Film Laskar Pelangi - Analisis - www.indonesiana.id
x

Rein Robert

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 November 2021

Selasa, 7 Desember 2021 08:02 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Film Laskar Pelangi

    Laskar pelangi adalah film yang diadaptasi dari novel Andrea Hirata dengan nama novel yang sama. Film ini berlokasi di Belitung, Sumatra. Diawali tokoh ikal dewasa yang pulang ke tanah kelahirannya setelah merantau. Dia lalu teringat kembali (flash back) ke masa kecilnya sewaktu masih di SD Muhammadiyah yang sederhana dengan guru-guru yang bersahaja seperti Bu Muslimah dan Pak Harfan.

    Dibaca : 1.288 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Lima tahun berlalu dan film bercerita tentang lima sekawan Laskar Pelangi . Kelimanya duduk di kelas 5 SD, melalui sudut pandang Ikal kecil. Selain Ikal, ada juga tokoh Lintang yang sangat jenius dan Mahar yang menunjukkan bakat seni luar biasa. Para tokoh lainnya adalah Akiong,Harun,Sahara,dan Kucai.

    Zulfani (Ikal kecil) dan Ferdian (Lintang) menunjukkan penampilan yang luar biasa sebagai orang baru dalam dunia ekting tanpa pengalaman. Kepolosan mereka terasa sangat alami (natural), berbeda dengan artis² cilik lain yang sering mondar-mandir di TV. Kita yang pernah menonton filmnya pasti tanpa sadar tersenyum saat menyaksikan kisah cinta Ikal dengan seorang gadis Tionghoa di sebua pasar , menunjukkan betapa naturalnya penampilan dia.

     

    Inti dari film ini, secara emosional, sebenarnya Lintang. Penonton langsung terkesima sejak kemunculan pertama Ikal di TV. Sebagai anak termiskin dari sebuah komunitas miskin , gayanya yang terengah-engah menggenjot sepeda yang terlalu besar untuknya adalah sebuah scene(adegan) tak terlupakan. Sedangkan, aktor veteran, Ikranagara, memberikan penampilan memukau sebagai Pak Harfan. Ia sukses membawakan karakter guru senior yang bersemangat , baik hati , dan , sanggup mengambil hati anak-anak asuhannya.

    Memang film ini film lama tahun 2008. Tapi yah , tak ada salahnya menonton film "Laskar Pelangi" berulangkali karena film ini memang "beda" dan berani melawan arus utama film Indonesia.

    Ikuti tulisan menarik Rein Robert lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.
















    Oleh: Akhmad Sekhu

    Rabu, 10 Agustus 2022 16:41 WIB

    Sajak Seribu Tahun

    Dibaca : 574 kali