Amran Butuh Uluran Tangan - Humaniora - www.indonesiana.id
x

M. Fitrah Wardiman

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 Maret 2020

Minggu, 16 Januari 2022 15:36 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Amran Butuh Uluran Tangan


    Dibaca : 568 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    “Tolong…tolong. Tolong pak, bu. Tolong,” jeritnya kesakitan. Sambil memegangi perutnya yang bersimbah darah, ia berjalan tertatih. Di depan sebuah bengkel, langkahnya terhenti. Tumbang tak sadarkan diri.

    Kejadian ini dialami Amran (20), seorang anak nelayan di Mamuju. Niat baiknya ingin melerai perkelahian berujung naas. Ia malah jadi korban penusukan. Pisau menembus perutnya sedalam 20 centimeter. Merobek empat organ vital: empedu, usus, hati dan ginjal.

    Ceritanya bermula saat Amran sedang duduk di sekitar lingkungan rumahnya. Tiba-tiba ia melihat kerumunan dan berjalan menghampiri. Tak ingin keributan semakin membesar, ia mencoba melerai bersama beberapa warga lainnya. Namun seseorang yang berada diantara kerumunan tiba-tiba bereaksi anarkis. Membabi buta hingga menusuk perut bagian kiri Amran dengan pisau.

    “Tolong. tolong. Saya ditusuk. Tolong pak, bu. Tolong,” teriaknya kesakitan. Warga yang melihatnya kemudian membawa Amran ke rumah sakit terdekat menggunakan angkutan umum. Sambil menghubungi kedua orang tuanya, Pak Sarif dan Bu Rukmini.

    Setibanya di rumah sakit, kondisi Amran sudah kritis. Perutnya pendarahan akut. Ia tampak lemas. Petugas RS langsung mengambil tindakan dengan memasang alat bantu pernapasan dan tabung kecil kantong kemih. Menurut keterangan dokter, luka tusuk yang dialami sedalam 20 centimeter. Hingga merobek empat organ tubuh: empedu, usus, hati, dan ginjal.

    Tanpa berlama-lama, Amran langsung menjalani operasi. Namun setelah operasi, kondisinya justru makin memburuk. Ia koma selama dua hari. Sempat terbangun berteriak kesakitan. Nafasnya lengah seperti orang yang sedang dicekik.

    Rupanya, keempat organ vitalnya terancam rusak fungsi. Karena itu, Amran harus menjalani operasi kedua di rumah sakit yang berbeda. Biayanya tidak main-main, mencapai Rp 94 juta. Lantaran itu, orang-orang terdekat dan atas persetujuan keluarganya menggalang inisiatif bantuan biaya operasi di link kitabisa.com

    Sebab, tidak banyak yang bisa diperbuat ditengah kondisi keluarga pas-pasan. Ibu Rukmini berdoa, Pak Sarif berusaha. Ibunya, Rukmini, hanya mampu membelai dan mencium kening sang putranya, berharap bisa menjadi sumber kekuatan bagi Amran.

    Sementara ayahnya, Pak Sarif, nelayan lokal, sedang berjuang ditengah laut. Di usianya yang senja dan anaknya yang sedang kritis, Pak Sarif masih melaut dari malam hingga pagi. Mengumpulkan ikan untuk dijual. Berharap hasilnya bisa mencukupi biaya operasi anaknya.

    Sekadar informasi. Amaran adalah seorang mahasiswa Universitas Sulawesi Barat. Dengan setumpuk prestasi, ia melanjutkan pendidikan menggunakan beasiswa. Latar belakangnya yang dekat dengan kehidupan nelayan mambuatnya memilih jurusan ilmu perikanan. Harapannya, begitu Amran selesai kuliah, ia bisa memperbaiki kondisi ekonomi keluarganya.

     

    DISCLAIMER: Fakta dari tulisan ini disadur dari deskripsi penggalangan dana di kitabisa.com



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.