Pesan Moral dalam Cerpen Berlindung di bawah Payung yang Robek Karya Ahmadun Yosi Herfanda - Analisis - www.indonesiana.id
x

Aisyah ami

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 5 Desember 2021

Senin, 6 Desember 2021 12:31 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Pesan Moral dalam Cerpen Berlindung di bawah Payung yang Robek Karya Ahmadun Yosi Herfanda

    Cerita dalam cerpen ini cukup menginspirasi, aktual dan menarik untuk diapresiasi. Di dalamnya kita dihadapkan dengan suatu ormas yang bersedia menggunakan kekerasan dan ancaman demi melindungi dan mempertahankan kekuasaannya. Dalam cerpen ini ada dua pihak yang bersaing agar menguasai satu daerah di dalam suatu kelurahan. Pada cerpen ini diperlihatkan bahwa semua orang mempunyai cara sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidup masing-masing.

    Dibaca : 319 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Cerita dalam cerpen ini cukup menginspirasi, aktual dan menarik untuk diapresiasi. Di dalamnya kita dihadapkan dengan suatu ormas yang bersedia menggunakan kekerasan dan ancaman demi melindungi dan mempertahankan kekuasaannya. Dalam cerpen ini ada dua pihak yang bersaing agar menguasai satu daerah di dalam suatu kelurahan. Di satu sisi ada pihak kelurahan, wakil dan warganya, kemudian di sisi lain terdapat pihak ormas. Kedua pihak terlibat dalam suatu kontestasi untuk menguasai suatu daerah yang berpusatkan di simpang tiga, tempat yang bertahun-tahun telah diduduki oleh pemilik gubuk dan warung yang liar. Tempat itu diminati karena menjadi lokasi yang strategis tempat kendaraan berlalu lalang untuk penjualan makanan dan minuman.

    Bagi ormas, tempat ini dirasa strategis karena dengan mudah dapat memungut sebuah pajak liar para pedagang pemilik warung. Ormas itu menduduki tanah kosong di perumahan yang bukan milik mereka. Sedangkan Ibu Lurah berusaha agar pasar tiban dipindahkan ke tanah kosong karena di simpang tiga sering terjadi kemacetan akibat kendaraan yang berhenti disana. Permasalahan inilah yang membuat warga kelurahan mengalami kesulitan untuk ke luar dari perumahan mereka. Maka direncanakannya pemindahan lokasi oleh pihak kelurahan yang mengakibatkan perlawanan oleh ormas dan pihak ormas bersedia memakai kekerasan serta ancaman agar tetap menguasai lokasi strategis situ.

    Diceritakan bahwa ada preman yang menghajat payung yang dipakai Ibu Lurah saat hujan, meskipun Ibu Lurah tidak terkena golok, namun golok itu menyobek payungnya. Maka dari sini terlihat makna judul cerpen ini “Berlindung di Bawah Payung yang Robek.” Ibu Lurah rawan diserang oleh preman pasar tiban. Cukup jelas bahwa kekerasan merupakan suatu cara yang berakar pada ormas itu, serta uang haram digunakan untuk mendanai kegiatan aktivsme ormas itu. Pada cerpen ini, terselubung pesan moral yang berbau protes terhadap keadaan.

    Pesan moral yang ingin disampaikan pengarang dalam cerita pendek Berlindung dibawah Payung yang Robek antara lain:

    1. Terdapat masalah sosial dalam cerpen ini yaitu kesenjangan dan faktor ekonomi. Kesenjangan terdapat di dalam cerita bahwa preman mengiming-imingi jasa keamanan padahal yang dilakukannya merupakan pemerasan dan kekerasan. Kemudian faktor ekonomi terlihat bahwa para pedagang merupakan masyarakat yang memiliki ekonomi yang rendah sehingga sulit mencari lapak untuk berdagang. Disini kita dapat belajar bahwa kejujuran dan kerja keras adalah hal yang utama dalam melakukan pekerjaan.
    2. Pada cerpen ini diperlihatkan bahwa semua orang mempunyai cara sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidup masing-masing. Seperti Ibu Lurah yang berusaha menertibkan pedagang sebagai bentuk menjalankan tugasnya sebagai pejabat, pedagang yang rela dan terpaksa berdagang di area yang memang bukan haknya, dan preman yang selalu memeras pedagang dengan imbalan jasa keamanan.
    3. Setelah membaca cerpen ini, saya mendapatkan amanat bahwa ketika kita ingin dihargai maka kita harus menghargai terlebih dahulu. Menghargai mindset seseorang atau menghargai pilihan orang itu adalah hal yang penting untuk kita menjalin hubungan yang baik dengan siapapun. Seringkali perbedaan mindset dan prinsip membuat kita menjadi saling egois, seperti memaksakan kehendak dan pada akhirnya tidak ada yang mengalah.
    4. Ketika kita berada dalam suatu argument, usahakan tidak lari dari masalah. Karena menurut saya, lari dari masalah akan memperbanyak masalah yang seharusnya lebih baik diselesaikan, komunikasikan, dan memilih jalan tengah mencoba menghargai perbedaan dan pendapat orang lain. Maka dengan cara tersebut, kemungkinan akan ditemukan solusi yang tidak memberatkan pihak manapun. Berhubungan dengan siapapun kalau kita tidak merasakan ‘saling’ tidak bisa memahami satu sama lain, itu akan sia-sia.
    5. Terkadang kita tidak perlu menunjukan power, justru itu akan membuat kita lelah. Mengalah bisa menjadi kekuatan yang tinggi karena, kita bisa menang melawan orang tersebut dan kita sudah bisa melawan diri kita sendiri untuk tidak egois.
    6. Mengalah juga menjadi poin penting yang saya dapatkan dari cerpen ini, mengalah dan meminta maaf itu lebih baik daripada perlu berbusa-busa untuk menjelaskan kepada orang yang tak mau mengerti.

    Banyak pelajaran yang dapat diterapkan dalam kehidupan saya pribadi dari salah satu cerpen karya Ahmadun Yosi Herfanda ini. Menurut saya, sebuah kekuatan bukan hal yang harus selalu dibanggakan dan perlu diperlihatkan dengan kekerasan. Kekuatan itu digunakan untuk menegakan keadilan dan keteguhan hati untuk saling menghargai. Karena, kekuatan otot hanya nafsu belaka sedangkan kekuatan hati adalah kemuliaan yang dimiliki seseorang.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.