Orientasi Pendidikan Anak: Pandai atau Bahagia? - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Mengenalkan sastra kepada sejak dini.\xd (Sumber: Pixabay)

Arief Nur Rohman

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 November 2021

Selasa, 4 Januari 2022 11:04 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Orientasi Pendidikan Anak: Pandai atau Bahagia?

    Setiap orangtua memiliki naluri untuk melihat anaknya pandai atau bahagia. Rata-rata orangtua mungkin memilih anaknya bahagia ketimbang sekadar pandai. Namun, benarkah anak yang pandai tidak bahagia? Mari kita urai bersama.

    Dibaca : 672 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Setiap orangtua memiliki naluri untuk melihat anaknya pandai atau bahagia. Jika orangtua dihadapkan pada pertanyaan: anak pandai atau bahagia, jawabannya dapat dipastikan, rata-rata orangtua memilih anaknya bahagia ketimbang sekadar pandai. Namun, benarkah anak yang pandai tidak bahagia? Boleh jadi jawabannya, ya, anak pandai belum tentu bahagia. Bahkan anak yang pandai, kurang memiliki karakter tertentu bisa diduga kurang bahagia.

    Beberapa waktu lalu, saya membaca buku karya Haidar Bagir Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia (Mizan, 2019). Dalam buku tersebut saya menemukan satu tulisan yang memantik kesadaran berpikir tentang realitas pendidikan dan orientasi mendidik anak. Saya mencoba membuktikan satu tesis yang ditulis Haidar Bagir dalam buku tersebut dengan melakukan survei sederhana kepada tiga puluh anak dengan mengajukan dua pertanyaan. Pertanyaan tersebut yaitu: Apakah kamu bahagia hari ini? dan, Apa alasan yang membuatmu bahagia?. Dari tiga puluh anak,  ada yang menjawab “bahagia” ada pula yang menjawab “tidak bahagia”. Anak yang menjawab “tidak bahagia” cenderung memiliki nilai dan penguasaan akademis yang bagus.

    Tiga belas anak di antaranya yang menjawab “tidak bahagia” mengemukakan alasan sebagai berikut: Pertama, kaitan dengan tugas dan rutinitas sekolah. Anak yang tidak bahagia beralasan bahwa mereka jengah dengan rutinitas sekolah yang berorientasi pada pemenuhan tugas mata pelajaran, pekerjaan rumah, dan tugas-tugas lainnya yang dibebankan kepada anak. Selain itu, penggunaan waktu istirahat yang cenderung pendek dan jam pulang yang lama.

    Kedua, ekosistem dan ruang sekolah belum memberikan impuls anak untuk bahagia. Hal ini dapat dilihat dari masih terdapat anak yang melakukan perundungan terhadap anak lainnya. Selain itu, banyak penekanan dan pola pendidikan yang “mengancam” sehingga jarang sekali memberi ruang untuk anak mengemukakan apa yang dirasakannya selama belajar.

    Ketiga, pengaruh guru. Dari setiap anak yang diberi pertanyaan, rata-rata anak menjawab bahagia belajar dengan guru tertentu. Alasan yang mereka kemukakan di antaranya; guru tersebut mempunyai sifat ramah, sabar, dan baik. Sementara itu, anak yang menjawab tidak bahagia, mereka beralasan guru terlalu kaku dalam menyampaikan materi pelajaran, terlalu panjang dalam memberikan materi, tidak humoris dan cenderung membosankan.

    Meski demikian, tiga belas anak yang menjawab “tidak bahagia” memiliki nilai akademis yang bagus dan penguasaan materi yang baik. Hal ini mengindikasikan bahwa anak yang pandai cenderung “tidak bahagia.” Hanya anak yang memiliki karakter tertentu, meski tidak pandai, punya peluang lebih besar untuk bahagia. Begitupun juga anak yang pandai yang memiliki karakter tertentu, masih punya peluang bahagia lebih besar.

    Lantas, apa saja karakter yang mampu mendorong kebahagiaan anak?

    Menurut psikologi positif/ positive psychology – aliran psikologi yang meyakini bahwa semua manusia memiliki potensi baik dan bahagia – karakter tersebut meliputi: Pertama, menanamkan sikap bijaksana dan kuriositas yang tinggi. Hal ini bisa dipantik dengan menumbuhkan kreativitas anak, keterbukaan berpikir, kejernihan dalam menyikapi sudut pandang, dan mampu melahirkan inovasi.

    Kedua, karakter kebahagiaan selanjutnya adalah mempunyai sikap keberanian, ketekunan, integritas dan vitalitas. Ketiga, humanis; cinta kasih, kebaikan, dan kecerdasan sosial. Keempat, Keadilan; kemurahan hati, tawaduk, bijaksana, dan mampu mengontrol diri. Kelima, mampu mengapresiasi terhadap keindahan dan keluhuran, serta mempunyai rasa syukur, harapan, humor, dan spiritualitas.

    Rupanya selama ini orientasi pendidikan kita dilema soal menentukan prioritas, apakah seharusnya mendidik anak pandai atau bahagia. Mesti kita sadari bersama, bahwa mendorong anak untuk pandai dengan cara yang tidak bijaksana bisa menyebabkan anak kehilangan peluang memiliki karakter yang mendukung kebahagiaan. Mengapa demikian? Karena cara yang tidak bijaksana, seperti: memberikan tekanan, menuntut secara berlebihan, membebani anak dengan kegiatan yang merampas waktu luang mereka, itu semua bertentangan dengan cara-cara untuk mengembangkan karakter yang mendukung kebahagiaan.

    Oleh sebab itulah, mari ubah cara pandang paradigma pendidikan kita dalam mendidik anak, tidak lagi dengan cara-cara yang kontra produktif yang berorientasi pada nilai kalkulatif-kuantitatif. Mari memusatkan perhatian kita pada pemenuhan syarat kebahagiaan anak, ketimbang memokuskan diri pada pemenuhan kompetensi dasar sekadar pandai. Mari pula menanamkan karakter yang mampu membangun kreativitas anak dengan menjadi pendidik yang selalu memberi ruang seluas-luasnya bagi anak untuk berekspresi, memelihara harga diri mereka dan membangun suasana nyaman.  Dengan begitu, kita berharap penuh kebahagiaan hidup menanti anak-anak kita di masa depan kelak. Sebab jika bukan kebahagiaan, apalagi yang hendak dicari dan menjadi orientasi?



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.