Pemahaman Komunikasi Empatik dalam Menggabungkan Perasaan dengan Pikiran - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

ilustr: Medical News Today

Vwan junico

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 17 Januari 2022

Rabu, 19 Januari 2022 06:02 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Pemahaman Komunikasi Empatik dalam Menggabungkan Perasaan dengan Pikiran

    Komunikasi empatik mengacu pada komunikasi yang didasarkan pada kesadaran akan perasaan, perhatian, dan perhatian komunikator. Oleh karena itu, yang perlu diperhatikan dalam komunikasi empatik adalah bagaimana memahami orang lain. Jangan sebaliknya, mengharapkan orang lain mengerti terlebih dahulu.

    Dibaca : 583 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Awan Junico Takarama,
    Prodi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

    Manusia menunjukkan tanda-tanda empati sejak bayi dan akan berkembang lebih lanjut pada masa kanak-kanak dan remaja. Namun, tingkat empati seseorang mungkin tidak sama dengan orang lain. Beberapa orang mudah beresonansi, dan beberapa orang sulit dilakukan. Empati adalah kemampuan untuk memahami perasaan orang lain, melihat dari sudut pandang orang itu, dan membayangkan diri Anda di tempat orang itu. Empati memainkan peran penting dalam membangun dan memelihara hubungan antara orang-orang dan melibatkan komunikasi dengan tujuan tertentu yang informatif dan persuasif.

    Komunikasi empatik mengacu pada komunikasi yang didasarkan pada kesadaran akan perasaan, perhatian, dan perhatian komunikator. Oleh karena itu, yang perlu diperhatikan dalam komunikasi empatik adalah bagaimana memahami orang lain. Jangan sebaliknya, mengharapkan orang lain mengerti terlebih dahulu. Tentunya sikap ini harus bersifat timbal balik agar dapat menghasilkan saling pengertian. Berdasarkan premis ini, pihak terkait akan berkomunikasi dengan empati, sehingga tidak sulit untuk menumbuhkan sikap memahami perasaan pihak lain dengan pemikiran dalam bentuk komunikasi.

    Komunikasi lebih dititikberatkan pada konsepsi tentang manusia dalam perspektif psikologis humanistik. Dipaparkan Rakhmat (2007:30-32) yang mengutip istilah Martin Buber dengan sebutan ”I-it Relationship” yang menunjukkan hubungan pribadi dengan pribadi, bukan pribadi dengan benda, atau subjek dengan subjek, bukan subjek dengan objek.

    Pikiran adalah semua proses yang berlangsung di otak, baik menerima informasi dari panca indera maupun menanggapi informasi dari lingkungan sebagai kerangka berpikir atau persepsi. Kita tidak dapat mengetahui isi perasaan seseorang, tetapi kita dapat dengan mudah mengetahui apakah seseorang sedang berpikir, yaitu dari perubahan fisiologis dalam tubuhnya. Perubahan suasana hati seperti sering gelisah dan murung, sulit berkonsentrasi, kurang percaya diri, kesepian dan depresi.

    Kemampuan untuk memahami atau memahami perasaan orang lain dari sudut pandang emosional. Singkatnya, empati ini membuat Anda merasa seperti berada di posisi orang lain. Padahal, empati adalah sesuatu yang tidak dimiliki manusia dan dapat dikembangkan melalui pelatihan serta di tingkatkan. Empati hampir mirip dengan perasaan empati, tetapi empati bukan hanya perasaan yang muncul, tetapi perasaan organik yang berasal dari tubuh yang sangat dalam. Misalnya, jika orang tua teman kita meninggal, kita juga pasti merasa kehilangan. Jadi dapat disimpulkan bahwa empati adalah salah satu tindakan yang dilakukan terhadap orang lain dengan menggunakan pola pikir yang benar sehingga tindakan tersebut baik dan benar di mata orang lain.

    Komunikasi mempunyai hubungan yang erat dengan empati. Empati dapat dibangun dari komunikasi efektif. Namun dibandingkan dengan komunikasi saja empati dapat memberikan pengaruh yang lebih jauh cakupannya dan luas jangkauannya. Komunikasi hanya terbatas pada dua jenis saja, yaitu verbal dan non verbal, berbeda halnya dengan empati. Ia bisa terbentuk meski melalui perasaan, pengetahuan dan juga keyakinan seseorang akan sebuah objek.

    Empati mencakup komponen afektif dan kognitif. Secara emosional, orang yang berempati merasakan apa yang orang lain rasakan. Secara kognitif, orang yang berempati memahami bagaimana perasaan orang lain dan mengapa. Sementara empati dianggap sebagai keadaan emosional, sering kali memiliki komponen kognitif atau kemampuan untuk melihat keadaan mental orang lain, atau disebut dari sudut pandang orang lain.

    Dari pengertian empati di atas, kita dapat dengan jelas menarik kesimpulan bahwa cara mengenali dan memahami situasi orang lain dapat diperoleh melalui komunikasi. Komunikasi yang baik, ditambah dengan kepekaan terhadap apa yang dialami atau dirasakan orang lain, juga dapat menimbulkan empati yang baik sehingga menghasilkan keterkaitan perasaan dengan pikiran.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.