x

Jenderal Polisi Hoegeng Santosa. Foto: Wikipedia

Iklan

Fikri Naufal

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 4 Maret 2022

Sabtu, 5 Maret 2022 05:18 WIB

Jenderal Hoegeng;Simbol Integrasi Antikorupsi

Polisi Lurus Integritas Tinggi Penuh Keadilan dan Kebenaran

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

LATAR BELAKANG

Hoegeng Imam Santoso merupakan seorang putra daerah yang lahir di Pekalongan Jawa Tengah pada 14 Oktober 1921.  Nama lahirnya adalah Iman Santoso. Nama Hoegeng diambil dari "bugel" (menjadi "bugeng" dan kemudian "hugeng"; yang berarti gemuk) karena tubuhnya yang gemuk semasa kecil. Ayahnya adalah Soekarjo Kario Hatmodjo dari Tegal, seorang jaksa di Pekalongan; ibunya adalah Oemi Kalsoem. Ia memiliki dua adik perempuan: Titi Soedjati dan Soedjatmi. Beliau ingin menjadi polisi karena dipengaruhi oleh teman ayahnya yang menjadi kepala kepolisian di kampung halamannya Ating Natadikusumah. 

Beliau memulai sekolah dasar di Hollandsch-Inlandsche Pekalongan dan lulus pada tahun 1934. Beliau kemudian melanjutkan sekolah menengah pertamanya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs  di kota yang sama. Beliau pindah ke Yogyakarta untuk melanjutkan sekolah menengah atasnya di Algemene Middelbare School dengan jurusan bahasa dan sastra Barat. 

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

 Pada tahun 1940, setelah lulus, beliau pindah ke Batavia untuk melanjutkan studinya di perguruan tinggi hukum Rechtschoogescool te Batavia. Di sana beliau tergabung dalam organisasi kemahasiswaan bernama Unitas Studiosorum Indonesiensis (USI).  Beliau adalah sosok yang disegani di kalangan kepolisian Republik Indonesia. Beliau hanya menjabat sebagai Kapolri selama tiga tahun, namun beliau telah membawa perubahan besar kepada Kepolisian Republik Indonesia.

 Beliau adalah seorang Polisi yang berpangkat Jenderal Polisi (Purn) yang menjabat pada masa Orde Baru masa jabatan 1968-1971. Selain itu, sikap tegas, bersih, sederhana, dan jujur membuat namanya menjadi legenda di seluruh kalangan kepolisian. Bahkan beliau rela hidup seadanya demi menjaga integritas. Pelaku kejahatan bahkan tak berkutik selama Polri berada di bawah kepemimpinan beliau. Jenderal polisi Hoegeng selaku Kapolri memiliki pemikiran dan kebijakan agar fungsi polisi dan ABRI terpisah dan melakukan tugasnya sesuai korpsnya masing-masing. 

Jenderal polisi Hoegeng mulai menugaskan dan menjalankan fungsi polisi dengan mulai melacak dan menindak pihak pemerintah yang melakukan tindak pidana seperti korupsi, kolusi, dan nepotisme yang merugikan masyarakat bangsa. Beliau berperan besar dalam mengembalikan profesionalisme kerja Kapolri pada masa Orde Baru yang sebelumnya berada di bawah kontrol ABRI. Peran beliau di dalam Kapolri menarik perhatian peneliti untuk dijadikan suatu titik tolak penelitian dengan judul “Profesionalisme Polri di bawah Kepemimpinan Kapolri Hoegeng Pada Masa Orde Baru Tahun 1968-1971”.  

 

5 KISAH INSPIRATIF HOEGENG IMAN SANTOSO

  • MEMBONGKAR BANDAR JUDI DI MEDAN

  Salah satu kisah yang melegenda dari seorang Hoegeng saat dirinya bertugas di Medan dengan pangkat kompol. Di sana, dia membongkar praktik suap menyuap pada para polisi dan jaksa di Medan yang menjadi antek bandar judi. Berbeda dengan kebanyakan polisi lainnya, beliau sangat anti dan tidak mempan disuap. Barang-barang mewah pemberian bandar judi dilempar begitu saja keluar jendela. Beliau berkata, lebih baik hidup melarat dari pada menerima suap atau korupsi. Prinsip hidup itu ia tiru dari mantan Wakil Presiden kita yaitu Mohammad Hatta.

  • TAK MEMPAN DI SUAP DAN RAYUAN WANITA CANTIK

  Kapolri Jenderal Hoegeng Imam Santoso pernah dirayu seorang pengusaha cantik keturunan Makassar-Tionghoa yang terlibat kasus penyelundupan. Perempuan itu meminta beliau agar kasus yang sedang dihadapinya tidak dilanjutkan ke pengadilan. Beliau menolak, namun pengusaha cantik itu tidak menyerah. Pengusaha itu terus mengirim     berbagai hadiah mewah yang dikirim ke alamat beliau. Tapi Hoegeng terus menolak secara  mentah-mentah. 

  • TAK GENTAR MELAWAN SIAPAPUN DEMI KEADILAN DAN KEBENARAN

    Kapolri Jenderal Hoegeng pernah dihadapkan pada kasus pemerkosaan seorang penjual telur bernama Sumarijem di Yogyakarta. Di kasus tersebut anak seorang pejabat dan anak pahlawan revolusi diduga ikut menjadi pelakunya. Beliau sadar kasus di pengadilan waktu itu penuh rekayasa dan campur tangan kalangan atas, namun beliau siap mengusut tuntas kasus tersebut. Beliau membentuk tim khusus untuk kasus itu tapi pada akhirnya tergantikan atas suara Presiden Soeharto. Pada Oktober 1971, beliau dipensiunkan dari jabatan Kapolri. Banyak pihak yang beranggapan bahwa beliau diturunkan karena telah ikut campur atas kasus tersebut. “Perlu diketahui bahwa kita tidak gentar menghadapi orang-orang gede siapapun. Kita hanya takut kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jadi kalau salah tetap kita tindak,” ujar beliau saat itu.

  • LANGSUNG TURUN KE LAPANGAN TANPA RAGU

    Beliau berpendapat, tugas polisi adalah mengayomi masyarakat. Baik itu dari pangkat tertinggi hingga terendah. Karena itu, beliau merasa tidak pernah malu untuk turun langsung ke lapangan mengambil alih tugas polisi yang sedang tidak ada di tempat. Jika terjadi kemacetan, beliau akan turun menjalankan tugas sebagai polisi lalu lintas. Sebelum sampai ke kantor, beliau menyempatkan diri dulu untuk memantau situasi lalu lintas dan kesiapsiagaan aparat kepolisian di jalan.

  • BERANI MEMBONGKAR KORUPSI TAK PANDANG BULU

    Meski tak lagi menjabat sebagai Kapolri, beliau tetap memberi perhatian khusus pada institusi tempat ia dulu bekerja. Pada 1977, dia mendapat laporan dari seorang perwira menengah polisi kalau ada dugaan korupsi di sejumlah perwira tinggi. Beliau mengirim pesan untuk memperingatinya tetapi karena tak kunjung mendapat balasan, beliau langsung membocorkan dugaan korupsi itu ke sejumlah media. Tak lama setelah itu kasus itu pun keluar dan pelakupun divonis bersalah. 

 

PENGALAMAN HIDUP JENDERAL HOEGENG IMAN SANTOSO

       Pada bulan Maret 1942, di saat Jepang menduduki Hindia Belanda. Beliau menggunakan waktu luangnya untuk menjual telur dan buku sekolah bahasa Jepang dengan bepergian dari satu kota ke kota lain bersama dengan temannya, Soehardjo Soerjobroto. Saat berada di Semarang, ia bertemu kerabatnya dan ditawari bekerja di stasiun radio Hoso Kyoku. Dia diterima dan akan mulai bekerja satu bulan kemudian. Saat bekerja di stasiun, ia mendaftar ke pembukaan kursus polisi di Pekalongan. Beliau melamar dan pada akhirnya diterima sebagai salah satu dari sebelas anggota kepolisian dari total 130 pelamar. Dia bergabung dengan Marshall General School di Military Police School, Fort Gordon, Georgia, Amerika Serikat

       Di Sukabumi, beliau mendaftar ke kursus Koto Kaisatsu Gakko, kursus bagi siapa saja yang sudah terlatih di bidang kepolisian. Pada tahun 1944, beliau lulus dan bersama ketiga temannya, Soetrisno, Noto Darsono, dan Soenarto yang ditugaskan ke Chiang Bu (bagian keamanan) di Semarang. Beliau dan Soenarto menduduki jabatan Koto Kei Satsuka (bagian intelijen), sedangkan Noto dan Soetrisno masing-masing diberi jabatan di Keimu Ka (urusan umum) dan Keiza Ka (urusan ekonomi). 

       Setelah beberapa minggu di Semarang, beliau dipromosikan menjadi Kei Bu Ho II, dimana  beberapa bulan berikutnya, beliau kembali dipromosikan menjadi Kei Bu Ho I. Sesaat sebelum Jepang menyerah kepada pasukan sekutu, beliau dipindahkan ke Keibi Ka Cho (divisi perwalian) di bawah pimpinan R. Soekarno Djojonegoro dan dipromosikan lagi. 

            Di Pekalongan, beliau dikunjungi Komodor M. Nazir yang mana kemudian dijadikan Kepala Angakatan pertama. Nazir tertarik pada beliau karena dia ingin membentuk polisi militer angkatan laut dan menawarkan beliau untuk menjadi bagian dari angkatan laut. Beliau kemudian menerima tawaran itu tersebut karena dia ingin tantangan dan menurutnya kepolisian sudah mapan. 

        Di Yogyakarta, beliau memiliki aktivitas lain sebagai pemeran utama sandiwara radio Saija dan Adinda yang disiarkan oleh radio Angkatan Laoet, Darat, dan Oedara (ALDO) dan RRI Yogya. Ia kemudian menikah dengan lawan mainnya dalam lakon, Merry, pada 31 Oktober 1946 di Jetis, Yogyakarta. Setelah mereka menikah, Hoegeng mengundurkan diri sebagai perwira angkatan laut untuk mengejar impian masa kecilnya menjadi seorang perwira polisi. 

 

CITA-CITA

       Hoegeng yang memiliki nama lahir Iman Santoso ini mengagumi sang ayah yang bersama dua rekannya menjadi trio penegak hukum di kota itu. Dua orang lainnya adalah kepala polisi Ating Natadikusumah dan ketua pengadilan Soeprapto. Beliau sangat ingin menjadi polisi karena dipengaruhi oleh teman ayahnya yang menjadi kepala kepolisian di kampung halamannya Ating Natadikusumah.

 

NILAI & PESAN 

      Jenderal hoegeng Walaupun hanya menjabat tiga tahun sebagai Kapolri, namun beliau telah membawa perubahan besar kepada Kepolisian Republik Indonesia. Selain itu, sikapnya yang tegas, bersih, sederhana, dan jujur membuat namanya menjadi legenda di kalangan kepolisian dan masyarakat. Bahkan beliau rela hidup seadanya demi menjaga integritas. Pelaku kejahatan bahkan tak berkutik selama Polri berada di bawah kepemimpinan beliau. Sangking jujurnya, beliau menjual sepatunya kepada anak buahnya dan beliau sempat membuka toko bunga tetapi tidak lama itu tutup dikarenakan hoegeng tidak mau terima penyuapan dari pejabat lainnya melalui usaha istrinya.

Beliau selalu berpesan seperti :

“Selesaikan tugas dengan KEJUJURAN, karena kita masih bisa makan nasi dengan garam.”

 “MEMANG BAIK MENJADI ORANG PENTING. TETAPI LEBIH PENTING MENJADI ORANG BAIK”.

Ikuti tulisan menarik Fikri Naufal lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler