Apakah Politik Itu Jahat? - Hiburan - www.indonesiana.id
x

Janwan S R Tarigan (Penggembala Kerbau)

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Agustus 2020

Selasa, 1 Maret 2022 17:29 WIB

  • Hiburan
  • Topik Utama
  • Apakah Politik Itu Jahat?

    Apakah politik itu jahat? Bukankan kita adalah manusia sosialis (homo sosialis) sekaligus juga sebagai manusia politik (zoon politicon)? Namun sering kita menjumpai perbedaan makna suatu kata dengan realita. Salah satu buku yang menarik dan perlu dijadikan referensi untuk menjernihkan persoalan pemahaman tersebut adalah Buku Sosiologi Politik.

    Dibaca : 1.818 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Mengapa penting belajar sosiologi dan politik; jawaban sederhananya karena kita mahluk sosial (homo socialis) dan juga manusia politik (zoon politicon). Disebut sebagai sebagai mahluk sosial karena pada hakikatnya manusia selalu membutuhkan manusia lain untuk melangsungkan hidupnya, melalui interaksi yang membentuk ikatan sosial. Sementara itu, disebut manusia politik karena manusia tidak terlepas dari keinginan atau tujuan akan sesuatu hal yang sifatnya terbatas. Sehingga menimbulkan persaingan antar sesama manusia untuk memperoleh tujuannya. Lebih lanjut, dibutuhkan strategi dan taktik agar impian dapat diraih. Upaya inilah yang disebut sebagai proses politik. Kedua hal tersebut merupakan konsep dasar ilmu sosiologi, dan ilmu politik.

    Gabungan kedua konsep kontemporer tersebut melahirkan subbidang sosiologi politik. Ada dua aspek dalam sosiologi politik, yakni secara umum mengkaji hubungan antara masyarakat dan negara; dan secara khusus menelaah tentang kondisi-kondisi sosial yang berhubungan dengan program dan kebijakan publik yang diselenggarakan oleh pemerintah. Jika ditarik benang merahnya maka kajian sosiologi politik berfokus pada aktor-aktor atau kelompok sosial masyarakat yang berperan dalam memengaruhi progam dan kebijakan pemerintah. Sederhananya mengkaji kekuasaan masyarakat.

    Untuk memahami lebih dalam, buku karya kolaborasi Kamaruddin Salim dan Efriza yang berjudul “Sosiologi Politik: Sejarah, Analisis, dan Dinamika Perkembangan Konsep” dapat dijadikan referensi utama. Diselipkan kata kolaborasi sehubungan penulis yang berbeda latar belakang keilmuan yakni berurutan ilmu sosiologi dan ilmu politik. Perpaduan kedua ilmu tersebut membuat kajian sosiologi politik yang diulas tajam dan kompleks. Diantaranya menyuguhkan berbagai konsep, ruang lingkup, teoritisasi, serta elaborasi kajian sosiologi dan politik yang komprehensif dan teraktual. Walaupun sudah ada beberapa buku serupa mengkaji tentang sosiologi politik, namun buku terbitan Intrans Publishing Malang ini memberikan suatu kebaruan perpektif maupun isu yang diangkat. 

    Karya tulis duo akademisi ini tidak diragukan memberi sumbangsih bagi kajian sosiologi politik teraktual. Pembacanya disuguhkan kenikmatan sajian tulisan yang sistematis mulai dari filosofi hingga praksis. Diantaranya pada bab 1 diberi judul “Pengantar Sosiologi Politik”; bab 2 mengurai “Lingkup Kajian Sosiologi Politik”; bab 3 mendalami “Perspektif dalam Sosiologi Politik”; bab 4 memetakan “Masyarakat dan Negara Dalam Bingkai Sosiologi Politik”; bab 5 menjelaskan “Relasi Elite dan Massa; bab 6 menelaah “Perspektif Karl Marx dalam Kajian Sosiologi Politik”; bab 7 mengulas tentang “Perubahan Sosial Masyarakat”; bab 8 mendiskusikan seputar “Politik Identitas”; serta pada bab 9 mengupas tuntas perihal “Pluralisme dalam Perspektif Sosiologi Politik”. Kesemuanya bab tersebut cukup lengkap memberikan pemahaman akan sosiologi politik, bahkan memicu masyarakat semakin paham perannya dalam tataran berbangsa dan bernegara; layaknya masyarakat madani.

    Pemahaman yang berkembang di masyarakat ketika mendengar tentang politik adalah bahwa politik itu jahat karena hanya berbicara kekuasaan semata. Begitulah situasi pergeseran makna dari politik. Padahal jika dilihat secara murni, politik hanyalah alat untuk mencapai sesuatu yang diinginkan manusia. Pada umumnya politik seharusnya dijadikan alat kearifan dan kebijaksanaan untuk membangun peradaban yang adil makmur. Namun dalam perkembangnannya politik justru dipertontonkan segelintir elite penguasa sebagai panggung perebutan kekuasaan dengan berbagai cara seperti korupsi, menjatuhkan lawan politik, saling berkhianat, pencitraan, dan lainnya. Wajar kemudian jika pemahaman awam memandang politik sebagai kejahatan. Inilah situasi yang dihadapkan kepada generasi kita yang sekaligus sebagai tantangan mengembalikan makna filosofis politik sebagai kerja-kerja peradaban.

    Salah satu langkah awal untuk itu perlu kiranya dihidupkan literasi politik di tengah masyarakat. Melalui bacaan dan diskusi politik untuk menumbuhkan kesadaran kritis atas situasi politik dan melek hak-hak rakyat. Itulah tugas kita bersama. Buku ini satu di antara banyak buku politik yang disarankan dibaca oleh mereka yang menekuni studi ilmu politik dan ilmu sosiologi di semua jenjang baik dosen maupun mahasiswa, juga perlu dipelajari masyarakat luas. Selain itu juga penting dibaca oleh masyarakat dari berbagai elemen, khususnya aktivis lembaga swadaya masyarakat. Begitupun bagi masyarakat umum guna menambah wawasan dan menaikkan nilai tawar. Dari hasil menjelajah buku ini kita belajar bahwa menjadi mahluk sosial dan manusia politik sejati diperlukan landasan yang benar dan tepat. Membaca buku ini sebagai salah satu langkah awal yang baik membangun keadaban politik.

    Ikuti tulisan menarik Janwan S R Tarigan (Penggembala Kerbau) lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.