Hilang - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Alvito Faza

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 11 November 2021

Kamis, 25 November 2021 11:54 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Hilang

    Semua berjalan sebagaimana mestinya. Tapi meski ia memelukmu, ia tidak pernah melihat rasa yang kau berikan.

    Dibaca : 92 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

         “Kita bisa perbaikinya bersama.”

         Ia merunduk. Tangannya yang halus di genggamanku lemas seketika. Ia orang yang kuat dan tegar, karena itulah sekarang aku tidak akan diam dan melihat semuanya memudar. Tapi ini kali pertama aku menyaksikan setitik air jatuh dari matanya. Kali pertama aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.

         Kalau menangis adalah lawan dari kuat dan tegar, bisakah aku menarik kata-kataku? Aku tidak menyesal telah berbicara seperti itu. Tapi semuanya berjalan dengan buruk dan sekarang terasa begitu membingungkan.

         Keadaan ini terlalu rumit untuk memutuskan siapa yang bersalah. Terlampau berat untuk memutuskan siapa yang harus disalahkan.

         “Kita bisa melakukannya. Meski kita berdua tahu semua tidak akan mudah.”

         Semakin ia tidak bisa menahan tangisannya. Ia, memelukku. Angin dingin berhembus pelan membawa serta kesedihan. Cahaya bulan turut serta menghangatkan kami berdua dengan cara yang tak bisa kupahami.

         Semua tak akan mudah, sama seperti sekarang. Semua akan tersandung lalu terhambat oleh luka. Namun luka itu kita yang memaknainya, entah akan membuat kita pincang atau bahkan menahan kita untuk sampai ke tujuan.

         “Aku tidak paham.” Ucapnya terbata. Tersendat oleh penyesalannya, terlarut dalam kesedihannya.

         Begitupun denganku. Bagaimana engkau mengetahui kalau aku paham. Dari setiap hadiah kecil yang kuberikankah? Dari ucapan selamat malam di setiap malammu kah? Dari caraku menatap mata indah itu sembari berdoa agar aku bisa menatapnya selamanya kah? Aku juga tidak paham. Tapi kita memiliki lebih banyak waktu untuk memahaminya bersama. Kau dan aku. Kita bersama.

         “Sudahlah. Semua akan baik-baik saja.”

         Wajahmu meneduhkan, memberikanku keberanian untuk memberikan hal yang sama. Kali ini aku yang akan meneduhkanmu dari segala ragumu. Tapi aku tidak tahu apa yang bisa kuberikan untuk menenangkanmu, aku hanya memberikan apa yang ada di dalam hatiku.

         Aku memeluknya lebih hangat. Mencoba menyalurkan kehangatan ini kepadanya. Sedekat ini, aku bisa merasakan betapa besar rasa bersalah yang ia simpan. Aku tahu banyak sekali hal yang ingin dia utarakan, begitu juga denganku, tapi semuanya tersendat tanpa pernah tersalurkan.

         “Maafkan aku.”

         “Aku tidak pernah menyalahkanmu.”

         “Bagaimana bisa? Setelah semua keraguanku kepadamu.”

         “Tak apa, tenangkan dirimu dulu.”

         Tangisnya semakin kencang. Tubuhnya melemas.

         “Lihatlah betapa besar keraguanku. Padahal aku bisa melihat betapa besar yakinmu.”

         “Lalu? Semuanya akan baik-baik saja. Kita akan memperbaiki semuanya bersama.”

         Ia, hangat dalam pelukku. Tak terdengar pula isak tangisnya, ia tersenyum sama hangatnya dengan pelukan. Tidak perlu meminta maaf, semua ini memang berjalan sebagaimana mestinya. Ini hanya ujian kecil dalam kisah kita kemudian. Aku ingin kau tetap disini bersamaku, tetap menjadi seseorang yang kukenal, dan menjemput takdir kita bersama.

         Angin berhembus pelan, lampu jalanan bersinar seakan menantang bulan siapa yang lebih terang, satu dua kendaraan melintas tak menghiraukan dua insan yang bergelut dengan batinnya dan kekasihnya, sementara kota dan isinya sedang tertidur pulas.

         Seandainya semua berjalan selaras dengan apa yang ku inginkan.

         “Kita bisa perbaikinya bersama.”

         “Maaf. Aku tidak bisa.”

         Kau mengiris hatiku dengan kata-kata itu, tapi aku tidak melihat ia berdarah.

         Malam nampaknya enggan berbicara. Udara malam yang sejuk berhembus disela-sela kecewaku. Bahkan tanpa melihat ke langit, aku tahu bulan tidak seterang saat malam-malam yang aku habiskan denganmu. Semuanya menjadi begitu rumit tapi aku bisa melihat bagaimana aku menyelesaikan semua.

         “Bagaimana kau tidak bisa? Kemarin kau bisa meyakinkanku. Kini seharusnya kau masih bisa.”

         “Tapi hatiku berkata tidak.”

         “Hatiku berkata bisa.”

         “Lihat! Sekarang kita saling bertentangan! Bagaimana bisa kita memperbaikinya?!”

         “Pasti bisa. Tenangkan dirimu, nanti kita cari caranya bersama.”

         “Tidak!”

         Malam semakin resah, ia tak dapat menghentikan dua insan dalam naungannya agar tidak saling menyakiti. Udara sejuk berubah menjadi dingin yang menusuk. Aku bisa melihat bulan perlahan padam meskipun aku menatap matanya yang teduh. Semuanya menjadi semakin rumit tapi aku masih bisa berlari.

         “Ayolah! Ini bukan akhir. Ini hanya ujian kecil dalam hubungan kita. Percayalah kepadaku!”

         “Aku yakin aku percaya kepadamu. Tapi aku tidak yakin aku percaya kepada diriku sendiri.”

         Malam semakin hening tidak dapat menyela mereka. Udara dingin menusuk tubuhku lebih dalam. Cahaya bulan kalah dengan lampu jalanan. Jalannya buntu di ujung. Tapi aku masih bisa berjalan.

         “Aku tidak paham! Apa yang salah denganku?”

         “Entahlah. Kita tidak perlu mencari siapa yang salah sekarang. Semuanya memang berjalan seperti ini.”

         Malam tidak bisa berkata apa-apa. Udara dingin perlahan membeku. Cahaya bulan tinggal setitik. Tidak ada jalan. Tapi aku masih bisa melangkah.

         “Inilah akhirnya. Mungkin takdir tidak mengizinkan kita untuk bersama.”

         “Mungkin, masih mungkin. Kita masih belum melihat akhirnya.”

         “Inilah akhirnya!”

         “Tidak, bukan. Alih-alih percaya dengan takdir, kau hanya menyerah. Takdir kita, kita yang genggam. Kenapa harus membebankan semuanya kepada takdir?”

         “Kita saling menemukan adalah takdir, kita saling menggenggam adalah takdir, sekarang kita terpisah adalah takdir. Bahkan mengenai takdir kita tidak sejalan,”

         “Itu bukan takdir! Kau bukannya percaya kepada takdir, kau menyalahkannya!”

         Malam bisu. Udara beku. Bulan padam. Tidak ada jalan. Aku tidak bisa melangkah.

         “Kau tidak benar-benar mencintaiku kan?”

         “Aku mencintaimu, dulu. Sekarang aku tidak ingin menyakitimu dengan memberikan rasa palsu.”

         Aku memang tidak menangis, tapi lihat, sekarang hatiku berdarah. Kau mungkin memiliki berbagai pembenaran yang tidak bisa ku sangkal. Masalah rasa memang tidak bisa dipaksakan, namun lihat sekarang betapa hatiku bisa berdarah-darah. Dan apa yang engkau akan katakan? Bahwa hatiku ini ditakdirkan untuk berdarah? Bahwa kau ditakdirkan untuk menumpahkan darah dari hatiku? Bahwa kau juga ditakdirkan kalau suatu hari hatimu akan berdarah oleh lelaki lain?

         Suatu saat ragamu akan hadir dalam mimpiku dan aku akan berputar-putar dalam lingkaran yang sama mencoba menggenggammu. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Haruskah aku mencoba membencimu? Memikirkannya saja membuat hatiku semakin berdarah.

         Aku ingin memeluknya. Sejujurnya aku ingin menangis, tapi aku tidak ingin repot-repot menyeka air mataku dihadapannya. Tidak perlu meminta maaf, semua ini memang berjalan sebagaimana mestinya. Ini hanya ujian kecil dalam kisah kita kemudian. Aku ingin kau tetap disini bersamaku, persetan kau berubah menjadi seseorang yang tak kukenal, aku akan dengan senang hati mencoba mengenalnya kembali. Aku hanya ingin menjemput takdir kita bersama.

         Angin berhembus pelan, lampu jalanan bersinar seakan menantang bulan siapa yang lebih terang, satu dua kendaraan melintas tak menghiraukan dua insan yang bergelut dengan batinnya dan kekasihnya, sementara kota serta isinya sedang tertidur pulas.

         Aku ingin percaya bahwa ini semua tidak terjadi.

         “Ayo kita perbaiki bersama.”

         Apanya? Semua bukan apa-apa. Bahkan engkau tidak berani menatap matanya ketika saling berhadapan. Katakan kepadanya engkau mengaguminya dan terjaga tujuh hari tujuh malam menantikan apa yang akan ia katakan. Rasa berdebar di dada dan kupu-kupu yang keluar dari mulutmu itu hanya kau yang merasakan. Sementara ia tidak perlu repot-repot melihat rasamu barang sekilas. Semuanya sudah berakhir bahkan sebelum kau membuka lembarannya.

         Tapi semuanya sudah berjalan.

         Semua ada apa-apanya. Semua berjalan sebagaimana mestinya. Tapi meski ia memelukmu, ia tidak pernah melihat rasa yang kau berikan.

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.