Dampak Krisis Ukraina Terhadap Ekonomi Indonesia - Analisis - www.indonesiana.id
x

uang koin

Frank Jiib

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 11 November 2021

Rabu, 9 Maret 2022 06:51 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Dampak Krisis Ukraina Terhadap Ekonomi Indonesia

    Sebuah analisis tentang dampak krisis yang terjadi di Ukraina terhadap fundamental ekonomi Indonesia yang sangat rentan jika terjadi gejolak ekonomi global. Dan pemerintah akan dihadapkan pada masalah yang sulit jika krisis ekonomi benar-benar terjadi dalam waktu dekat.

    Dibaca : 954 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Dampak Krisis Ukraina Terhadap Ekonomi Indonesia

       Pada awal tahun 2022 ini dunia dikejutkan dengan pergerakan militer Rusia secara besar-besaran ke perbatasan Ukraina. NATO dan Amerika Serikat menuduh Rusia akan melakukan penyerangan ke wilayah Donbas yang berada di timur Ukraina yang berbatasan langsung dengan Rusia dan dikuasai oleh para sparatis pro Rusia yang ingin memisahkan diri dari pemerintahan yang ada di Kiev. Tuduhan NATO dan Amerika Serikat ini langsung dibantah dengan keras oleh juru bicara Kremlin Dmitry Peskov yang mengatakan. “Rusia hanya akan mengadakan latihan perang selama 14 hari.”

       Tetapi, para pemimpin barat tidak percaya dengan alasan Rusia yang hanya akan menggelar latihan perang. Sedangkan dari pengamatan citra satelit diketahui ada hampir 100 ribu tentara Rusia yang didukung dengan kendaraan tempur dan lapis baja yang menumpuk disepanjang garis perbatasan Ukraina. Ketegangan yang terus terjadi di wilayah timur Ukraina, membuat Presiden Volodymyr Zelensky meradang dan meyakini jika Rusia akan melakukan penyerangan guna menggagalkan keinginan Ukraina bergabung menjadi anggota NATO dan mengganti pemerintahan yang pro barat saat ini dengan pemerintahan boneka yang pro Rusia.

       Ketegangan yang semakin memuncak, ditambah beberapa kali terjadi bentrokan kecil antara pasukan Ukraina dan para separatis pro Rusia di wilayah Donbas. Akhirnya pada tanggal (24/2/22) Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan operasi militer khusus di wilayah Donbas, Ukraina timur. Dalam pidato yang disampaikan televisi, Presiden Putin mengatakan orang-orang Donbas meminta bantuan Rusia, menurut kantor berita Rusia TASS. “Dalam hal ini saya memutuskan untuk melakukan operasi militer khusus,” kata dia.

       Setelah pengumuman dari Presiden Putin, barulah invasi besar-besaran tentara Rusia dimulai dengan memasuki wilayah timur Ukraina. Tujuan dari invasi ini adalah untuk menundukkan pemerintahan yang saat ini sedang berkuasa di Kiev dalam waktu dekat. Tidak ada yang tahu sampai berapa lama perang terbuka antara Ukraina dan Rusia akan berlangsung. Namun, dampak tidak langsung dari krisis yang terjadi di Ukraina bagi ekonomi Indonesia itulah yang patut diwaspadai dan diantisipasi sejak dini, mengingat fundamental ekonomi Indonesia sangat lemah dan rapuh, ditambah efek pandemi yang sampai saat ini masih belum bisa teratasi dengan baik.

       Ada beberapa faktor yang membuat Presiden Jokowi sampai khawatir dengan krisis yang sedang terjadi di Ukraina. Sampai akhirnya presiden menyampaikan kepada para pembantunya untuk berhati-hati dan segera memiliki solusi dalam menghadapi krisis yang sudah di depan mata. Beberapa faktor eksternal yang patut diwaspadai adalah:

    1. Harga minyak mentah dunia dipastikan akan naik dalam waktu dekat.

       Dan benar saja, harga minyak mentah dunia telah merangkak naik dan saat ini kenaikannya sudah mencapai 26%, hingga menyentuh di angka USD 130 per barel dan kenaikan harga ini adalah yang tertinggi.

       Saat ini pemerintah Indonesia dipusingkan dengan harga minyak mentah dunia yang terus naik dan kenaikannya telah melewati ambang batas yang telah ditetapkan pemerintah dalam APBN 2022. Yang menjadi pertanyaan, sampai kapan pemerintah bisa bertahan tidak menaikkan harga BBM dalam negeri, sedangkan kemampuan APBN kita untuk mensubsidi sangat terbatas.

       Jika pemerintah mengambil opsi menaikkan harga BBM dalam negeri, bisa dipastikan efek domino dari kenaikan harga BBM sangat mengerikan. Dimana pada saat yang sama daya beli masyarakat masih lesu dan lemah, kemudian ditambah dengan kenaikan harga-harga kebutuhan lainnya sebagai imbas kenaikan BBM. Bisa dipastikan ekonomi masyarakat kelas bawah dan kelas menengah akan runtuh dalam waktu singkat.

    1. Indonesia adalah negara pengimpor gandum terbanyak dari Rusia dan Ukraina.

       Dengan terjadinya perang terbuka antara Ukraina dan Rusia yang telah berlangsung lebih dari sepekan ini. Bisa dipastikan harga gandum akan mengalami kenaikan akibat gangguan pasokan dan tingginya permintaan.

       Sedangkan saat ini Indonesia masih bergantung dari impor untuk memenuhi kebutuhan gandum dalam negeri. Jika harga gandum terus naik secara signifikan, maka otomatis biaya impor dan biaya produksi dalam negeri juga akan ikut naik dan pada akhirnya imbasnya adalah harga kebutuhan pokok yang berbahan dasar gandum juga akan ikut naik di pasaran.

       Kejadian naiknya harga kebutuhan pokok berbahan dasar gandum seperti roti, mie instan dan makanan lainnya akan memberatkan masyarakat, tidak pula para pemilik perusahaan juga akan mengalami hal yang sama. Dan sampai saat ini belum terlihat strategi yang jelas dari kementrian perdagangan serta kementrian pertanian untuk menemukan solusi yang tepat guna menstabilkan harga gandum di pasaran. Supaya efek negatif dari kenaikan harga yang tidak terkendali bisa diminimalisir, serta laju ekonomi bisa terus berputar dengan baik. Jika dalam waktu dekat pemerintah tidak mampu meredam kenaikan harga ini, hampir bisa dipastikan pertumbuhan ekonomi dan daya beli masyarakat akan merosot tajam.

    1. Kenaikan harga batu bara.

       Krisis antara Ukraina dan Rusia telah mengakibatkan kenaikan harga batu bara di pasar international. Kenaikan harga batu bara ini bisa dibilang bagaikan dua sisi mata uang yang bertolak belakang. Kenapa disebut demikian, karena bagi eksportir dan pemilik tambang batu bara ini adalah kue basah yang mendatangkan keuntungan dan cuan yang luar biasa. Namun di sisi yang lain, tingginya harga batu bara di pasar international akan membuat biaya produksi listrik PLN yang sebagian besar masih menggunakan batu bara juga akan mengalami kenaikan yang signifikan.

       Kenaikan ini dipicu karena PLN harus membeli batu bara dari para pemilik tambang yang berpatokan dengan harga pasar international yang sangat fluktuatif dan tidak menentu. Akibat dari biaya produksi listrik yang mahal ini, pada akhirnya akan dibebankan kepada masyarakat sebagai pengguna listrik. Beban berat kehidupan masyarakt akan semakin bertambah dengan adanya kenaikan tarif dasar listrik.

       Pemertintah harus segera bertindak mencari solusi terbaik supaya harga listrik tidak sampai naik. Tetapi di saat yang sama pemerintah juga mengalami kesulitan dalam anggaran belanja negara. Cara supaya tarif dasar listrik tidak naik adalah dengan mensubsidi PLN supaya tidak merugi dan yang terburuk kolaps. Namun, APBN tahun 2022 bisa dipastikan tidak akan mampu jika harus mensubsidi semua kenaikan mulai dari BBM, harga gandum dan sekarang harga batu bara untuk listrik PLN.

    1. Naiknya harga kebutuhan pokok.

       Sebelum meletusnya krisis antara Ukraina dan Rusia, sejatinya Indonesia telah mengalami krisis kenaikan harga kedelai di pasaran yang mengakibatkan para pengrajin tahu dan tempe memilih berhenti berproduksi sebagai protes karena sudah tidak mampu lagi dengan biaya produksi yang tinggi dan terus merugi.

       Belum selesai harga kedelai di pasaran yang meroket, kini muncul masalah baru yaitu kelangkaan minyak goreng yang terjadi di hampir seluruh wilayah Indonesia. Bayangkan Indonesia adalah negeri penghasil minyak sawit terbesar di dunia tetapi mengalami kelangkaan minyak goreng di dalam negeri sendiri. Sungguh sebuah ironi yang sangat menyedihkan. Kelangkaan minyak goreng yang terus berlanjut membuat ibu-ibu harus rela berdesakan dan berebut untuk mendapatkan minyak goreng. Bahkan di beberapa daerah, masyarakat bahkan harus menempuh perjalanan selama 12 jam hanya untuk mendapatkan minyak goreng dan di beberapa daerah harga minyak gorang sudah melambung tinggi tak terkendali. Sungguh berat beban masyarakat saat ini yang terus mengalami himpitan dan tekanan ekonomi yang bertubi-tubi.

       Untuk mengatasi kelangkaan yang terjadi, menteri perdagangan akhirnya mengeluarkan Permendag No 6/2022 yang mengatur tentang harga eceran tertinggi minyak goreng guna menstabilkan harga di pasaran. Tetapi, yang terjadi di tengah masyarakat dengan diberlakukannya harga eceran tertinggi adalah hilangnya minyak goreng dari pasaran. Mulai dari supermarket yang kososng, retail-retail juga mengalami hal yang sama, bahkan sampai pedagang di pasar traditional juga mengalami hal yang sama.

       Di tengah kekacauan yang terjadi, menteri perdagangan harus bisa menemukan solusi konkret dari masalah harga pangan yang membelit bangsa ini. Ditambah lagi, dalam waktu dekat akan tiba bulan Ramadhan yang biasanya segera diikuti dengan kenaikan harga-harga kebutuhan pokok. Dan yang menjadi korban adalah masyarakat ekonomi menengah ke bawah, semoga pemerintah dalam situasi yang genting dan serba susah ini dapat mengeluarkan kebijakan yang pro rakyat kecil.

    1. Inflasi akan naik dalam waktu dekat.

       Dengan melihat empat indikator ekonomi yang disebutkan di atas, bisa dipastikan Indonesia akan mengalami inflasi yang sangat buruk. Ditambah ekonomi Indonesia secara keseluruhan masih dalam proses pemulihan akibat pandemi dan sampai saat ini belum bisa kembali seperti keadaan sebelum pandemi.

       Inflasi kali ini akan benar-benar menggerus dan yang lebih buruk menghancurkan daya beli masyarakat ekonomi menengah ke bawah. Dalam waktu dekat akan terjadi banyak PHK dan pengangguran ada dimana-mana, harga-harga akan melambung tinggi tidak terkendali, turunnya nilai tukar mata uang rupiah terhadap dollar Amerika. Dan semua ini akan menjadi bencana ekonomi terburuk yang pernah terjadi dalam perjalanan bangsa Indonesia.

       Kemudian solusi apa yang bisa dilakukan pemerintah saat ini untuk menghindarkan krisis ekonomi yang akan terjadi dalam waktu dekat. Jika pemerintah menggunakan APBN 2022 untuk memberi subsidi, menstabilkan harga-harga, memompa daya beli kalangan ekonomi bawah dengan bantuan tunai supaya roda perekonomian bisa terus berputar. Namun, beberapa langkah di atas sepertinya akan sulit dilaksanakan oleh pemerintah, mengingat APBN 2022 yang telah disahkan oleh DPR masih terdapat defisit anggaran sebesar 868 triliun rupiah. Untuk menambal defisit anggaran yang hampir mendekati 1.000 triliun, pemerintah mau tidak mau harus menambah utang lagi dengan bunga yang sangat tinggi atau kembali menerbitkan SUN (Surat Utang Negara) dengan bunga yang tinggi pula.

       Lalu, bagaimana pemerintah menutupi selisih harga minyak mentah dunia yang telah melampaui target yang telah ditetapkan dalam APBN 2022? Apakah pemerintah akan merefocusing anggaran dalam waktu dekat? Mengurangi belanja modal yang tidak perlu? Atau menghentikan seluruh pekerjaan infrastruktur yang sedang berjalan saat ini, termasuk menghentikan pembangunan IKN (Ibu Kota Baru)? Atau pemerintah dengan terpaksa menaikkan harga BBM bersubsidi dalam negeri sesuai dengan harga pasar? Dan pilihan terakhir, pemerintah mengurangi kuota impor minyak mentah untuk menekan biaya supaya APBN tidak kolaps. Tetapi dengan konsekuensi akan terjadi kelangkaan BBM di SPBU dan antrian kendaraan masyarakat dimana-mana.

       Saat ini pemerintah sedang menghadapi situasi yang sangat berat dan mengkhawatirkan. Pemerintah harus mengeluarkan kartu AS sebagai solusi terakhir guna menghindarkan krisis ekonomi yang akan terjadi. Pemerintah Indonesia tidak pernah menyangka akan pecahnya krisis Ukraina dan Rusia di awal tahun 2022. Yang mana, dampak krisis ini langsung menghantam ekonomi Indonesia. Entah sampai berapa lama ekonomi Indonesia beserta APBN 2022 bisa bertahan di tengah ketidakpastian global dan ancaman perang nuklir.

       Apakah ekonomi Indonesia akan terpuruk dan terjun bebas menuju jurang kehancuran, dan proyeksi pertumbuhan ekonomi yang dicanangkan pemerintah sebesar 5% tahun ini hanya akan menjadi bunga mimpi. Waktulah yang akan menjawabnya dalam beberapa minggu atau beberapa bulan ke depan.

     

    Ikuti tulisan menarik Frank Jiib lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.