x

GLADI ANBK SD 2021

Iklan

julia roli sennang banurea

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Desember 2021

Sabtu, 4 Desember 2021 19:58 WIB

Asesmen Nasional dalam Perspektif Merdeka Belajar

oleh: Julia Roli Sennang Banurea, S.Pd, Gr. SD N 06 Ransi Dakan, Kec. Sungai Tebelian, Kab. Sintang, Prov. Kalbar

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

                       “ASESMEN NASIONAL DALAM PERSPEKTIF MERDEKA BELAJAR”

                                            oleh: Julia Roli Sennang Banurea, S.Pd, Gr.

                              SD N 06 Ransi Dakan, Kec. Sungai Tebelian, Kab. Sintang

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

                                    Foto 1. Gladi Bersih ANBK SD 2021 di Kec. Sungai Tebelian

        Tahun 2020 adalah tahun terakhir pelaksanaan UN (Ujian Nasional). Tentunya hal ini melegakan dunia pendidikan. Selama bertahun-tahun UN menjadi momok yang mengekang hakikat pendidikan. Karena UN dianggap sebagai penentu kelulusan peserta didik.

         UN dijadikan sebagai representasi dari proses dan prestasi hasil belajar peserta didik. Hal ini sangat disayangkan, karena sisi lain dari esensi pendidikan seperti terabaikan. Peserta didik yang tidak lulus ditiap jenjang harus mengulang dengan kebijakan paket. Belum lagi merasakan terganggunya psikologis di sekolah dan lingkungan saat dinyatakan tidak lulus.

         Hal ini bisa dianalogikan bahwa di jenjang SD, pendidikan yang ditempuh selama 6 tahun hanya dinilai dari beberapa mata pelajaran dan dalam beberapa hari saja. Begitu juga dengan SMP dan SMA sederajat. Tiga tahun dilalui dengan proses yang panjang. Namun perjuangan selama sekolah hanya dinilai berdasarkan ranah kognitif.

            Kelemahan UN ini jelas sangat terasa karena mengesampingkan nilai dasar pendidikan yakni pembinaan karakter, tingkah laku dan nilai sikap. Sekolah juga cenderung mempersiapkan siswa untuk belajar pada mapel UN dibanding mapel non-UN.

          Sejak munculnya UN, ragam mapel seolah-olah terbentuk menjadi mapel utama dan pendamping. Bahkan sekolah dan peserta didik cenderung menganggap mapel non-UN tidak terlalu penting.

         Hal ini berimbas ke guru yang mengajar karena kurang diapresiasi atas mapel non-UN yang dibawakannya. Padahal semua mata pelajaran penting dan bermakna dalam kehidupan sehari-hari.

         Kelemahan lainya terlihat dari jenis soal evaluasi yakni pilihan ganda. Soal ini cenderung tidak membentuk siswa untuk bersikap kritis dan analitis. Peserta didik hanya disuruh memilih jawaban yang paling benar.  Critical thinking sangat rendah. Sementara tuntutan abad 21 saat ini adalah critical thinking sehingga dapat menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan.

           Ketika peserta didik tidak lulus, seolah-olah diindikasikan bahwa peserta tidak kompeten secara kognitif. Padalah jika ditilik dari segi implementasi di masyarakat, nilai karakterlah yang menjadi utama.  Bukan nilai UN mapel yang berada di ijasah. Sementara nilai karakter dalam UN tidak didominankan.

         Kelemahan lain juga muncul dalam pelaksaan UN. Yakni ketimpangan antara pendidikan yang berada di kota, desa bahkan pedalaman (3T). Ilmu yang didapatkan di ragam perbedaan infrastruktur mengakibatkan iptek yang diperoleh peserta didik juga berbeda. Sementara soal yang di UN-kan cenderung sama. Sehingga disparitas mutu pendidikan jelas terjadi.

         Hal ini sangat mendiskreditkan nilai dasar pendidikan. Aturan UN yang terkesan “menentukan lulus” telah mencerminkan ketidaksesuaian dengan prinsip sekolah sebagai taman belajar. Seperti pernyataan Ki Hadjar Dewantara bahwa sekolah adalah taman bermain yang menyenangkan.

         Seharusnya sekolah adalah tempat peserta didik merasa nyaman dalam menimba ilmu. Sekolah dijadikan sebagai wadah bersosial antar peserta didik dengan ragam sosio-kultur yang berbeda. Saling membantu dan tidak menjadi pesaing dalam mengejar ilmu.

         Salah satu kebijakan merdeka belajar yang telah dicananangkan Kemdikbudristek adalah Asesemen Nasional (AN). Asesmen Nasional (AN) merupakan evaluasi dalam memetakan mutu atau kinerja satuan pendidikan di tingkat dasar dan menengah. AN ini dilaksanakan berbasis komputer atau disebut ANBK (Asesmen Nasional Berbasis Komputer).

          Instrumen yang digunakan adalah asesmen kompetensi minimum (AKM), survey karaker dan survey lingkungan belajar.

            Asesmen kompetensi minimum (AKM) adalah penilaian kompetensi mendasar kepada peserta didik agar mampu mengembangkan kemampuan dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Kompetensi mendasar yang dinilai dalam AKM adalah literasi membaca dan numerasi (Pusmenjar, 2020)

          AKM ini tidak menggantikan peran Ujian Nasional (UN) dalam mengevaluasi prestasi atau hasil belajar pesera didik secara individual. Namun, AKM menggantikan peran Ujian Nasional (UN) dalam memetakan dan mengevaluasi mutu pendidikan di satu wilayah.

           Evaluasi klasikal yang dilaksanakan dalam AN tidak menentukan kelulusan perindividu baik peserta didik (AKM, survey karakter, dan survey lingkungan belajar), guru serta kepala satuan pendidikan ( survey lingkungan belajar).

           Simulasi ANBK jenjang dasar (SD sederajat) telah dilaksanakan di bulan Oktober 2021, diikuti dengan gladi bersih hingga bulan November dan pelaksanaan juga diadakan di bulan November 2021. Tepatnya tanggal 15-18 November untuk gelombang I dan II serta tanggal 22-25 November 2021.

        Berbagai daerah di satuan pendidikan melaksanakan AN. Termasuk Kabupaten Sintang, Provinsi Kalimantan Barat. Meski dilanda banjir, masih terdapat beberapa kecamatan yang melaksanakan ANBK. Diantaranya  Kecamatan Sungai Tebelian.

            Mayoritas sekolah SD sederajat di kecamatan Tebelian melaksanakan ANBK dengan skema daring antara menumpang dan ditumpangi.  Salah satunya adalah SD N 04 Pandan sebagai induk (ditumpangi/memiliki jaringan) dan 5 sekolah menumpang (sekolah tidak memiliki jaringan internet). Dengan pelaksanaan 3 gelombang berjumlah 119 siswa utama dan 5 cadangan.

         Peserta didik dari ragam sekolah telah dilatih berdasarkan kesepakatan saat rapat di kecamatan. Bahwa setiap guru kelas 5 mengajarkan simulasi AKM dari aplikasi offline/online, survey karakter dan lingkungan belajar.

          Sekolah berinisiatif menginstal simulasi offline karena masih terdapat sekolah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal) yang tidak memiliki jaringan internet.

         Salah satunya adalah SD N 06 Ransi Dakan, Kec. Sungai Tebelian. Berikut ini penerapan dalam pembahasan soal AKM (Literasi dan Numerasi).

 

Contoh pelaksanaan pembelajaran soal dan pembahasan AKM (Literasi) kelas 5 SD.

SD N Ransi Dakan Kec. Sungai Tebelian, Kab. Sintang, Prov. Kalimantan Barat

Meningkatkan Minat Baca

          Bersadarkan penelitain yang bertajuk World,s Most Literate Nations yang dilakukan oleh Central Connecticut State Universiy, Minat baca masyarakat Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara. Hal tersebut menandakan bahwa minat baca di Indonesia masih sangat rendah. Rendahnya minat baca tersebut dikarenakan banyak faktor. Salah satunya adalah minimnya kemauan untuk membaca.

          Masyarakat Indonesia belum terbiasa membaca. Sebagian besar masyarakat Indonesia lebih memilih bertanya dan melihat video daripada membaca ketika mencari informasi. Padahal, dengan membaca kita dapat meningkatkan kemampuan berbahasa kita, perbendaharaan kosakata, dan wawasan kebahasaan kita. Selain itu, jika kita sering  membaca, kita akan lebih mudah berkomunikasi dengan orang lain karena bahasa kita akan lebih tertata.

          Minat membaca sebenarnya dapat ditingkatkan. Salah satu caranya adalah dengan membiasakan diri untuk membaca. Oleh sebab itu, agar minat membaca masyarakat Indonesia meningkat, kebiasaan membaca harus dilakukan. Berikut beberapa tips untuk meningkatkan minat baca.

1.     Sediakan waktu khusus untuk membaca

2.     Pilihakan buku sesuai kegemaran atau topik yang sedang kamu minati

3.     Carilah atau sediakanlah tempat khusus untuk membaca

4.     Biasakah diri membaca menimal 1 lembar 1 hari

5.     Bertemanlah dengan orang yang suka membaca

6.     Cobalah menulis ulasan tentang buku yang sudah kamu baca

7.     Bertukar referensi bacaan dengan orang lain.

                                                                                     Sumber:slbnegerijepara.sch.id

                                                                                             (Buku AKM, Erlangga)

 

Tipe soal. Pilihan Ganda Kompleks (Benar Salah)

1.Berdasarkan teks berjudul “Meningkatkan Minat Baca”, jika kamu mempraktikkan tips

   meningkatkan minat baca, apa kemungkinan perubahan yang akan kamu dapatkan? Berilah

   tanda centang (√ ) pada kolom benar atau salah dari pernyataan berikut.

Pernyataan

Benar

Salah

 

Dengan mengajak teman berdiskusi hasil bacaan, saya bertambah kritis

 

 

Dengan membaca bacaan yang saya gemari, pengetahuan akan terbatas

 

 

Dengan membuat jadual khusus untuk membaca, saya akan menjadi disiplin

 

 

Berteman dengan orang yang suka membaca, membuat saya menjadi anak yang kurang pergaulan

 

 

 

 

Tipe Soal. Memasangkan

 

2. Membiasakan membaca itu mudah. Akan tetapi, semua bergantung pada diri sendiri. Jika

    kamu tidak mau membiasakan membaca, kamu tidak akan mendapatkan maafaa dari teks yang

    kamu baca. Berikut ini karakter.sifat yang diakibatkan tidak membiasakan diri membaca.  

    Cocokkanlah karakter dengan istilah yang sesuai

 

Pembahasan soal AKM (Literasi)

Tipe soal. Pilihan Ganda Kompleks (Benar Salah)

1.     Jawaban benar

Pernyataan

Benar

Salah

 

Dengan mengajak teman berdiskusi hasil bacaan, saya bertambah kritis

 

Dengan membaca bacaan yang saya gemari, pengetahuan akan terbatas

 

Dengan membuat jadual khusus untuk membaca, saya akan menjadi disiplin

 

Berteman dengan orang yang suka membaca, membuat saya menjadi anak yang kurang pergaulan

 

Pembahasan: Berdasarkan teks pernyataan yang benar adalah 1 dan 3.

Mengajak teman berdiskusi hasil maka proses perpikir kritis akan muncul. Serta membuat jadual khusus untuk membaca, sikap disiplin akan terbentuk dengan sendirinya.

 

 

 Di Rumah terdapat ayah, ibu, Adam, dan Bi Sarni. Ibu berkata kepada Erni bahwa kue bolu pertama dibagi rata untuk anak-anak. Sementara, kue bolu kedua dibagi rata untuk ayah ibu dan Bi Sarni.

 

Tipe soal. Pilihan Ganda Kompleks

  1. Berilah tanda centang (√ ) pada setiap pernyataan yang benar berdasarkan informasi yang ada pada teks tersebut.

Pernyataan

Benar

Salah

 

(1). Dari bolu kedua, setiap orang memperoleh 1/6 bagian

 

 

(2). Erni memperoleh ½ bagian dari bolu pertama

 

 

(3). Jumlah bolu yang diperoleh ayah dan ibu sebesar 2/3 bagian dari bolu 

       kedua

 

 

(4).Jika kue bolu untuk ayah, ibu dan Bi Sarni diberikan kepada Adam 

      untuk dibagikan kepada teman-temannya, besaer kue bolu Adam 

      adalah  1  bagian.

 

 

Pembahasan soal AKM (Numerasi)

Tipe soal: Pilihan ganda kompleks

Jawaban benar adalah pernyataan (2) dan (3)

Pernyataan

Benar

Salah

 

(1). Dari bolu kedua, setiap orang memperoleh 1/6 bagian

 

(2). Erni memperoleh ½ bagian dari bolu pertama

 

(3). Jumlah bolu yang diperoleh ayah dan ibu sebesar 2/3 bagian dari bolu 

       kedua

 

(4).Jika kue bolu untuk ayah, ibu dan Bi Sarni diberikan kepada Adam 

      untuk dibagikan kepada teman-temannya, besaer kue bolu Adam 

      adalah  1  bagian.

 

Pembahasan: Pernyataan 1 Salah

       Bolu kedua dibagi menjadi enam bagian sama besar dan dibagi rata kepada ibu, ayah, dan Bi Sarni. Setiapn orang memperoleh 6:3=2 potong atau 2/6=1/3 bagian kue, bukan 1/6 bagian.

Pernyataan 2 Benar

     Bolu pertama dibagi menjadi sepuluh bagian sama besar dan dibagi rata kepada Adam dan Erni. Setiap orang memperoleh 10:2=5 potong atau 5/10=1/2 bagian.

Pertanyaan 3 benar

       Bolu kedua dibagai menjadi enam bagian sama besar dibagi rata kepada ibu, ayah, dan Bi Sarni. Setiap orang memperoleh 6:3=2 potong. Ayah dan ibu total memperoleh 4 potong atau 4/6 =2/3 bagian.

Pernyataan 4 salah

        Bolu pertama dibagi menjadi sepuluh bagian sema besar dan dibagi rata kepada Adam dan Erni. Setiap orang memperoleh 10:2=5 potong atau 5/10. Karena ditambah satu bagian dari ayah, ibu dan Bi Sarni, maka besar kue bolu Adam 1  bagian, bukan 1  bagian.

        Terlihat jelas jenis penyusunan soal dalam AN menstimulus anak untuk berpikir kritis. Memberikan ragam perspektif atas sebuah penyelesaian  masalah. Sehingga tipe jenis soal AKM dalam AN telah berbasis MOTS (Middle order thinking skills) dan HOTS (higher order thinking order skills) dan cenderung ke penilaian PISA.

        Berbeda dengan penyusunan soal UN yang berisi soal HOTS sebanyak 10 % dan sisanya adalah lower order thinking order skills (LOTS). Serta jenis soal pilihan ganda yang kurang mendorong stimulus peserta didik untuk berpikir kritis dan cenderung hanya memilih.

        AKM yang berisi literasi dan numerasi dianggap mampu dalam menghadapi era yang semakin maju. Karena pemahaman akan AKM membantu peserta didik untuk mengaplikasikan ilmu yang dimiliki di sekolah untuk aplikatif dalam kehidupan. Ilmu yang diperoleh tidak hanya bersifat teoritis dan mengingat saja, namun sudah dalam ranah analisis, evaluasi dan kreasi.

         Peserta didik akan terbiasa memberikan solusi dari ragam perspektif dengan bukti dan data akurat. Kebebasan dalam belajar berkreasi sesuai kemampuan. Tidak terpaku dalam memilih satu jawaban yang telah disusun penyusun dengan jawaban yang telah ditetapkan oleh penyusun sebelumnya.

           Hal ini terbukti saat pelaksanaan ANBK SD resmi di bulan November 2021, terlihat peserta didik kelas 5 sudah mampu mengerjakan soal-soal literasi dan numerasi, survey karakter dan lingkungan sekecamatan Tebelian, Kab. Sintang. Peserta didik mulai memahami konteks dan tipe soal dengan ragam pola. Serta mulai aplikatif dalam implementasi di lingkungan sekolah dan keluarga.

Foto 2. Penerapan Prokes pada Pelaksanaan ANBK SD, Kec. Sungai Tebelian

         Jelas Asesemen Nasional (AN) memberikan ruang kepada peserta didik untuk memberikan point of view yang berbeda-beda ketika mampu melakukan sebuah pembuktian. Perspektif yang muncul akan beragam. Dalam AN peserta didik diajak untuk mampu berkreasi secara inovatif dan solutif atas sebuah fenomena dalam kehidupan.

        AN sebagai kebijakan dari merdeka belajar yang memerdekaan peserta didik dari keharusan menjawab sebuah pilihan yang ditetapkan dan penentu lulus. Namun peserta didik sekarang merasakan merdeka belajar secara esensi dan hakikat dalam belajar. Berkreasi dan bereksplorasi sesuai dengan minat dimiliki ditengah keheterogenitasan.

         Peserta didik di seluruh Indonesia, civitas sekolah dan stakeholder dalam kependidikan telah merdeka dari ketidaksesuaikan dalam hakikat pendidikan yang tercermin dari UN. Kelegaan  yang luar biasa sehingga peserta didik tidak lagi dinilai dari kognitif saja. Namun dari karakter yang sesuai dengan Pancasila dan survey lingkungan. Dimana survey lingkungan untuk melihat kondisi sarana dan prasarana pendukung di sekolah.

      Sehingga pemerintah dapat memetakan mutu dan kinerja satuan pendidikan secara akurat. Jika ditemukan kelemahan dan kekurangan dalam mutu satuan pendidikan tertentu, maka bisa dibenahi dengan akurat pula.

Terimakasih, Semoga tulisan ini bermanfaat.

Ikuti tulisan menarik julia roli sennang banurea lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler