadget yang berpijak di Dusun Bendet, Kecamatan Wonoayu, Sidoarjo. Untuk melaksanakan kegiatan itu, Yayasan Lali Gadget bekerja sama dengan  Komunitas Wonoayu Kreatif. Konsep dolanan yang outdoor, melakukan aktivitas fisik dan dilakukan secara berkelompok, sangat dikedepankan.

    Kampung Lali Gadget mulai mengadakan berbagai kegiatan anak-anak. Sore hari, para relawan turun mengajak anak-anak setempat belajar menikmati permainan tradisional seperti lompat tali, egrang, ketapel, congklak, main kasti, gerobak sodor, cublek-cublek suweng, dan sejenisnya. Setelah semua siap, arena permainan itu mulai membuka diri untuk warga dari luar dusun. Semuanya gratis.

    Tidak mudah mengajak anak-anak ke arena bermain itu. Ahmad Irfandi dan teman-temannya harus mendatangi rumah warga, pengurus RT/RW, dan tokoh masyarakat, untuk memperkenalkan arena bermain anak-anak itu. Program. Mereka menyambangi sejumlah  taman kanak-kanak (TK) untuk mensosialisasikan acaranya.

    Setelah semuanya siap, acara perdana pun digelar. Ada 80 anak hadir, di luar anak-anak dari Dusun Bendet yang bertindak selaku tuan rumah. Yayasan Kampung Lali Gadget menyuguhkan bubur khas  tradisional Jawa Timuran  untuk mengingatkan kembali pada tradisi yang ada di masyarakat. Acara itu berjalan lancar dan mendapat respon antusias masyarakat.

    Ahmad Irfan dan kawan-kawan makin bersemangat untuk membuat acara yang lebih berkelanjutan. Setidaknya seminggu sekali, setiap hari Minggu program permainan luar ruangan itu digelar. Kadang berlangsung Sabtu dan Minggu. Pada akhir 2018, peserta yang ikut kegiatan ini mencapai 470 anak. Sebagian mereka bahkan datang dari Kota Surabaya.

    Acara yang digelas makin bervariasi.  Pada hari tertentu digelar pula kegiatan di arena pojok literasi, yakni pendopo balai desa. Di situ  anak-anak bisa membaca buku, merangkai puzzle Pancasila, serta diajak mengenal keragaman budaya Nusantara. Sekali waktu, ada juga sarana unjuk kreativitas yang menampilkan bakat dari dalang cilik Ki Erwan Putra Herdiyanto.

    Di depan anak-anak, dalang cilik itu mendongeng, menirukan berbagai suara, menyanyi, memainkan wayang, atau menabuh gamelan. Pada kesempatan lain, ada talent yang lain membuat performance. ‘’Bukan panggung hiburan, arena ini bertujuan mendorong kreativitas anak-anak, kreativitas offline, sesuai dengan kemampuan masing-masing,’’ kata Ahmad Irfandi dalam sebuah wawancara.

    Di arena permainan dan tempat membaca itu anak-anak bisa bertemu dengan teman sebaya lantas bermain bersama. Pada waktu yang lain, anak-anak diajak bermain di alam bebas di pinggiran dusun, diajari menangkap ikan di kolam berlumpur, belajar memproduksi batu bata atau touring meyusuri pematang sawah. ‘’Cipratan air dan lumpur ini berguna untuk menumbuhkan keberanian pada anak-anak,’’ kata Ahmad Irfan yang belajar psikologi pendidikan ketika kuliah di Unes Surabaya itu.

     

    Arena Parenting

    Dalam setiap kegiatan, sebagian besar anak-anak itu datang dengan didampingi orang tua mereka. Namun, mereka diminta menjauh dari lokasi dolanan. Para orang tua diminta memberi keleluasan bagi anak-anak mereka bermain sebebasnya. Memanfaatkan kehadiran orang tua itu, Yayasan Lali Gadget menggelar acara diskusi gratis tentang parenting. Tempatnya di Balai Desa Pagergumbuk, yang hanya sepelemparan batu dari lokasi dolanan.

    Diskusi parenting ini bertujuan memberikan perpektif yang lebih luas dan update, bagi para orang tua, terkait pola asuh anak sesuai zamannya. Diskusi digelar dua bulan sekali. Narasumber datang dari Komunitas Cangkrukan Surabaya,  NGO yang menjadi mitra Yayasan Lali Gadget.

    Pandemi Covid-19 sempat membuat aktivitas Lali Gadget itu menyurut. Namun, seiring meredanya pandemi, aktivitas dolanan di Dusun Bendet Sidoarjo itu menggeliat kembali. Sambutan dari warga masyarakat pun tumbuh kembali. Sejumlah orang tua dari Gresik, Surabaya, Malang, pun mengajak anak-anak mereka bermain di Dusun Bendet.

    Ahmad Irfandi dan teman-teman pun menyambut mereka dengan tangan terbuka. Tapi ada syarat tambahan bagi peserta dolanan dan orang tua mereka. Semua harus mengikuti protokol kesehatan : menjaga jarak, memakai masker, dan mencuci tangan.

    Untuk jangka panjang, Irfan, Nicho dan kawan-kawan berniat menjadikan Kampung Lali Gadget itu sebagai wahana edukasi dan wisata yang bisa membuat anak melupakan gadgetnya dan beralih ke kegiatan kreatif. Nicho mulai membuat yayasan bernama Pagar Edukasi Nusantara (Pena) sehingga segala kegiatannya bisa lebih terorganisir. Ke depan pihaknya juga akan membentuk culture hub (terminal budaya) di Kampung Lali Gadget. diharapkan di sana akan banyak komunitas budaya yang saling bertemu dan berkolaborasi.

    Atas pencapaian itu, Ahmad Irfandi mewakili Kampung Lali Gadget menerima sejumlah apreasiasi dan penghargaan. Salah satunya ialah penghargaan SATU Awards 2021 Astra di bidang pendidikan. Penghargaan itu diberikannya 28 Oktober 2021 lalu bersamaan dengan Hari Sumpah Pemuda.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.