Dimensi Psikologis dari Sholat - Analisis - www.indonesiana.id
x

Irfansyah Masrin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 10 Januari 2020

Sabtu, 19 Maret 2022 09:29 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Dimensi Psikologis dari Sholat

    Membahas tentang berbagai dimensi lain dari sholat, tidak hanya tentang dimensi spiritual tapi juga tentang dimensi psikologis bahkan dimensi sosial.

    Dibaca : 902 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Secara etimologi sholat dimaknai sebagai doa. Sedangkan pada sudut pandang epistemologi sholat bermakna ucapan dan perbuatan yang dimulai dengan niat dan diakhiri salam. 

     

    Namun lebih jauh lagi sholat adalah implementasi ketundukan dan penghambaan manusia kepada Tuhannya. Sejauh mana ketaatan hamba pada apa yang telah ditetapkan Tuhannya melalui kitab dan sumber rujukan terpercaya seperti Al-Qur'an dan Al hadits.

     

    Jika kita menelisik lebih jauh tentang sholat. Kita akan temukan bahwa sholat bukan hanya ritual ibadah saja. Tapi mengandung nilai-nilai hidup sebagai self reminded, merefleksikan sekaligus penyadaran psikologis pada setiap diri manusia tentang kehidupan. Di dalamnya terdapat ucapan dan gerakan yang memiliki makna tersendiri sebagai bagian dari falsafah hidup.

     

    Pemaknaan sholat sejatinya adalah pendalaman psikologis tentang interpretasi dari ucapan dan gerakan-gerakan sholat. Setiap ucapan dimaknai sebagai ikrar dan permohonan. Gerakan sholat juga bermakna ketundukan dan penghambaan. Di sisi lain gerakan sholat dapat dimaknai sebagai interpretasi dari kondisi sosial kehidupan manusia.

     

    Pada awal sholat dimulai dengan niat menandakan bahwa segala aktivitas dan perilaku manusia memang harus dasarkan pada niat. Niat juga bermakna motivasi atau dorongan seseorang sebelum melakukan sesuatu. Dalam sholat niat ini menjadi hal mendasar untuk apa dan kepada siapa sholat ini dilakukan.

     

    Pada gerakan takbir yang disertai dengan tangan diangkat bermakna penyerahan sekaligus pengakuan bahwa hanya Allah yang maha besar dan tidak ada yang mampu menandingi kebesaran dan kekuasaan Allah. Lalu berlanjut pada doa iftitah adalah bermakna kemurnian daripada pengakuan akan satu-satunya Allah sebagai Tuhan yang berhak disembah tanpa menduakanNya dan keyakinan bahwa kehidupan, kematian dan apa yang ada di antaranya telah diatur olehNya.

     

    Pada surah Al-fatihah berisi tentang pujian, harapan dan permohonan hamba kepada Allah. Kemudian pada gerakan rukuk dimaknai sebagai Kerendahan manusia di hadapan Allah sebagai Tuhan yang maha tinggi derajatnya. Bacaannya pun bermakna pujian atas asma-asma dan sifat Allah. Demkian pada gerakan i'tidal adalah pengkonfirmasian bahwa Allah senantiasa mendengar hamba-hamba yang senantiasa memujinya.

     

    Gerakan sujud diimplementasikan daripada ketundukan, ketaatan, penghambaan dan permohonan hamba yang serendah rendahnya kepada Allah. Bersimbol bahwa segala harapan dan permohonan hamba harus dicapai melalui kemurnian pengorbanan hamba yang sebesar besarnya, hingga mengharuskan hamba untuk sujud kepada sang Khaliq. Maka selepas dari kemurnian pengorbanan hamba itulah baru kemudian Allah mengabulkan segala permohonan hamba.

     

    Kemudian pada gerakan duduk di antara dua sujud berisi doa-doa hamba kepada Allah. Lalu menjelang akhir gerakan sholat berlanjut pada gerakan tahiyat dimaknai sebagai pengkonfirmasian lagi tentang penghormatan, pengorbanan dan kemurnian atas pengakuan terhadap kekuasaan, kebesaran dan ketinggian Allah dan Rasul-Nya sebagai satu-satunya yang berhak diakui.

     

    Diakhiri salam sebagai implementasi sosial. Saat menengok ke kiri dan kenan dimaknai sebagai kepedulian seseorang terhadap sesama. Setelah manusia berhubungan baik dengan Al-khaliq (Hubungan vertikal) manusia juga harus berhubungan baik terhadap manusia-manusia lain (Hubungan horizontal).

     

    Tidak cukup sampai di situ, terdapat dimensi psikologis yang lebih jauh kaitannya dengan sholat. Sebagai relaksasi, meditasi, media penyaluran (katarsis) dan sebagai sarana pembentukan kepribadian atau karakter baik pada diri seseorang.

     

    Sholat sebagai relaksasi dapat dibedakan kedalam dua hal yaitu relaksasi otot yang secara fisik adalah berolahraga dan pada sisi lain adalah relaksasi kesadaran indera, yaitu imajinasi seseorang membayangkan dirinya pada tempat-tempat yang indah atau yang lebih dalam lagi adalah imajinasi seseorang bertemu atau melihat wajah Tuhannya. Sehingga seseorang yang sholat hanya berpikir ketenangan hidup pada suatu tempat yang sulit dibayangkan oleh seseorang di luar sholat.

     

    Pada aspek ini menunjukkan adanya dialog antara hamba dengan Khaliq. Sehingga seseorang tidak merasa kesepian. Maka tidak heran ketika seorang Rabiah Al-Adawiyah memilih sholat daripada surga, karena dalam sholat ia merasa bersama Allah. Proses inilah yang disebut lebih mirip sebagai proses relaksasi kesadaran Indra.

     

    Meditasi saat sekarang telah menjadi trend hidup di berbagai negara. Tidak heran banyak yang membentuk komunitas-komunitas meditasi dan yoga. Di negara-negara barat yang notabene tidak beragama, atau beragama namun tidak paham tentang kebermaknaan agamanya. mereka mencari ketenangan dan kedamaian lain, salah satunya adalah melalui meditasi dan yoga. Yaitu proses menenangkan pikiran dan emosional dengan bantuan musik yang tenang atau dalam bentuk kata-kata indah dan bijak. Bahkan meditasi ini seringkali tidak membutuhkan media bantu apapun kecuali hanya perlu berada di tempat yang tenang.

     

    Sholat juga memiliki efek seperti meditasi atau yoga. Bahkan merupakan meditasi tingkat tinggi jika dilakukan dengan benar dan khusyuk. Efek ketenangan dalam sholat tidak hanya berlaku secara temporal, namun berefek pada ketenangan hati dan pikiran, sehingga hati dan pikiran yang tenang akan menghasilkan perilaku yang tenang. Sebagaimana dalam Qur'an dikatakan "Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang". Salah satu untuk mencapai ketenangan tersebut adalah melalui sholat.

     

    Sholat adalah media komunikasi hamba dengan Allah. Di dalamnya terdapat pengakuan dan penyaluran hamba dari berbagai masalah yang dihadapi, juga sarana untuk curhat dan meluapkan segala persoalan hidup dengan penuh harap. Karena ketika tidak ada lagi tempat bagi hamba untuk berharap maka cukuplah seorang hamba berharap pada Tuhannya. Bahkan seringkali pada aspek ini seseorang akan menangis saat meluapkan segala masalah ketika sholat atau selesai sholat. Karena sholat sangat sesuai sebagai sarana penyaluran seseorang (katarsis)

     

    Sholat juga sebagai sarana pembentukan kepribadian baik pada diri seseorang. Seseorang yang taat dan disiplin dalam sholatnya, akan berpengaruh pada sikap disiplin seseorang dalam hal apapun di kehidupannya. Demikian pula sholat membentuk karakter yang bersih, karena seseorang yang sholat dituntut untuk bersih dan suci dan kebiasaan itu akan terbawa dalam kehidupan sehari-hari.

     

    Seseorang yang sholat akan terbiasa berkata-kata yang baik dan senantiasa membawa pesan-pesan yang mencerahkan. Karena efek sholat menenangkan hati dan pikiran sehingga akan terbentuk pada sikap dan kebiasaan yang tenang pula, baik dalam bertutur kata maupun dalam tindakan.

     

    Di sisi lain efek sholat dalam pembentukan pribadi seseorang adalah membuat seseorang mampu mengontrol dirinya dari hal-hal negatif. Penulis pernah meneliti tentang "Hubungan antara sholat dengan kontrol diri". Penelitian ini dilakukan oleh penulis pada saat menyelesaikan tugas akhir kuliah jenjang Strata satu (S1). Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa ada hubungan yang positif antara sholat dengan kontrol diri pada seseorang. Semakin disiplin seseorang dalam sholatnya dan memaknai secara mendalam yang menjadi landasan dan tujuan sholat, maka akan semakin tinggi tingkat kontrol diri seseorang dari hal-hal negatif. 

     

    Pada akhirnya sholat tidak hanya sebagai ritual ibadah sebuah agama. Namun pada dimensi spiritual dan psikologis sholat dapat memberikan efek positif pada diri dan kehidupan seorang Muslim. Maka tidak ada alasan bagi seseorang meninggalkan sholat atau bahkan ia akan menjadi orang yang merugi tatkala tidak pernah melaksanakan sholat. Semoga bermanfaat.

     

     

    Ikuti tulisan menarik Irfansyah Masrin lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.