Mengakhiri Tahun dengan Tradisi Mandok Hata - Analisis - www.indonesiana.id
x

Mandok hata, tradisi masyarakat Batak untuk megakhiri tahun.

Hermanto Purba

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 31 Desember 2021

Jumat, 31 Desember 2021 17:54 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Mengakhiri Tahun dengan Tradisi Mandok Hata

    Acara mandok hata, sebuah tradisi masyarakat Batak untuk mengakhiri tahun yang cukup membuat nyali anak-anak dan remaja Batak ciut seketika.

    Dibaca : 1.056 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Setiap kali pergantian tahun tiba selalu saja dirayakan dengan semarak. Pesta kembang api, pesta barbeku, dan pesta-pesta lainnya acap digelar pada jam-jam terakhir menjelang tahun berganti. Arak-arakan sepeda motor dengan klakson yang tak henti dibunyikan oleh anak-anak muda menjadi pemandangan lazim yang menambah keriuhan malam.
     
    Entah kenapa, tanggal terakhir setiap tahunnya begitu diistimewakan oleh banyak orang. Padahal sama saja sebenarnya. Jika pada hari terakhir tahun lama kita masih berutang, besoknya tidak lantas lunas seketika. Jika pada hari terakhir kita masih jomblo, besoknya juga tidak lantas tiba-tiba dapat pacar. Ya, tetap saja berutang. Tetap saja jomblo.
     
    Tidak ada perubahan. Keadaan tetap sama. Satu-satunya yang berubah cuma kalender. Kalender lama dibuang, atau mungkin disimpan buat dikoleksi karena mungkin banyak catatan untuk dikenang di sana, lalu diganti dengan kalender baru. Itu saja. Yang lainnya, status quo. Tapi begitulah. Merayakan pergantian tahun sudah jadi tradisi bagi banyak orang.
     
    Bagi orang Batak, tradisi merayakan tahun baru ada kekhasannya tersendiri. Jauh sebelum tahun baru tiba, biasanya emak-emak dan para anak gadisnya sudah sibuk membuat kue tahun baru. Dan satu jenis kue yang tidak boleh ketinggalan adalah kue kembang loyang. Itu wajib. Rasanya, tahun baru terasa kurang pas bila jenis kue yang satu ini tidak ada.
     
    Tapi jangan pernah bayangkan kembang loyang buatan emak-emak Batak itu lembut dan renyah. Keras sekali. Sebelas dua belas dengan makan es batu. Kaum kakek-nenek tidak disarankan makan panganan yang satu ini. Bisa jadi menimbulkan pendarahan gusi. Tapi belakangan, di era di mana begitu mudahnya resep makanan didapat melalui internet, ada perubahan signifikan pada tingkat kekerasan kembang loyang buatan emak-emak Batak.
     
    Selain kue kembang loyang, masih ada satu lagi tradisi merayakan tahun baru yang juga tidak pernah terlewat setiap kali tahun baru tiba. Sebuah tradisi yang begitu menakutkan bagi orang Batak khusunya bagi kawula muda: tradisi “mandok hata”. Tradisi yang satu ini cukup membuat nyali anak-anak dan remaja Batak ciut seketika.
     
    Tradisi mandok hata merupakan sebuah tradisi di mana ketika tahun baru tiba, biasanya dilaksanakan tepat pada saat pergantian tahun, seluruh anggota keluarga akan berkumpul. Orang-orang Batak perantau biasanya akan mudik hanya agar dapat ikut dalam acara tersebut. Sepanjang tahun mereka menabung demi persiapan pulang kampung agar dapat merayakan tahun baru di kampung halaman bersama keluarga besar.
     
    Nah, pada saat acara mandok hata, seluruh anggota keluarga mulai dari yang termuda hingga yang tertua akan menyampaikan sepatah dua patah kata secara bergilir. Tentang apa? Banyak. Mulai dari bersyukur atas penyertaan Tuhan, menyampaikan harapannya untuk tahun yang baru, menyampaikan segala kesalahan yang pernah diperbuat sepanjang tahun, yang ditutup dengan meminta maaf kepada orang tua.
     
    Dua hal terakhir yang saya sebut, biasanya hanya berlaku bagi anak-anak saja. Bukan orang tua. Sehingga tidak jarang, ketika acara mandok hata dilaksanakan, kita jadi tahu, kalau si A ternyata pernah melakukan kesalahan ini dan kesalahan itu. Kita juga jadi tahu kalau si B ternyata pernah membolos, menggelapkan uang sekolah, mencuri uang simpanan Ibu dari lemari, menjual ternak buat uang jajan, dan banyak hal aneh lainnya.
     
    Hal ini yang membuat acara mandok hata menjadi terasa begitu menakutkan bagi kawula muda Batak. Karena mereka harus menderetkan seluruh “dosa” yang pernah mereka lakukan sepanjang tahun yang disusul dengan meminta maaf atas segala dosa itu kepada orang tua. Dan anehnya, giliran mandok hata, sekali lagi, selalu dimulai dari yang terkecil/termuda.
     
    Hal itu menjadi salah satu pemicu kenapa acara ini menimbulkan perasaan ngeri. Jika saja giliran mandok hata dimulai dari orang tua, dengan format yang sama tentunya: ucapan syukur, harapan, dan membariskan seluruh kesalahan mereka di hadapan anak-anaknya, mungkin ceritanya akan beda. Tidak akan terasa begitu mencekam. Sebab anak-anak akhirnya akan tahu, “Oh, Bapakku ternyata gitu toh. Oh, Ibuku ternyata pernah berbuat itu.”
     
    Jadi ketika giliran anak-anak berbicara, mereka akan lebih siap. Karena faktanya, mereka ternyata tidak lebih buruk dari orang tuanya. Tapi masalahnya, hal itu sangat jarang terjadi. Orang tua tidak akan menyampaikan deretan kesalahannya. Orang tua hanya akan menyampaikan ucapan syukur, harapan sepanjang tahun, dan yang terakhir menyampaikan “poda” (nasihat), setelah anak-anak mengumumkan segala dosa dan kekhilafannya.
     
    Durasi menyampaikan poda ini bisa sangat panjang, sekaligus menjadi mata acara paling membosankan. Karena setiap anak harus diberi poda sesuai dengan kesalahannya. Bisa memakan waktu hingga berjam-jam lamanya. Alih-alih merayakan pergantian tahun baru bersama teman-temannya, anak-anak akan lebih memilih tidur setelah acara mandok hata selesai. Karena rasa mengantuk yang sudah tak tertahan lagi.
     
    Bagi yang sudah berumur, tapi belum menikah, acara ini juga terasa menyeramkan. Berbagai macam pertanyaan atau desakan agar segera menikah dari orang tua atau nasihat yang terkesan menggurui dari anggota keluarga lain yang kebetulan turut berkumpul akan disampaikan tak henti. Satu pertanyaan belum usai, pertanyaan lain akan segera menyusul.
     
    Jika saya boleh memberi saran, kalau memang format acara mandok hata tidak bisa diubah karena “kesakralannya”, sebaiknya dimulai saja sebelum tahun baru tiba agar waktu anak-anak untuk bertahun baru bersama teman-temannya tidak tersita. Toh perubahan itu tidak akan mengurangi makna kan. Tapi lebih baik pula jika acara itu ditiadakan. Karena saat tahun baru tiba, mestinya bersenang-senang, bukan justru membuat jantung berdetak tak menentu.
     
    Selamat tahun baru 2022.
     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.